Universitas Bumigora Bantu Petani Garam Lombok Timur Tingkatkan Produksi

  • 28 Agt 2026 13:12 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Universitas Bumigora menerapkan geomembran HDPE untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas garam petani di Lombok Timur.
  • Teknologi ini membuat garam lebih putih dan bersih, sekaligus meningkatkan frekuensi panen dari 1–2 kali menjadi 4 kali sebulan.

RRI.CO.ID, Lombok Timur - Petani garam di Kedome, Desa Ketapang Raya, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur, mulai menggunakan teknologi geomembran High Density Polyethylene (HDPE). Tujuannya, untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas garam rakyat.

Teknologi tersebut diterapkan Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Bumigora melalui program bertajuk “Penerapan Geomembran HDPE dan Alat Ukur Suhu serta Penguatan Kapasitas Manajemen Petani Garam untuk Meningkatkan Produktivitas dan Kualitas Garam Rakyat”.

Program ini diketuai Febria Nurmelia Marlina, S.P., M.M., bersama Layali Ihyani, S.E., M.Ak., dan Nur Alfilail, M.Pd. Mitra program adalah Usaha Garam Rumah Tangga milik Ahmad Fauzi di Kedome.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Bumigora, Febria Nurmelia Marlina, menjelaskan sebelum menggunakan geomembran, petani masih mengandalkan tambak berbasis tanah liat. Kondisi tersebut membuat garam mudah tercampur lumpur dan menghasilkan warna yang kurang bersih.

“Kadar NaCl garam juga berada di kisaran 60–70 persen,” jelas Febria, Jumat 28 Agustus 2026.

Persoalan lain adalah produksi yang bergantung pada kondisi cuaca. Dari sisi usaha, petani juga belum memiliki pencatatan keuangan yang tertib dan masih bergantung pada tengkulak untuk memasarkan hasil panen.

Tim Universitas Bumigora kemudian memasang geomembran HDPE pada salah satu petak tambak berukuran 5 x 20 meter. Teknologi itu dilengkapi alat ukur suhu digital dan refraktometer untuk membantu petani memantau kondisi air dan tingkat salinitas.

Pemasangan dilakukan pada 21 Juli 2026. Selain memasang peralatan, tim melakukan observasi terhadap 12 petak tambak milik kelompok usaha garam untuk menentukan pengembangan berikutnya.

Pendampingan dilanjutkan pada 18–20 Agustus 2026. Petani dilatih menggunakan alat ukur suhu dan refraktometer dalam proses produksi. Dari hasil pengukuran, suhu permukaan air di atas geomembran mencapai sekitar 40–45 derajat Celsius pada siang hari.

“Kondisi tersebut membantu proses penguapan air laut dan pembentukan kristal garam. Geomembran juga membuat air laut tidak bersentuhan langsung dengan tanah di dasar tambak sehingga risiko garam tercampur lumpur dapat ditekan,” kata Febria.

Hasil awal uji coba menunjukkan perubahan pada kualitas garam. Garam dari petak yang menggunakan geomembran terlihat lebih putih dan bersih. Pengujian awal dengan refraktometer menunjukkan kadar NaCl mendekati target 90–95 persen, dibandingkan sekitar 60–70 persen sebelum teknologi diterapkan.

Produktivitas panen juga meningkat. Dari satu petak berukuran 5 x 20 meter, petani menghasilkan enam keranjang garam dalam satu siklus panen. Setiap keranjang memiliki berat sekitar 95–100 kilogram.

Dengan demikian, produksi dari satu petak mencapai sekitar 570–600 kilogram per siklus. Frekuensi panen meningkat menjadi sekitar empat kali dalam sebulan atau rata-rata sekali dalam sepekan. Sebelumnya, petani hanya mampu melakukan panen satu hingga dua kali dalam sebulan.

Febria, mengatakan penerapan teknologi tidak hanya berfokus pada pemberian alat. Petani dilibatkan dalam pemasangan, penggunaan, hingga perawatan agar teknologi dapat digunakan secara mandiri.

Ahmad Fauzi salah satu petani garam di Kedome mengaku bahwa teknologi geomembran High Density Polyethylene (HDPE) sangat bermanfaat. Menurutnya, kualitas garam yang sebelumnya biasa kini menjadi lebih putih.

“Sebelumnya, ketika masih menggunakan cara tradisional tanpa geomembran HDPE, kami hanya bisa melakukan panen sekitar satu sampai dua kali dalam sebulan. Setelah menggunakan geomembran HDPE, panen bisa dilakukan sampai empat kali dalam sebulan,” kata Ahmad Fauzi.

Selain produksi, tim juga memberikan pendampingan dalam pengelolaan usaha. Petani dilatih menggunakan buku kas sederhana untuk mencatat biaya produksi, pengeluaran, dan pendapatan dari setiap siklus panen.

Pencatatan tersebut diharapkan membantu petani menghitung harga pokok produksi dan menentukan harga jual. Tim juga menyiapkan kemasan dengan label “Garam Laut Alami Bapak Fauzi” yang mencantumkan identitas produk asal Kedome, Lombok Timur.

Pengembangan kemasan menjadi salah satu upaya mengubah pola penjualan garam dari produk curah menjadi produk yang memiliki identitas dan nilai tambah. Produk tersebut ditargetkan dapat dipasarkan melalui koperasi, UMKM, ritel lokal, hingga toko oleh-oleh.

Tim Universitas Bumigora selanjutnya menyiapkan perluasan penggunaan geomembran ke 11 petak tambak lainnya dengan luas keseluruhan sekitar satu hektare.

Tahapan berikutnya mencakup pemasangan geomembran secara bertahap, penyusunan jadwal panen bergilir, penguatan pemasaran, penyusunan standar operasional prosedur perawatan geomembran, serta monitoring pascaprogram.

Program ini diharapkan tidak berhenti pada petak uji coba, tetapi dapat menjadi model pengembangan usaha garam rakyat yang memadukan teknologi produksi dengan penguatan manajemen dan pemasaran.

Kegiatan pengabdian tersebut didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat dengan skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat tahun pelaksanaan 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....