Tiga Puluh Hari Puasa, 30 Hari Makan Sepat
- 13 Mar 2026 14:09 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Sumbawa - Di tanah Sumbawa, bulan Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Tetapi juga tentang menghadirkan kembali cita rasa yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakatnya.
Salah satu hidangan yang hampir selalu hadir di meja makan adalah sepat yakni, masakan berkuah khas Sumbawa yang segar. Masakan ini adalah perpaduan antara ikan bakar, terong, tomat, dan kuah berbumbu yang ringan namun kaya rasa. Kesederhanaannya justru menjadi kekuatan. Sepat menyegarkan tubuh setelah seharian berpuasa, sekaligus mengingatkan pada kedekatan masyarakat Sumbawa dengan laut dan alam sekitarnya.
Tak heran jika di tengah masyarakat Sumbawa beredar ungkapan yang akrab didengar setiap Ramadan “30 hari puasa, 30 hari makan sepat.” Ungkapan ini bukan sekadar gurauan, melainkan gambaran nyata betapa lekatnya hidangan ini dengan tradisi berbuka puasa. Sepat menjadi menu yang seolah tak pernah membosankan, selalu dirindukan, dan hampir selalu ada di dapur-dapur rumah selama bulan suci.
| Baca juga: Keutamaan Sahur di Bulan Ramadan |
Seperti disampaikan Immas Arsyanti, salah seorang ibu rumah tangga di Kota Sumbawa. Sepat sendiri bukan sekedar hidangan, namun tradisi yang selalu ada setiap Ramadan.
"Kalau berbuka puasa di rumah, setiap hari suami saya minta dibuatkan sepat," ujarnya.
Menurutnya, berbuka puasa tanpa sepat, rasanya seperti ada sesuatu yang kurang di meja makan. Karena, setiap tahun saat Ramadan, hidangan tersebut selalu ada.
Hidangan ini bukan ada hanya saat dia sudah berumah tangga. Hidangan ini bahkan selalu ada sejak dia masih tinggal bersama orang tuanya.
"Sejak zaman kakek dan nenek saya masih ada, sepat ini tetap jadi yang utama saat berbuka. Apalagi kalau keluarga besar sedang ngumpul untuk berbuka puasa, sepat harus ada," imbuhnya.
Untuk membuat hidangan ini, caranya cukup sederhana. Menurut salah seorang pedagang masakan tradisional Sumbawa yang cukup ternama, Nurmah, hidangan sepat sendiri dibuat dari berbagai bahan. Seprti cabai, bawang merah, bawang putih, garam, kemiri, belimbing wuluh, terong, jeruk purut dan ikan.
"Untuk ikannya sendiri, kami biasa menggunakan ikan laut. Tapi yang paling penting, ikannya harus segar," terangnya.
Kemudian, semua bumbu tersebut dibakar dan dihaluskan. Bumbu itu kemudian dicampur dengan air matang. Terakhir, untuk menambah cita rasa dan aroma yang menggugah selera, kuah sepat ditambahkan daun kemangi.
"Sepat juga ada berbagai jenis. Ada yanv pakai asam, ada juga yang pakai santan," jelas Nurmah.
Setiap hari, sepat selalu menjadi laris manis di lapaknya. Dia sendiri biasanya mulai berjualan sekitar pukul 15.00 Wita. Namun, hanya satu jam saja, sepat pasti langsung habis.
"Bisa dibilang sepat itu best seller di sini. Pasti tetap habis," tuturnya.
Bagi masyarakat Sumbawa, menikmati sepat saat berbuka bukan hanya soal mengisi perut setelah seharian berpuasa. Ia adalah bagian dari kebiasaan turun-temurun, simbol kebersamaan keluarga, dan penanda bahwa Ramadan sedang dijalani dengan cara yang akrab dan penuh rasa. Dari satu mangkuk sepat, tersimpan cerita tentang tradisi, selera, dan identitas kuliner masyarakat Sumbawa yang tetap hidup dari generasi ke generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....