Puasa Masih Suka Gibah Batal Nggak Sih?
- 28 Feb 2026 14:13 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Suasana Ramadan terasa lebih hidup lewat program On Air Tauladan (Tanya Ustadz di Bulan Ramadan) Pro 2 FM RRI Mataram. Dalam salah satu topik yang dibahas mengenai “Puasa masih suka gibah, batal nggak?” Narasumber yang hadir adalah Ustadz Ibnu Aqil, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Mataram, yang akrab disapa Ustadz Ibnu.
Di awal perbincangan, Ustadz Ibnu menjelaskan makna gibah. Secara sederhana, gibah adalah membicarakan keburukan atau aib orang lain yang jika orang tersebut mendengarnya ia tidak suka. Meski yang dibicarakan itu benar adanya, tetap saja termasuk gibah. Jika tidak benar, maka jatuhnya menjadi fitnah yang dosanya lebih besar. Dalam konteks kehidupan sosial, gibah sering dianggap hal sepele karena kerap terjadi dalam obrolan santai, padahal dampaknya serius secara spiritual.
| Baca juga: Sikat Gigi dan Berkumur Membatalkan Puasa? |
Lalu, apakah gibah membatalkan puasa? Ustadz Ibnu menegaskan bahwa gibah memang tidak membatalkan puasa secara hukum fikih. Artinya, puasa seseorang tetap sah dan tidak perlu diganti. Namun, gibah dapat menghilangkan pahala puasa. Ia mengingatkan, jangan sampai seseorang berpuasa seharian tetapi yang didapat hanya lapar dan dahaga semata karena pahala puasanya terkikis oleh perilaku lisan yang tidak terjaga.
Pengaruh gibah terhadap puasa bukan hanya pada berkurangnya pahala, tetapi juga pada kualitas ibadah itu sendiri. Puasa sejatinya melatih pengendalian diri, termasuk menjaga lisan, pikiran, dan hati. Ketika seseorang masih gemar membicarakan keburukan orang lain, maka tujuan puasa sebagai sarana penyucian diri belum sepenuhnya tercapai. Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, melainkan juga menahan diri dari perbuatan yang merusak nilai ibadah.
| Baca juga: Mencicipi Makanan saat Berpuasa, Batalkah? |
Ustadz Ibnu juga memaparkan dampak gibah dalam kehidupan sosial. Selain berdosa, gibah bisa merusak hubungan pertemanan, menimbulkan prasangka, bahkan memicu konflik. Di lingkungan kerja, keluarga, maupun pergaulan sehari-hari, kebiasaan gibah dapat menciptakan suasana tidak nyaman dan saling curiga. Karena itu, menjaga lisan menjadi kunci penting untuk menjaga harmoni.
Terkait cara mengatasi kebiasaan gibah, Ustadz Ibnu menyarankan beberapa langkah sederhana namun konsisten. Pertama, menyadari bahwa setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban. Kedua, mengisi waktu dengan aktivitas yang bermanfaat, terutama di bulan Ramadan seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau mengikuti kajian. Ketiga, memilih lingkungan pergaulan yang mendukung untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.
Ia juga memberikan nasihat praktis saat seseorang terjebak dalam situasi gibah. Jika berada di tengah obrolan yang mulai membicarakan keburukan orang lain, lebih baik diam, mengalihkan topik pembicaraan, atau bahkan menghindar dan pergi dari tempat tersebut. Sikap ini bukan berarti sombong, melainkan bentuk ikhtiar menjaga diri agar ibadah tetap bernilai.
Ustadz Ibnu mengajak untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri, termasuk memperbaiki lisan. Jangan sampai puasa yang dijalani sebulan penuh hanya menghasilkan rasa haus dan lapar tanpa pahala yang maksimal. Menahan lisan dari gibah adalah bagian penting dari kesempurnaan puasa dan cerminan ketakwaan yang ingin diraih di bulan suci.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....