Ramadan Inklusif di SMKN 1 Lingsar, Festival Religi Libatkan Siswa Lintas Agama
- 03 Mar 2026 10:41 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Bulan Ramadan dimanfaatkan SMKN 1 Lingsar untuk memperkuat nilai spiritual dan toleransi. Selama satu bulan, kegiatan belajar mengajar disesuaikan dengan ritme ibadah siswa. Sekolah juga akan menggelar Festival Ramadan yang melibatkan seluruh warga sekolah tanpa terkecuali.
Kegiatan harian diawali dengan imtak selama 15 hingga 20 menit sebelum pembelajaran dimulai. Jam masuk diberlakukan pukul 08.00 WITA dan siswa pulang sekitar pukul 13.00 WITA. Sebelum pulang, siswa kembali mengikuti imtak dan salat berjamaah.
Waka Humas SMKN 1 Lingsar, Safwan, menjelaskan bahwa penyesuaian jadwal mengikuti surat edaran dinas pendidikan. Ia memastikan pembelajaran tetap berjalan efektif meski durasi dipersingkat. Menurutnya, manajemen waktu menjadi kunci keberhasilan.
“Alhamdulillah, sejauh ini aman. Walaupun jam belajar dipangkas, kita bisa menyesuaikan dengan situasi,” tuturnya, Selasa 3 Maret 2026.
Selain kegiatan rutin, sekolah akan menyelenggarakan Festival Ramadan selama sepekan. Beragam lomba bernuansa Islami digelar, mulai dari cerdas cermat, azan, hingga tilawatil Quran. Puncak acara dirangkai dengan peringatan Nuzulul Quran dan buka bersama.
Menariknya, siswa dan guru beragama Hindu juga terlibat aktif dalam rangkaian kegiatan. Mereka mengikuti lomba khusus yang difasilitasi guru agama Hindu. Kebersamaan ditutup dengan buka bersama di lingkungan sekolah.
Kepala SMKN 1 Lingsar, Ahmad Sabli, S.Pd., menegaskan bahwa semangat inklusivitas menjadi prinsip utama. Menurutnya, Ramadan bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga ruang memperkuat toleransi.
“Kita ingin semua merasa menjadi bagian dari sekolah. Walaupun kegiatannya berbeda, puncaknya tetap kebersamaan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa partisipasi lintas agama mencerminkan harmoni sosial di lingkungan sekolah. Selama festival, tidak ada pihak yang menjadi penonton semata. Semua diberikan ruang berekspresi sesuai keyakinannya.
Tantangan utama selama Ramadan justru datang dari faktor cuaca. Banyak siswa berasal dari daerah pelosok dengan akses jalan yang terbatas. Saat hujan turun sejak pagi, sebagian siswa terlambat hadir.
“Kalau hujan, kita maklumi. Yang penting mereka tetap datang dan mengikuti kegiatan,” kata Ahmad Sabli.
Melalui pendekatan religius dan inklusif ini, SMKN 1 Lingsar berupaya membentuk karakter spiritual sekaligus sosial siswa. Ramadan tidak hanya menjadi rutinitas ibadah, tetapi sarana pendidikan nilai toleransi dan kebersamaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....