Mengenal Onde Onde Camilan Tradisional Kaya Sejarah dan Gizi

  • 30 Jul 2026 07:02 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Onde onde berasal dari kudapan Tiongkok jian dui yang kemudian berkembang menjadi jajanan tradisional khas Indonesia.
  • Isian onde onde kini semakin beragam, mulai dari kacang hijau, ubi ungu, cokelat, keju, hingga varian modern seperti mozzarella dan lotus biscoff.
  • Tepung ketan, kacang hijau, dan wijen membuat onde onde mengandung karbohidrat, protein nabati, serat, vitamin, dan mineral, namun tetap dianjurkan dikonsumsi secukupnya.

RRI.CO.ID, Mataram - Onde onde merupakan salah satu jajanan tradisional yang telah lama menjadi bagian dari kekayaan kuliner Nusantara. Camilan berbentuk bulat dengan balutan biji wijen ini dikenal memiliki kulit yang renyah saat digigit, tetapi tetap kenyal di bagian dalam.

Cita rasanya yang khas membuat onde onde tetap digemari oleh berbagai kalangan dan mudah ditemukan di pasar tradisional, toko kue, hingga pusat oleh-oleh di berbagai daerah.

Merujuk Encyclopaedia Britannica serta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, onde onde dipercaya berasal dari kudapan khas Tiongkok bernama jian dui yang telah dikenal sejak masa Dinasti Tang pada abad ke-7 hingga ke-10. Melalui jalur perdagangan dan migrasi, makanan tersebut menyebar ke berbagai negara Asia, termasuk Indonesia. Di Nusantara, onde onde kemudian berkembang dengan ciri khas menggunakan isian pasta kacang hijau manis dan menjadi salah satu hidangan yang kerap disajikan dalam acara keluarga, perayaan, maupun tradisi masyarakat.

Onde onde dibuat dari adonan tepung ketan yang dicampur gula dan air hingga kalis. Adonan kemudian diisi, dibentuk bulat, dilapisi biji wijen, lalu digoreng dengan suhu yang tepat hingga berwarna kuning keemasan. Proses tersebut menghasilkan perpaduan tekstur renyah di bagian luar dan lembut di bagian dalam yang menjadi ciri khas jajanan ini.

Perkembangan dunia kuliner menghadirkan beragam inovasi isian onde onde. Selain kacang hijau yang menjadi varian klasik, kini tersedia pilihan isian seperti kacang merah, ubi ungu, cokelat lumer, keju, durian, matcha, kacang tanah, wijen hitam, hingga varian kekinian seperti mozzarella, lotus biscoff, dan selai kacang. Inovasi tersebut membuat onde onde mampu mengikuti selera masyarakat tanpa meninggalkan identitasnya sebagai jajanan tradisional.

Onde onde mengandung karbohidrat dari tepung ketan yang berfungsi sebagai sumber energi. Isian kacang hijau menyumbang protein nabati, serat, folat, vitamin B kompleks, zat besi, magnesium, dan kalium, sedangkan biji wijen mengandung lemak tak jenuh, kalsium, fosfor, vitamin E, serta antioksidan alami yang bermanfaat untuk membantu menjaga kesehatan tulang, jantung, dan fungsi tubuh.

Sesuai Pedoman Gizi Seimbang Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, onde onde tetap perlu dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Proses penggorengan serta penggunaan gula pada isiannya membuat camilan ini mengandung kalori yang cukup tinggi. Menjadikannya sebagai camilan sesekali dan diimbangi dengan pola makan bergizi seimbang serta aktivitas fisik yang rutin merupakan pilihan yang lebih baik.

Onde onde bukan sekadar camilan, tetapi juga bagian dari warisan kuliner yang mencerminkan akulturasi budaya dan kekayaan tradisi Indonesia. Perpaduan sejarah panjang, cita rasa khas, inovasi isian, serta kandungan gizinya menjadikan onde onde tetap relevan dan layak dilestarikan sebagai salah satu kuliner tradisional kebanggaan Nusantara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....