Universitas Bumigora dan Unram Kembangkan Agroeduwisata di Desa Tegal Maja
- 20 Agt 2026 14:44 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Universitas Bumigora dan Universitas Mataram mendorong pengembangan agroeduwisata di Desa Tegal Maja, Lombok Utara, dengan menggabungkan pertanian, teknologi, dan pariwisata.
- Program ini membantu masyarakat meningkatkan nilai tambah produk lokal, mengembangkan wisata edukatif, serta memperkuat kemandirian ekonomi desa.
RRI.CO.ID, Lombok Utara - Universitas Bumigora dan Universitas Mataram mendorong pengembangan agroeduwisata di Desa Tegal Maja, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Program ini memadukan potensi pertanian, teknologi, pengolahan produk lokal, dan pariwisata untuk menciptakan sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
Program bertajuk Pemberdayaan Kelompok Tani dan Pokdarwis melalui Integrasi Agroeduwisata di Desa Tegal Maja, Lombok Utara itu melibatkan kelompok tani dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Lokok Sekoah.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (DRTPM) dalam skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah (PBW)–Pemberdayaan Desa Binaan Tahun Anggaran 2026.

Tim pelaksana diketuai Rifqi Hammad dengan anggota Apriani, Muhammad Zulfikri, dan Mohammad Najib Roodhi. Kolaborasi kedua perguruan tinggi itu diarahkan untuk membawa pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta potensi Desa Tegal Maja.
Desa Tegal Maja memiliki potensi pertanian dan perkebunan, termasuk komoditas kakao. Namun, potensi tersebut masih menghadapi sejumlah persoalan, seperti pengelolaan pascapanen, pengembangan produk bernilai tambah, pencatatan usaha, pemasaran, hingga pengelolaan wisata berbasis pertanian.
Ketua pelaksana, Rifqi Hammad, mengatakan program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi pertanian. Menurut dia, hasil pertanian perlu dikembangkan menjadi produk bernilai tambah sekaligus menjadi bagian dari pengalaman wisata bagi pengunjung.
“Kami ingin mendorong agar hasil pertanian masyarakat tidak hanya berhenti sebagai komoditas mentah. Produk pertanian dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, sementara aktivitas pertanian juga dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata edukatif,” ujar Rifqi, Kamis 20 Agustus 2026.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah solar dryer berbasis Internet of Things (IoT). Teknologi ini digunakan untuk membantu proses pengeringan hasil pertanian, khususnya kakao.
Penggunaan teknologi tersebut diharapkan membuat proses pascapanen lebih terkontrol dan menekan risiko kerusakan produk. Dengan kualitas pascapanen yang lebih baik, nilai jual komoditas diharapkan ikut meningkat.
Selain teknologi pengeringan, kelompok tani memperoleh pendampingan dalam pengelolaan usaha. Pendampingan mencakup digitalisasi pencatatan produksi dan keuangan agar aktivitas usaha dapat dikelola secara lebih tertata.
Pengembangan agroeduwisata dilakukan bersama Pokdarwis Lokok Sekoah. Pendampingan meliputi penguatan kelembagaan, pengembangan sarana edukasi, rumah produksi, standar pelayanan wisata, serta penyusunan paket wisata yang menggabungkan aktivitas pertanian dengan pengalaman belajar.
Produk lokal juga menjadi bagian dari pengembangan program. Salah satunya produk kopi yang diperkuat melalui Modul Eduwisata Berbasis Agro dan Budaya Lokal.
Masyarakat juga mendapat pendampingan terkait branding, kemasan, pemasaran digital, dan perluasan akses pasar melalui kerja sama dengan pelaku usaha lokal.
Kepala Desa Tegal Maja, Boby Rahman, mengatakan program tersebut sejalan dengan arah pembangunan desa yang tercantum dalam RPJMDes.
“Pemerintah Desa Tegal Maja sangat mendukung kegiatan ini karena sejalan dengan RPJMDes. Pengembangan pertanian, peningkatan kapasitas masyarakat, pemanfaatan teknologi, serta pengembangan potensi wisata merupakan bagian penting dalam pembangunan desa dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Boby.
Menurut Boby, keberlanjutan menjadi hal penting dalam program tersebut. Teknologi, produk, maupun konsep agroeduwisata yang telah dikembangkan diharapkan dapat terus dimanfaatkan masyarakat setelah program berakhir.
Program ini juga diarahkan untuk mendukung semangat Asta Cita melalui penguatan pembangunan dari desa. Peningkatan kapasitas masyarakat, pemanfaatan teknologi tepat guna, pengembangan produk lokal, dan penciptaan peluang ekonomi menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian desa.
Rifqi mengatakan keberhasilan program tidak semata diukur dari teknologi atau fasilitas yang berhasil diberikan kepada masyarakat. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan, mengembangkan, dan melanjutkan program secara mandiri.
“Keberhasilan program bukan hanya ketika teknologi dan fasilitas tersedia, tetapi ketika masyarakat mampu menggunakannya, mengembangkan produk, mengelola kegiatan wisata, dan melanjutkannya secara mandiri,” ujar Rifqi.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui DRTPM atas dukungan dan kepercayaan yang diberikan. Dukungan ini memberikan kesempatan bagi perguruan tinggi untuk hadir langsung bersama masyarakat dan menerapkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan serta potensi desa,” ujar Rifqi.
Apresiasi juga disampaikan kepada Universitas Bumigora, Universitas Mataram, Pemerintah Desa Tegal Maja, kelompok tani, Pokdarwis Lokok Sekoah, serta seluruh masyarakat Desa Tegal Maja yang telah mendukung pelaksanaan program.
Melalui kolaborasi tersebut, Desa Tegal Maja diharapkan dapat terus mengembangkan pertanian, teknologi, budaya lokal, dan pariwisata secara beriringan. Dengan demikian, potensi desa tidak hanya menjadi sumber produksi, tetapi juga dapat berkembang menjadi produk bernilai tambah, ruang edukasi, daya tarik wisata, dan sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....