Orang Tua Diminta Kompak Atur Penggunaan Gawai Anak
- 22 Jul 2026 14:14 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Dompu – Penggunaan gawai pada anak membutuhkan pendampingan yang konsisten dari orang tua.
Praktisi pendidikan anak, Mardianti, menilai solusi terbaik bukan sekadar membatasi waktu bermain gawai, tetapi membangun kesepakatan dalam keluarga, memberikan teladan, dan mengajarkan etika bermedia digital.
Menurut Mardianti, terdapat sejumlah tantangan dalam mengelola penggunaan gawai pada anak. Tantangan pertama berasal dari hubungan antara orang tua dan anak.
Seiring bertambahnya usia, anak semakin mampu berpikir logis dan menyampaikan argumen ketika orang tua menerapkan aturan terkait penggunaan gawai.
"Ketika orang tua membuat pembatasan, anak juga sudah mampu memberikan argumen balasan," ujarnya, Rabu, 23 Juli 2026.
Tantangan berikutnya datang dari orang tua sendiri. Ia mengatakan, tidak jarang ayah dan ibu memiliki pandangan berbeda mengenai aturan penggunaan gawai. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukannya, ayah cenderung lebih longgar dibandingkan ibu dalam memberikan akses gawai kepada anak.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kesepakatan antara ayah dan ibu agar aturan yang diterapkan konsisten dan tidak membingungkan anak.
Selain itu, Mardianti mengingatkan bahwa kebiasaan orang tua menggunakan gawai juga menjadi contoh yang akan ditiru anak.
Menurutnya, perilaku orang tua merupakan faktor yang sangat memengaruhi durasi penggunaan gawai oleh anak.
"Semakin lama orang tua menggunakan media, anak juga akan semakin lama menggunakan media. Orang tua harus menjadi teladan dalam penggunaan gawai," katanya.
Ia menilai, sebelum membatasi penggunaan gawai pada anak, orang tua juga harus mampu mendisiplinkan diri, terutama mengurangi penggunaan gawai saat berada di depan anak.
Mardianti juga mendorong orang tua untuk berdiskusi dengan anak mengenai alasan pembatasan waktu penggunaan gawai, jenis konten yang boleh diakses, serta risiko yang dapat muncul di dunia digital.
Menurutnya, ketika anak mulai menggunakan media sosial, orang tua perlu membekali mereka dengan pengetahuan mengenai perlindungan privasi, seperti mengatur pengaturan keamanan akun, memilih foto yang layak diunggah, serta memahami informasi yang pantas dibagikan.
Di sisi lain, anak juga harus diajarkan menjadi pengguna internet yang bertanggung jawab dengan menghormati hak dan privasi orang lain.
"Anak perlu diajarkan untuk tidak melakukan cyberbullying, tidak menyebarkan berita bohong, serta menghindari komentar yang mengandung kebencian saat berinteraksi di media sosial," jelasnya.
Mardianti menegaskan bahwa pendidikan digital dalam keluarga tidak hanya bertujuan melindungi anak dari dampak negatif internet, tetapi juga membentuk karakter anak agar menjadi warga digital yang santun, bertanggung jawab, dan menghormati orang lain dalam setiap aktivitasnya di dunia maya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....