Bukan Terbuat dari Salak! Ini Asal-Usul Nama Biji Salak yang Sering Disalahpahami
- 27 Jun 2026 17:30 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Mendengar nama biji salak, banyak orang langsung membayangkan biji dari buah salak yang dimasak menjadi makanan penutup. Padahal, anggapan itu sama sekali tidak benar. Faktanya, kuliner tradisional ini tidak menggunakan buah salak, apalagi bijinya. Lalu, mengapa makanan yang terbuat dari ubi jalar ini justru dinamakan biji salak?
Manis, Kenyal, dan Selalu Dirindukan
Biji salak merupakan salah satu hidangan penutup tradisional Indonesia yang telah lama menjadi favorit masyarakat. Makanan ini terbuat dari ubi jalar yang dihaluskan, dicampur tepung tapioka atau sagu, kemudian dibentuk bulat-bulat kecil. Bola-bola ubi tersebut direbus hingga mengapung, lalu disajikan bersama kuah gula merah yang harum dan kental. Sebagai pelengkap, santan gurih dituangkan di atasnya sehingga menghasilkan perpaduan rasa manis dan gurih yang khas. Teksturnya yang kenyal berpadu dengan lembutnya ubi membuat setiap suapan terasa hangat dan menenangkan.
Mengapa Disebut Biji Salak?
Nama "biji salak" ternyata berasal dari bentuknya. Setelah direbus, bola-bola ubi berwarna cokelat keemasan itu memiliki ukuran dan bentuk yang menyerupai biji buah salak. Karena kemiripan itulah masyarakat kemudian menyebutnya sebagai biji salak. Jadi, nama tersebut hanyalah sebuah perumpamaan, bukan menunjukkan bahan utamanya.
Hidangan yang Identik dengan Bulan Ramadan
Di banyak daerah di Indonesia, biji salak menjadi salah satu menu yang hampir selalu hadir saat bulan Ramadan. Rasa manis dari gula merah dipercaya mampu mengembalikan energi setelah seharian berpuasa, sementara santan memberikan rasa gurih yang membuat hidangan ini semakin nikmat. Tak heran jika banyak pedagang takjil selalu menyediakan biji salak sebagai salah satu menu andalan. Namun sebenarnya, makanan ini cocok dinikmati kapan saja, terutama saat cuaca dingin atau hujan.
Kaya akan Ubi Jalar yang Bergizi
Selain lezat, biji salak juga memiliki nilai gizi berkat bahan utamanya, yaitu ubi jalar. Ubi jalar mengandung karbohidrat kompleks, serat, vitamin A, vitamin C, serta berbagai antioksidan yang baik untuk tubuh. Meski demikian, karena menggunakan gula merah dan santan, biji salak tetap sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah yang wajar, terutama bagi mereka yang sedang menjaga asupan gula.
Variasi yang Terus Berkembang
Seiring perkembangan dunia kuliner, biji salak kini hadir dalam berbagai kreasi. Ada yang menggunakan ubi ungu sehingga warnanya lebih menarik. Ada pula yang memakai ubi kuning atau ubi oranye untuk menghasilkan rasa yang lebih manis alami. Beberapa kreasi modern bahkan menambahkan topping seperti keju, kelapa muda, atau es batu sehingga dapat dinikmati sebagai hidangan penutup yang lebih segar. Meski tampil lebih modern, cita rasa khas gula merah dan santan tetap menjadi identitas yang tidak tergantikan.
Warisan Kuliner yang Layak Dilestarikan
Di tengah menjamurnya dessert modern dari berbagai belahan dunia, biji salak membuktikan bahwa kuliner tradisional Indonesia tetap memiliki tempat istimewa. Dengan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan, makanan ini mampu menghadirkan rasa yang kaya sekaligus menyimpan cerita tentang kreativitas masyarakat Nusantara. Semangkuk biji salak bukan hanya menawarkan kelezatan. Ia juga mengingatkan bahwa warisan kuliner terbaik sering lahir dari bahan yang sederhana, diolah dengan penuh ketelatenan, lalu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itulah, biji salak bukan sekadar makanan penutup. Ia adalah bagian dari kekayaan rasa dan budaya Indonesia yang patut terus dijaga dan dinikmati.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....