Stunting Lobar Turun Jadi 9,06 Persen, Dinkes Siapkan Intervensi untuk 1.800 Anak
- 18 Agt 2026 19:33 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat — Angka stunting di Kabupaten Lombok Barat menunjukkan tren penurunan pada 2026. Berdasarkan data elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) yang ditarik pada Juli 2026, prevalensi stunting di Lombok Barat tercatat 9,06 persen, turun dibandingkan angka sebelumnya sebesar 9,46 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat, Hj. Erni Suryana, S.Si., MM., menjelaskan terdapat dua rujukan data yang selama ini digunakan untuk melihat kondisi stunting, yakni Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan E-PPGBM.
Menurut Erni, SSGI merupakan data hasil survei yang tidak diperbarui setiap saat. Data terakhir yang tersedia untuk Lombok Barat berasal dari survei 2024, ketika angka stunting berada pada level 27 persen.
"Memang ada dua versi data. SSGI itu survei dan terakhir dilakukan pada 2024. Posisi kita saat itu 27 persen," ujar Erni. Jumat 14 Agustus 2026.
Sementara itu, E-PPGBM memiliki karakter berbeda karena pencatatannya dapat diperbarui secara berkala sesuai kondisi yang ditemukan di lapangan. Dari penarikan data terakhir pada Juli 2026, angka stunting Lombok Barat berada di angka 9,06 persen.
"Kalau E-PPGBM itu data real time, kapan saja bisa dilihat. Terakhir kita tarik data bulan Juli, Lombok Barat berada di posisi 9,06 persen. Sebelumnya 9,46 persen, sekarang turun menjadi 9,06 persen," katanya menegaskan.
Meski secara kabupaten mengalami penurunan, Dinas Kesehatan Lombok Barat masih memberikan perhatian terhadap sejumlah wilayah yang memiliki angka stunting relatif tinggi.
Erni menyebut Kecamatan Narmada masih menjadi wilayah dengan angka stunting yang perlu mendapat perhatian lebih serius.
Sebaliknya, kondisi di kawasan Batu Layar menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Angka stunting di wilayah tersebut telah berada di bawah rata-rata kabupaten, yakni sekitar 7 persen. Bahkan, kawasan Senggigi disebut telah mencapai sekitar 6 persen.
"Kalau angka kabupaten 9,06 persen, Batu Layar sudah sekitar 7 persen, sedangkan Senggigi malah sudah 6 persen," ucapnya.
Untuk mempercepat penurunan angka stunting, Dinas Kesehatan Lombok Barat terus memperkuat intervensi terhadap anak-anak yang masuk dalam sasaran penanganan.
Salah satu langkah yang kini dilakukan adalah pemberian susu PKMK atau Pangan untuk Keperluan Medis Khusus. Produk tersebut digunakan sebagai bagian dari intervensi gizi bagi anak dengan kondisi stunting sesuai rekomendasi Kementerian Kesehatan.
Program tersebut kini memasuki tahap kedua. Pada tahap pertama, Dinas Kesehatan Lombok Barat telah memberikan intervensi kepada sekitar 1.500 anak.
Memasuki tahap berikutnya, cakupan intervensi diperluas dengan sasaran sekitar 1.800 anak.
"Kita sekarang melakukan intervensi dengan pemberian susu PKMK. Ini merupakan salah satu yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan dan memang khusus untuk anak-anak stunting," jelas Erni.
Ia menambahkan, perluasan sasaran intervensi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mempertahankan tren penurunan stunting sekaligus memastikan anak-anak yang membutuhkan mendapatkan penanganan gizi secara tepat.
"Tahap pertama kemarin sekitar 1.500 anak kita intervensi, sedangkan tahap kedua ini kita akan mengintervensi sekitar 1.800 anak dengan susu PKMK," katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....