Tracing TB di Lombok Tengah, Temukan 17 Kasus Positif

  • 13 Sep 2026 15:06 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Tengah — Upaya menemukan kasus tuberkulosis atau TB di Kabupaten Lombok Tengah terus dilakukan dengan turun langsung ke desa-desa. Hingga pekan pertama pelaksanaan tracing, petugas menemukan sekitar 17 kasus TB positif di tiga wilayah kecamatan.

Kepala Bidang P3KL Dinas Kesehatan Lombok Tengah, Putrawangsa, mengatakan tracing saat ini dilakukan di wilayah selatan, meliputi Kecamatan Pujut, Praya Barat, dan Praya Barat Daya.

Dalam sehari, petugas menyasar tiga lokasi di tiga wilayah kerja puskesmas. Tracing dilakukan dengan mendatangi langsung masyarakat dan diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis atau CKG.

“Sekarang masih berproses. Hari ini teman-teman ada di Mekarsari, Tanak Rarang, dan Bangkapara. Setiap hari ada tiga titik yang dilakukan tracing untuk TB,” kata Putrawangsa belum lama ini.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menyasar warga yang datang ke fasilitas kesehatan, tetapi dilakukan dengan pola jemput bola untuk menemukan kasus TB yang selama ini belum terdeteksi.

“Fokusnya adalah bagaimana menemukan kasus TB baru. Alhamdulillah sampai dengan satu minggu pertama ini sudah ditemukan sekitar 17 kasus TB positif di tiga desa,” ujarnya.

Putrawangsa menilai angka tersebut cukup tinggi jika dibandingkan dengan pola penemuan kasus pada tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, tracing akan terus diperluas hingga November 2026.

“Biasanya dalam satu minggu paling tinggi kasusnya antara sepuluh atau di bawah sepuluh. Kalau kita perluas tempat tracing, kita yakin kasus akan ditemukan,” katanya.

Pemkab Lombok Tengah menargetkan 70 hingga 80 persen perkiraan kasus TB baru dapat ditemukan dan ditangani pada 2026. Berdasarkan perhitungan, terdapat sekitar 3.712 kasus TB yang menjadi target penemuan sepanjang tahun ini.

Hingga akhir Juli 2026, jumlah kasus TB yang telah ditemukan di Lombok Tengah mencapai sekitar 712 kasus.

Putrawangsa menjelaskan, penemuan kasus menjadi penting karena TB merupakan penyakit menular yang membutuhkan pengobatan dan pendampingan dalam waktu cukup panjang.

Pasien yang dinyatakan positif TB harus segera mendapatkan pengobatan dan pendampingan agar tidak menularkan penyakit kepada orang lain.

“Begitu orang ditemukan TB positif, dia harus melakukan pengobatan langsung. Kemudian paling tidak dilakukan pendampingan dan kalau bisa isolasi mandiri di rumah, jangan campur lagi dengan keluarganya yang lain, sehingga penularan bisa ditekan,” jelasnya.

Ia menyebut, kasus TB di Lombok Tengah banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, terutama usia 25 hingga 50 tahun.

Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, dan batuk berdarah. Warga dengan gejala tersebut dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Sementara itu, pelaksanaan tracing masih menghadapi keterbatasan peralatan. Dinas Kesehatan Lombok Tengah masih menunggu bantuan alat radiologi portabel dari pemerintah pusat yang diperkirakan tiba pada awal Oktober 2026.

“Kalau sampai dengan hari ini masih kurang, karena kita sebetulnya menunggu alat radiologi portable dari pusat. Perkiraannya akan datang awal Oktober,” ungkapnya.

Putrawangsa mengatakan, berdasarkan penemuan kasus TB, Lombok Tengah saat ini berada di urutan kedelapan dari 10 kabupaten/kota di NTB.

Meski demikian, ia menegaskan rendahnya angka penemuan tidak berarti kasus TB tidak ada. Justru tracing secara aktif diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya di masyarakat.

“Dalam kasus TB kita tidak bisa berdalih, ‘oh tidak ada kasusnya’. Secara hitung-hitungan ilmiah, kasus itu sudah bisa dipastikan ada. Karena itu tracing harus dilakukan untuk menemukan dan menangani kasus sedini mungkin,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....