Pendidikan Jadi Senjata NTB Melawan Kemiskinan dan Ketertinggalan
- 21 Sep 2026 17:48 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Pendidikan ditekankan sebagai fondasi penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Nusa Tenggara Barat.
- Pendidikan dipandang sebagai jalan keluar dari kemiskinan yang menjadi tantangan utama di NTB.
- Assoc. Prof. Dr. Syamsuriansyah menyampaikan pesan ini pada acara Wisuda ke-2 Universitas Bima Internasional MFH di Mataram pada 21 September 2026.
RRI.CO.ID, Mataram — Pendidikan kembali ditegaskan sebagai salah satu fondasi penting untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat sekaligus membuka jalan keluar dari kemiskinan di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Pesan tersebut disampaikan Pembina Yayasan Universitas Bima Internasional MFH (UNBIM), Assoc. Prof. Dr. Syamsuriansyah, M.Kes., saat memberikan arahan pada Wisuda ke-2 Universitas Bima Internasional MFH (UNBIM), Senin 21 September 2026.
Di hadapan para wisudawan dan alumni, Syamsuriansyah menekankan pembangunan sektor pendidikan tidak cukup hanya dibebankan kepada perguruan tinggi. Pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan dinilai perlu memberikan perhatian serius, termasuk memastikan dukungan anggaran pendidikan berjalan optimal.
“Pendidikan adalah satu-satunya cara untuk memutus rantai kemiskinan,” ujarnya.
Menurut Syamsuriansyah, ketentuan alokasi minimal 20 persen anggaran untuk pendidikan seharusnya tidak dipandang sebagai batas maksimal. Jika kemampuan fiskal memungkinkan, porsi tersebut dapat diperbesar untuk memperluas akses sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan.
“Anggaran pendidikan memang diatur minimal 20 persen, tetapi bukan berarti tidak bisa ditambah. Jika memungkinkan 40 persen, itu akan sangat bagus,” katanya.
Ia menjelaskan, penguatan sektor pendidikan di NTB memiliki kaitan erat dengan peningkatan indikator pembangunan manusia. Perbaikan Angka Partisipasi Kasar (APK), Harapan Lama Sekolah, serta Rata-Rata Lama Sekolah diharapkan ikut mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Syamsuriansyah juga membagikan pengalaman perjalanan hidupnya yang berhasil mengubah kondisi keluarganya melalui pendidikan. Meski tidak memilih jalur sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), ia tetap memilih dunia pendidikan sebagai ruang pengabdian.
Dedikasi tersebut, katanya, telah mengantarkannya ikut melahirkan ribuan lulusan yang kini bekerja dan mengabdi di berbagai sektor, baik pemerintahan maupun swasta.
“Jangan berhenti di S1 atau D3. Lanjutkan ke S2 di mana saja, lalu kembalilah ke kampus untuk mengabdi,” ucapnya.
Pesan itu secara khusus ditujukan kepada alumni, termasuk lulusan program studi Rekam Medis Informasi Kesehatan dan Software Engineer. Menurutnya, gelar akademik perlu diikuti dengan peningkatan kompetensi agar lulusan mampu beradaptasi dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
UNBIM sendiri menyiapkan langkah untuk memperkuat daya saing lulusannya. Salah satunya melalui rencana pembukaan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P3 yang ditargetkan terlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) pada tahun depan.
“Tahun depan kita akan membuka LSP P3. Dengan demikian, kelulusan mahasiswa ke depan tidak hanya berijazah, tetapi juga mengantongi sertifikasi profesi berstandar internasional,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Syamsuriansyah turut menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah memperjuangkan kuota Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah bagi mahasiswa UNBIM.
Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada jajaran Komisi X DPR RI, termasuk H. Lalu Hadrian Irfani, yang disebutnya konsisten mengawal alokasi beasiswa bagi mahasiswa dan anak-anak NTB.
Bagi Syamsuriansyah, dukungan terhadap pendidikan tidak berhenti ketika seorang mahasiswa menerima ijazah. Lulusan justru memiliki tanggung jawab sosial untuk membawa pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan kembali kepada masyarakat.
“Kebaikan kecil tidak akan pernah sia-sia. Berikan kebaikan itu kepada orang lain agar kehidupan menjadi lebih damai,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa lingkungan kampus harus menjadi ruang yang menjunjung persaudaraan dan penghormatan terhadap martabat manusia.
“Di kampus ini tidak ada sekat, yang ada adalah semangat persaudaraan untuk memanusiakan manusia,” ucapnya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....