Mengapa Usia 20an Kini Ramai Jadi Pasien Ortopedi

  • 28 Jul 2026 08:26 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Keluhan tulang dan sendi kini tak hanya menyerang lansia. Banyak anak muda usia 20an mulai bolak balik ke dokter ortopedi. Simak penjelasan ilmiahnya.

RRI.CO.ID, Mataram: Ruang tunggu dokter ortopedi kini tidak lagi didominasi wajah wajah berusia lanjut. Banyak pasien yang datang justru masih berusia 20an. Keluhannya beragam mulai dari nyeri leher pegal punggung hingga saraf kejepit. Fenomena ini menarik perhatian dunia medis karena keluhan semacam itu dulu identik dengan proses penuaan.

Beban Kepala yang Diremehkan

Salah satu penjelasan ilmiah datang dari riset ahli bedah tulang asal New York Dr Kenneth K Hansraj yang dipublikasikan di jurnal Surgical Technology International. Menurut penelitian tersebut kepala manusia dalam posisi netral memiliki berat rata rata sekitar 4,5 sampai 5 kilogram. Namun begitu kepala menunduk beban yang ditanggung tulang leher meningkat secara eksponensial. Dikutip dari Lamina Pain and Spine Center kemiringan kepala sekitar 15 derajat saja sudah membuat beban pada leher setara 12 kilogram. Semakin dalam sudut menunduk beban itu bisa melonjak hingga 27 kilogram bahkan lebih.

Kondisi ini kemudian dikenal secara medis sebagai text neck syndrome. Menurut kajian pustaka yang dipublikasikan Jurnal Kesehatan Tambusai postur kepala yang menunduk dalam waktu lama atau forward head posture terbukti berhubungan signifikan dengan munculnya sindrom tersebut. Tekanan berulang pada tulang servikal ini dapat memicu nyeri kekakuan otot hingga perubahan lengkung alami leher jika dibiarkan bertahun tahun.

Duduk Lama dan Otot Penopang yang Melemah

Selain faktor gawai kebiasaan duduk terlalu lama juga jadi penyumbang utama. Dokter spesialis ortopaedi dan traumatologi dari Rumah Sakit Universitas Indonesia dr Latsarizul Alfariq Senja Belantara menjelaskan gangguan pada pinggang dan punggung usia muda tidak melulu soal faktor penuaan. Dikutip dari Kompas.com ia menyebut posisi duduk yang tidak ergonomis dalam jangka panjang bisa berdampak buruk pada struktur tulang belakang baik saat bekerja di kantor maupun beraktivitas di rumah.

Secara ilmiah posisi duduk statis membuat otot otot penyangga tulang belakang atau core muscles kehilangan kekuatan alaminya. Ketika otot inti melemah beban menopang tubuh justru berpindah ke ruas tulang belakang dan bantalan diskus. Menurut artikel di Portal Indonesia yang mengutip penjelasan dokter saraf kondisi ini membuat bantalan antar tulang lebih mudah menonjol keluar dan menjepit saraf di sekitarnya. Itulah sebabnya kasus saraf kejepit atau Herniated Nucleus Pulposus kini makin sering ditemukan pada kelompok usia remaja hingga dewasa muda padahal dulu kondisi ini identik dengan lansia.

Gaya Hidup Sedentari Jadi Akar Masalah

Di balik dua fenomena tadi ada satu benang merah yang sama yaitu gaya hidup sedentari atau minim gerak. Riset di Singapura yang dikutip Columbia Asia menemukan lebih dari 70 persen mahasiswa dan hampir dua pertiga pekerja kantoran mengalami gejala yang berkaitan dengan text neck. Angka ini menjadi alasan mengapa Amerika Serikat Korea Selatan dan Singapura mulai mengklasifikasikan text neck sebagai bentuk epidemi kesehatan modern.

Pola hidup generasi muda saat ini memang banyak dihabiskan dalam posisi duduk dan menunduk. Belajar daring bekerja di depan laptop hingga hiburan lewat ponsel membuat tubuh jarang bergerak dalam waktu lama. Tanpa aktivitas fisik yang cukup otot tidak sempat pulih dari tekanan berulang setiap hari sehingga risiko cedera muskuloskeletal meningkat jauh lebih cepat dibanding generasi sebelumnya.

Bukan Sekadar Pegal Biasa

Para ahli mengingatkan keluhan yang tampak sepele seperti pegal leher atau nyeri punggung sebaiknya tidak dianggap remeh terutama jika berlangsung lebih dari beberapa minggu. Postur tubuh yang baik saat duduk maupun menggunakan gawai olahraga rutin serta jeda peregangan setiap satu hingga dua jam menjadi langkah pencegahan yang paling sederhana namun sering diabaikan.

Fenomena anak muda usia 20an menjadi pasien ortopedi pada akhirnya bukan kebetulan. Ini adalah akumulasi dari kebiasaan harian yang tampak biasa saja namun secara biomekanik memberi beban luar biasa pada tulang dan sendi jauh sebelum waktunya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....