Belajar dari KMP Putri Yasmin, Kenali Alat Keselamatan Kapal
- 13 Agt 2026 10:16 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Kebakaran KMP Putri Yasmin di Selat Lombok jadi pengingat pentingnya alat keselamatan kapal. Ini panduan lengkap jenis dan cara menggunakannya.
RRI.CO.ID, Mataram - Perairan Selat Lombok masih menjadi sorotan usai KMP Putri Yasmin mengalami kebakaran saat berlayar dari Pelabuhan Padangbai, Bali, menuju Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, Rabu 12 Agustus 2026. Insiden yang terjadi sekitar pukul 04.15 WITA di perairan Sekotong itu sempat membuat panik ratusan penumpang yang berada di atas kapal.
Berdasarkan data manifes, kapal tersebut mengangkut 114 penumpang dan 17 awak kapal. Tim SAR gabungan yang melibatkan Kantor SAR Mataram, Kantor SAR Denpasar, TNI AL, Polairud, hingga kapal-kapal yang kebetulan melintas di sekitar lokasi, berhasil mengevakuasi 173 orang, dengan 172 di antaranya selamat dan satu orang dilaporkan meninggal dunia.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan penumpang telah mengenakan jaket pelampung saat menunggu proses evakuasi berlangsung.
Musibah ini kembali mengingatkan betapa pentingnya setiap penumpang memahami jenis dan cara penggunaan alat keselamatan di kapal, karena dalam situasi darurat sesungguhnya, kepanikan bisa membuat orang lupa langkah paling dasar sekalipun.
Berikut rangkuman lengkapnya, mulai dari yang paling sering ditemui penumpang hingga perangkat teknis yang bekerja di balik layar saat kapal dalam kondisi darurat.
Jaket Pelampung (Life Jacket), Ukurannya Beda-beda Sesuai Berat Badan
Jaket pelampung masuk kategori Life Saving Appliances (LSA) yang wajib tersedia untuk setiap orang di atas kapal. Dilaporkan AceBoater, secara umum ada tiga kelas jaket pelampung dengan ukuran berbeda:

- Jaket pelampung standar SOLAS, dipakai kapal besar seperti kapal penumpang dan kargo internasional, tersedia dalam dua ukuran: untuk pengguna dengan berat lebih dari 32 kg, dan untuk yang beratnya kurang dari 32 kg (biasanya anak-anak).
- Jaket pelampung standar biasa (non-SOLAS, untuk kapal selain kapal SOLAS), tersedia dua ukuran: kurang dari 40 kg dan lebih dari 40 kg.
- Jaket pelampung kapal kecil, punya tiga varian ukuran: di atas 41 kg, antara 18-41 kg, dan di bawah 18 kg.
Menariknya, dikutip dari Safety Marine, ada aturan khusus bagi penumpang atau awak kapal dengan bobot tubuh di atas 140 kg atau lingkar dada lebih dari 1.750 mm. Untuk kategori ini, kapal wajib menyediakan alat bantu tambahan agar jaket pelampung tetap bisa berfungsi optimal, karena ukuran standar belum tentu cukup menopang daya apung yang dibutuhkan.
Standar SOLAS juga cukup ketat soal kualitas material: jaket pelampung tidak boleh terbakar atau meleleh meski terkena api selama dua detik, dan daya apungnya tidak boleh berkurang lebih dari 5 persen setelah 24 jam terendam air tawar. Jika sudah melebihi batas itu, jaket dianggap tidak layak pakai lagi.
Cara memakainya: masukkan lewat kepala/leher, pastikan bagian depan berada di depan tubuh, kancingkan seluruh pengait dan resleting, lalu kencangkan tali di bagian dada dan pinggang hingga tidak mudah bergeser. Setiap jaket idealnya sudah dilengkapi peluit dan lampu otomatis yang menyala saat terkena air.
Pelampung Cincin (Lifebuoy), yang Bentuknya Mirip Ban
Ini yang sering dimaksud "alat keselamatan mirip ban" — namanya lifebuoy atau ring buoy, berbentuk cincin/donat dan biasanya berwarna oranye mencolok.

Fungsinya bukan untuk dipakai di badan seperti life jacket, melainkan dilemparkan ke arah orang yang jatuh ke laut agar bisa berpegangan sambil menunggu evakuasi.
Lifebuoy umumnya dilengkapi reflektor cahaya agar mudah terlihat di malam hari, tali panjang untuk menarik korban ke kapal atau ke tepian, dan pada beberapa model juga ada smoke signal atau lampu isyarat otomatis yang menyala begitu menyentuh air.
Jumlahnya diatur berdasarkan panjang kapal. Dikutip dari KaryaPelaut.com, kapal kargo dengan panjang kurang dari 100 meter wajib membawa minimal 8 lifebuoy, kapal sepanjang 100-150 meter minimal 10 buah, 150-200 meter minimal 12 buah, dan kapal di atas 200 meter minimal 14 buah. Lifebuoy biasanya dipasang di sisi kapal, dek utama, dan buritan agar mudah dijangkau kapan pun dibutuhkan.
Cara menggunakannya: saat melihat orang jatuh ke laut, lifebuoy dilempar sedekat mungkin ke arah korban (bukan langsung mengenainya), lalu korban diarahkan untuk memeluk bagian tengah cincin sebelum ditarik perlahan menggunakan tali yang terpasang.
Rakit Penolong (Life Raft)
Life raft adalah alat evakuasi darurat berbentuk rakit yang tersimpan dalam tabung berwarna putih di sisi kapal. Saat kondisi darurat, rakit ini dilemparkan ke laut dan akan mengembang otomatis begitu menyentuh permukaan air.

Dilansir dari Distributor Alat Kapal, kapasitas life raft di kapal kargo harus mampu menampung minimal 50 persen dari jumlah awak kapal di setiap sisi, sementara kapal penumpang wajib menyediakan life raft dengan kapasitas mencukupi seluruh penumpang dan kru yang ada. Life raft modern umumnya juga sudah dilengkapi perlengkapan bertahan hidup dasar seperti obat-obatan, sinyal darurat, dan persediaan air.
Cara menggunakannya: penumpang diarahkan naik ke life raft hanya setelah mengenakan life jacket, mengikuti instruksi awak kapal soal titik kumpul (muster station), dan tidak melompat langsung ke rakit dari ketinggian yang berisiko merusak alatnya.
- Immersion Suit dan Thermal Protective Aid
Immersion suit berbentuk seperti pakaian selam menyeluruh yang melindungi tubuh dari suhu dingin sekaligus membantu mengapung di air. Sementara thermal protective aid (TPA) berbentuk seperti selimut pelindung yang menjaga suhu tubuh, namun tidak dirancang untuk membantu mengapung.
Kapal kargo dan penumpang wajib memiliki minimal tiga immersion suit di setiap sekoci penyelamat (lifeboat), sehingga jika kapal punya dua sekoci di sisi kiri dan kanan, minimal enam immersion suit harus tersedia. - EPIRB dan SART, Penyelamat di Balik Layar
Dua alat ini tidak dipakai langsung oleh penumpang, tapi berperan besar dalam proses pencarian dan pertolongan. EPIRB (Emergency Position Indicating Radio Beacon) adalah pemancar sinyal darurat yang mengirim posisi kapal secara otomatis ke satelit SAR ketika kapal dalam kondisi bahaya. Dijelaskan Velasco Indonesia, EPIRB bisa aktif secara manual dengan menekan tombol, atau otomatis lewat hydrostatic release unit begitu perangkat terendam air pada kedalaman tertentu, dengan baterai yang mampu memancarkan sinyal hingga 48 jam.
Sementara SART (Search and Rescue Transponder) berfungsi membantu kapal atau pesawat penyelamat menemukan lokasi persis kapal atau sekoci yang sedang dalam kondisi darurat, biasanya lewat sinyal radar. Alat Piroteknik: Flare dan Smoke Signal
Selain perangkat elektronik, kapal juga wajib membawa alat piroteknik seperti flare (suar) dan smoke signal untuk menarik perhatian kapal atau pesawat lain di sekitar lokasi kejadian. Dilaporkan Adhigana Corp, SOLAS mengatur secara spesifik jumlah dan jenis alat piroteknik yang wajib dibawa sesuai jenis dan ukuran kapal, dan alat ini punya masa kedaluwarsa yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan berkala.
Semua Alat Ini Perlu Dicek Rutin, Bukan Cuma Saat Ada Insiden
Satu hal yang sering luput dari perhatian penumpang: seluruh alat keselamatan ini punya jadwal pemeriksaan wajib. Dijelaskan PT Dok Pantai Lamongan, kondisi life jacket dan alat pemadam api biasanya diperiksa mingguan, alarm kebakaran diuji bulanan, sementara life raft, EPIRB, dan alat piroteknik yang kedaluwarsa diservis atau diganti setiap tahun. Jadi, ketika naik kapal dan melihat petugas memeriksa perlengkapan sebelum berlayar, itu bukan sekadar formalitas — melainkan bagian penting yang menentukan apakah alat-alat itu benar-benar bisa diandalkan saat dibutuhkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....