Mendikdasmen Dorong Generasi Muda Jadi Pembelajar Sepanjang Hayat
- 01 Sep 2026 09:09 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengingatkan generasi muda memiliki posisi penting dalam menentukan arah Indonesia menuju 2045. Menurutnya, generasi yang saat ini tumbuh dan belajar akan menjadi kelompok yang memegang peran besar dalam kehidupan bangsa ketika Indonesia memasuki usia satu abad.
Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat menghadiri Temu Generasi Muda Khonghucu di Jakarta, Sabtu 22 Agustus 2026. Ia menilai persiapan menuju Indonesia Emas tidak cukup hanya dengan penguasaan pengetahuan, tetapi juga membutuhkan kemampuan beradaptasi, karakter, serta kesiapan menghadapi perubahan zaman.
“Kalau kita berbicara Indonesia 100 tahun, Indonesia 2045, 19 tahun ke depan, wajah Indonesia itu kalianlah yang menentukan,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menjelaskan, Kemendikdasmen mendorong terbentuknya generasi yang memiliki empat kekuatan, yakni spiritual, fisik, intelektual, dan kepemimpinan. Keempat aspek tersebut dinilai penting agar generasi muda tidak sekadar menjadi pihak yang mengikuti perubahan, tetapi mampu mengambil peran dalam pembangunan.
Salah satu kemampuan yang perlu terus dikembangkan adalah kapasitas intelektual. Generasi muda dituntut tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan formal, terlebih perkembangan teknologi digital berlangsung semakin cepat.
“Kita punya generasi yang knowledgeable, generasi yang serba tahu, generasi yang serba bisa. Sebab kalau kita tidak bisa menguasai berbagai macam hal menyangkut perkembangan teknologi digital dan sebagainya, maka kita akan menjadi generasi yang bergantung pada orang lain,” katanya.
Karena itu, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya membangun kebiasaan sebagai pembelajar sepanjang hayat. Kemampuan mempelajari hal baru, mengikuti perkembangan teknologi, serta berani menghadapi kegagalan menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan masa depan.
Menurutnya, perkembangan teknologi tidak seharusnya membuat generasi muda menjadi bergantung. Sebaliknya, kemajuan teknologi perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas agar anak muda mampu memanfaatkannya untuk menghasilkan gagasan dan karya.
Tantangan masa depan juga tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknologi. Generasi muda perlu memiliki karakter dan kepemimpinan agar pengetahuan yang dimiliki dapat diarahkan untuk kepentingan masyarakat.
Pesan tersebut mendapat penekanan dari Ketua Pemuda Khonghucu Indonesia, Aristya. Ia mengajak generasi muda tidak hanya menjadi penonton di tengah perubahan, tetapi ikut mengambil bagian dengan tetap mempertahankan jati diri.
Menurut Aristya, perubahan zaman justru menjadi alasan semakin pentingnya nilai-nilai yang menjadi pegangan generasi muda. Kemajuan tidak harus membuat seseorang meninggalkan identitas dan prinsip yang dimilikinya.
Sementara itu, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN), Budi Santoso, mengingatkan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial atau AI, perlu diimbangi dengan nilai kebajikan.
Menurutnya, kemajuan teknologi harus tetap berjalan bersama nilai kemanusiaan agar kemampuan manusia tidak kehilangan arah. Nilai kebajikan dinilai menjadi fondasi penting ketika manusia berhadapan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Bagi Kemendikdasmen, pendidikan memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi tersebut. Sekolah tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga membentuk karakter, kemampuan beradaptasi, dan kepemimpinan.
Dengan bekal tersebut, generasi muda diharapkan mampu menghadapi perubahan sekaligus mengambil peran dalam pembangunan. Mereka bukan hanya dipersiapkan untuk menjadi bagian dari Indonesia 2045, tetapi juga menjadi kelompok yang menentukan seperti apa wajah Indonesia pada masa tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....