Unram Inisiasi ProKlim untuk Perkuat Ketahanan Desa Wisata Bonjeruk
- 17 Sep 2026 17:24 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Tengah - Universitas Mataram (Unram) mendorong penguatan ketahanan lingkungan di Desa Wisata Bonjeruk, Kabupaten Lombok Tengah, melalui pengembangan Program Kampung Iklim (ProKlim). Program tersebut mengintegrasikan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dengan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.
Desa Bonjeruk merupakan salah satu dari 50 desa wisata terbaik dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 dengan konsep Wisata Nostalgia. Namun, perkembangan pariwisata di kawasan tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk kerentanan terhadap bencana dan perubahan iklim.
Pengalaman gempa bumi Lombok 2018 serta pandemi Covid-19 menjadi gambaran bahwa aktivitas pariwisata dapat terdampak oleh berbagai ancaman eksternal. Di sisi lain, potensi pariwisata di Desa Bonjeruk saat ini baru berkembang di enam dari total 14 dusun yang ada.
Kondisi tersebut menjadi perhatian tim peneliti Kelompok Bidang Ilmu Rekayasa Kebumian, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Unram. Melalui kegiatan pengabdian berbasis komunitas, tim mendorong pelembagaan ProKlim sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan pariwisata desa.
Kegiatan tersebut dipimpin Tri Sulistyowati, S.T., M.T., bersama Prof. Ir. Didi S. Agustawijaya, Ph.D., Ir. Ismail Hoesain Muchtaranda, M.T., Dr. Muhajirah, S.T., M.T., dan Achmad Fajar Narotama Sarjan, S.Si., M.T., serta melibatkan mahasiswa.
Dalam pelaksanaannya, Unram bekerja sama dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bonjeruk Permai dan TPS 3R Bonjeruk Asri. Program diarahkan pada tiga aspek utama, yakni adaptasi perubahan iklim, mitigasi dan ekonomi sirkular, serta inventarisasi aksi iklim melalui Sistem Registrasi Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI).
Pada aspek adaptasi, masyarakat didampingi untuk menghadapi ancaman kemarau panjang dan kekeringan melalui pembuatan lubang biopori, sumur resapan, serta pemanenan air hujan. Perlindungan terhadap sumber air juga menjadi bagian dari kegiatan, termasuk mata air Bun Mertak dan Air Terjun Tebing Purba.
Upaya adaptasi turut menyentuh sektor ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat. Kegiatannya antara lain melalui pertanian terpadu, pemanfaatan lahan pekarangan dengan Apotik Hidup BonJor atau Bonjeruk Organik, serta pembuatan black garlic yang melibatkan kelompok PKK.
Selain itu, aspek kesiapsiagaan bencana diperkuat melalui pemetaan rute evakuasi dan penguatan Desa Tangguh Bencana. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana yang dapat memengaruhi kehidupan warga maupun aktivitas pariwisata.
Pada sisi mitigasi, pengelolaan limbah pertanian dan peternakan diarahkan menjadi bagian dari ekonomi sirkular. Limbah tersebut dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk organik dan fermentasi pakan ternak, sementara pemanfaatan biogas di Dusun Peresak ditujukan untuk mengurangi emisi metana atau CH4.
Pengelolaan sampah di TPS 3R Bonjeruk Asri juga dikembangkan dari prinsip 3R menjadi 5R, yakni Reduce, Reuse, Recycle, Replace, dan Replant. Upaya menjaga tutupan vegetasi dilakukan melalui kegiatan reboisasi yang dikemas dalam gerakan Menjerukkan Bonjeruk.
Tidak hanya berfokus pada kegiatan fisik, tim Unram juga memberikan pendampingan dalam pencatatan dan inventarisasi aksi perubahan iklim masyarakat. Seluruh aksi tersebut diarahkan untuk dapat diregistrasikan melalui Sistem Registrasi Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI) Kementerian LHK.
Registrasi tersebut diharapkan dapat membuka akses terhadap kebijakan publik, memberikan pengakuan terhadap aksi iklim yang dilakukan masyarakat, serta mendukung peluang memperoleh dana stimulan bagi kelembagaan di tingkat desa.
Pengembangan ProKlim di Desa Bonjeruk juga dikaitkan dengan pencapaian sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Berdasarkan kriteria penilaian dampak perguruan tinggi dalam Times Higher Education (THE) Impact Rankings, kegiatan tersebut berkontribusi pada SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim, serta SDG 15 tentang ekosistem daratan.
Kontribusi terhadap SDG 8 dilakukan melalui diversifikasi paket wisata ramah lingkungan serta penguatan kapasitas UMKM kuliner dan kerajinan lokal. Sementara SDG 11 didukung melalui penerapan prinsip pariwisata berbasis budaya dan perlindungan ekosistem permukiman untuk meningkatkan kualitas hidup serta ketahanan infrastruktur desa terhadap bencana hidrometeorologi.
Pada SDG 13, pembentukan kelembagaan ProKlim dan pendaftaran aksi masyarakat melalui SRN PPI menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas adaptasi serta mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca. Sedangkan SDG 15 diwujudkan melalui reboisasi, pemeliharaan tutupan vegetasi, perlindungan sumber mata air, dan pengurangan pencemaran akibat sampah.
Kegiatan pengabdian yang didanai melalui DIPA BLU Unram tersebut tidak berhenti pada tahap sosialisasi. Tim Unram berkomitmen melanjutkan pendampingan secara berkala agar pengembangan ProKlim dapat berjalan secara berkelanjutan.
Pendampingan ke depan diarahkan hingga seluruh 14 dusun di Desa Bonjeruk memiliki struktur ProKlim yang mandiri, legal, dan terakreditasi. Upaya tersebut sekaligus diharapkan memperkuat Desa Bonjeruk sebagai desa wisata yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim dengan mengandalkan partisipasi masyarakat dan potensi lokal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....