Dampak El Nino, Diare dan ISPA Mulai Mengintai Warga

  • 13 Agt 2026 15:51 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Kekeringan berkepanjangan akibat fenomena El Nino berpotensi meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, terutama diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
  • Ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan vital selama periode kekeringan karena keterbatasannya berdampak pada kebutuhan minum dan kebersihan diri.
  • Praktisi kesehatan NTB mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai penyakit yang terkait dengan kekurangan air bersih dan memperhatikan kebiasaan kebersihan seperti mencuci tangan.

RRI.CO.ID, Mataram - Kekeringan berkepanjangan akibat fenomena El Nino berpotensi meningkatkan berbagai risiko kesehatan masyarakat, terutama di wilayah yang mulai mengalami keterbatasan air bersih. Praktisi kesehatan NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Menurut Nurhandini, ketersediaan air bersih menjadi salah satu kebutuhan paling vital selama periode kekeringan. Keterbatasan air tidak hanya berdampak pada kebutuhan minum, tetapi juga kebersihan diri, termasuk kebiasaan mencuci tangan.

“Kalau kita tidak minum air bersih, yang paling sering terkena adalah saluran pencernaan atau diare. Diare tidak hanya karena ketiadaan air bersih untuk diminum, tetapi ketiadaan air bersih untuk cuci tangan juga menjadi masalah karena bisa menjadi sumber penularan,” ujarnya, Kamis 13 Agustus 2026.

Ia menilai, suplai air bersih ke wilayah-wilayah yang mengalami kekurangan air perlu menjadi perhatian utama. Hal tersebut penting untuk mencegah peningkatan penyakit yang berkaitan dengan buruknya akses terhadap air dan sanitasi.

Selain diare, masyarakat juga perlu mewaspadai ISPA. Risiko tersebut dinilai meningkat ketika kondisi lingkungan kering dan berdebu, terlebih saat masyarakat mulai banyak melakukan aktivitas di luar rumah dalam rangkaian kegiatan menjelang dan saat perayaan 17 Agustus.

Nurhandini menyarankan orang tua memberikan perlindungan tambahan kepada anak-anak yang berusia di atas tiga tahun ketika harus beraktivitas di lingkungan yang banyak debu.

“Kalau memang mau dibawa pergi-pergi, banyak debu dan sebagainya, pakailah masker. Paling tidak itu untuk menghindari mereka menghirup debu-debu jalanan yang banyak karena kekeringan,” katanya.

Menurutnya, ISPA perlu ditangani dengan baik karena pada kondisi tertentu dapat berkembang menjadi pneumonia. Ia menyebut pneumonia masih menjadi salah satu kondisi yang banyak membutuhkan perawatan pada anak.

“Kalau infeksi saluran pernapasan akut tidak dikelola dengan baik, perginya nanti ke pneumonia,” ujarnya.

Nurhandini menegaskan, diare dan ISPA merupakan dua penyakit yang perlu mendapat perhatian serius selama periode kekeringan. Keduanya juga masih termasuk penyakit yang banyak ditemukan di Indonesia.

“ISPA ini adalah penyakit terbesar dari 10 penyakit utama di Indonesia, sementara diare biasanya berada di urutan tiga, empat, atau lima, tergantung daerah. Ini masih masuk 10 besar penyakit, dua-duanya,” jelasnya.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama menghadapi periode kekeringan yang berkepanjangan. Selain memastikan ketersediaan air bersih, masyarakat juga perlu menjaga kebersihan tangan, mengurangi paparan debu, serta memperhatikan kondisi kesehatan anak, terutama ketika muncul gejala gangguan saluran pernapasan.

Upaya pencegahan tersebut dinilai penting agar dampak kekeringan tidak berkembang menjadi persoalan kesehatan yang lebih besar di masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....