Rokok dan Vape Sama Sama Mengancam Kesehatan Tubuh

  • 29 Mei 2026 07:37 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Talkshow Spada “Selamat Pagi Teman Pro 2” RRI Mataram, Kamis, 28 Mei 2026 pukul 09.00 - 10.00 Wita menghadirkan narasumber dr. Sahrun, Sp.P, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram, dalam pembahasan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dalam pemaparannya, dr. Sahrun menjelaskan bahwa tembakau mengandung berbagai zat berbahaya seperti nikotin, tar, karbon monoksida, amonia, formaldehida, arsenik, hingga bahan kimia toksik lainnya yang dapat merusak tubuh secara perlahan.

Dilansir dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, nikotin pada rokok dapat memicu rasa ketergantungan karena merangsang produksi dopamin di otak. Dopamin memberikan sensasi tenang dan nyaman sehingga membuat perokok merasa sulit lepas dari rokok. Padahal, hormon bahagia tersebut sebenarnya dapat diproduksi secara alami melalui olahraga, tidur cukup, dan aktivitas sehat lainnya.

Menurut dr. Sahrun, penggunaan vape juga bukan solusi aman untuk menggantikan rokok konvensional. Vape tetap mengandung zat kimia dalam bentuk cairan yang ketika dipanaskan menghasilkan paparan berbahaya bagi paru-paru dan tubuh.

“Vape hanya membedakan sensasi dan gaya, tetapi dampaknya tetap sama terhadap kesehatan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti tingginya angka perokok usia muda. Sekitar 60 persen perokok mulai terpapar rokok sejak usia pelajar atau di bawah 18 tahun. Faktor lingkungan menjadi penyebab terbesar, mulai dari orang tua, saudara, tetangga, hingga teman pergaulan yang juga merokok sehingga perilaku tersebut dianggap normal oleh remaja.

Dr. Sahrun menjelaskan bahwa berhenti merokok memang tidak mudah karena tubuh sudah terbiasa menerima lonjakan dopamin dari nikotin. Saat seseorang berhenti secara mendadak, kadar dopamin dapat turun drastis sehingga memicu stres, gelisah, frustrasi, dan rasa tidak nyaman. Karena itu, proses berhenti merokok perlu dilakukan secara bertahap dan konsisten.

Beberapa teknik yang bisa diterapkan antara lain mengurangi jumlah rokok harian secara perlahan, misalnya dari satu bungkus menjadi setengah bungkus per hari. Ada pula metode selang-seling seperti teknik 1-1, yaitu satu hari merokok lalu satu hari tidak merokok, atau teknik 2-1-1 untuk membantu tubuh beradaptasi mengurangi ketergantungan nikotin.

Di akhir talkshow, dr. Sahrun berpesan bahwa berhenti merokok memang sulit, tetapi bukan hal yang mustahil dilakukan. Menurutnya, kualitas hidup di masa tua akan jauh lebih baik tanpa rokok.

"Jangan terjebak berpikir tidak bisa beraktivitas tanpa rokok. Semua bisa berhenti asal punya niat dan tekad yang kuat,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....