Idul Fitri Jadi Momentum Kembali ke Fitrah bagi Muhammadiyah Loteng
- 20 Mar 2026 18:34 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Tengah — Ribuan jamaah Muhammadiyah di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) melaksanakan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di tiga titik, Jumat 20 Maret 2026. Pelaksanaan ibadah tersebut tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga dimaknai sebagai momentum spiritual untuk kembali kepada fitrah dan memperkuat ketakwaan.
Shalat Idul Fitri digelar di halaman Kantor Muhammadiyah Praya, Masjid Darul Falah, serta Masjid Darussalam di Kecamatan Kopang, yang diikuti dengan penuh khidmat oleh jamaah dari berbagai wilayah.
Pengurus Muhammadiyah Lombok Tengah yang juga bertindak sebagai khatib, Nasri Anggaran, menyampaikan bahwa Idul Fitri memiliki makna mendalam sebagai titik awal memperbaiki diri setelah sebulan menjalani ibadah puasa Ramadan.
“Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk kembali kepada fitrah, menjadi pribadi yang lebih suci dan meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT,” ujarnya Jumat 20 Maret 2026.
Ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi ibadah dan amal saleh setelah Ramadan, serta mengintegrasikan peran manusia sebagai hamba Allah (Abdullah) dan khalifah di muka bumi (Khalifatullah). Nilai-nilai Islam berkemajuan yang rahmatan lil ‘alamin juga harus terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, Idul Fitri harus menjadi pengingat bagi setiap muslim untuk terus menjaga kebersihan hati, mempererat silaturahmi, serta menumbuhkan kepedulian sosial dan lingkungan.
“Momentum ini mengajarkan kita untuk tetap istiqomah dalam ibadah seperti shalat, tadarus, dan sedekah, serta konsisten dalam menebar kebaikan, bukan hanya saat Ramadan,” katanya.
Selain itu, ia juga mengajak jamaah untuk saling memaafkan dan menghilangkan rasa kebencian, sehingga Idul Fitri benar-benar menjadi ajang rekonsiliasi dan memperkuat persaudaraan.
Dalam konteks perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah, ia mengingatkan pentingnya menjaga toleransi dan saling menghormati antar sesama umat Islam.
“Idul Fitri adalah milik seluruh umat Islam. Meski ada perbedaan waktu pelaksanaan, kita harus tetap menjaga toleransi, termasuk menghormati saudara kita yang masih menjalankan puasa,” ujarnya.
Ia juga mengimbau jamaah agar menjaga sikap di ruang publik dengan tidak makan dan minum secara terbuka, sebagai bentuk penghormatan kepada umat Islam yang masih berpuasa mengikuti ketetapan pemerintah.
Diketahui, Pemerintah melalui Kementerian Agama RI menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, berdasarkan hasil sidang isbat dan rukyatul hilal yang belum memenuhi kriteria visibilitas hilal.
Dengan demikian, pelaksanaan Idul Fitri oleh jamaah Muhammadiyah sehari lebih awal diharapkan tetap menjadi bagian dari kekayaan khazanah umat Islam, sekaligus memperkuat nilai toleransi, persatuan, dan semangat kembali ke fitrah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....