SMKN 5 Mataram Dorong Pembelajaran Kolaboratif lewat Project Based Learning

  • 22 Jul 2026 15:23 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - SMKN 5 Mataram terus memperkuat kualitas pembelajaran dengan mengembangkan metode Project Based Learning (PjBL) sebagai bagian dari implementasi kurikulum di tahun ajaran baru. Melalui pendekatan ini, peserta didik didorong menghasilkan proyek nyata yang menggabungkan kompetensi lintas program keahlian untuk menjawab persoalan di lingkungan sekitar.

Kepala SMKN 5 Mataram, H. Istiqlal, mengatakan penguatan metode pembelajaran tersebut menjadi salah satu fokus dalam workshop awal tahun yang diikuti seluruh guru, Rabu 22 Juli 2026. Kegiatan itu bertujuan menyusun Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP) sekaligus menyiapkan perangkat pembelajaran yang lebih adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja.

"Workshop ini untuk memperkuat perencanaan pembelajaran guru menghadapi tahun pelajaran baru. Kami juga menyusun Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan atau KOSP agar pembelajaran lebih kolaboratif," jelasnya.

Menurut Istiqlal, salah satu arah pengembangan pembelajaran di SMKN 5 Mataram adalah memperbanyak penerapan Project Based Learning. Metode tersebut memungkinkan peserta didik dari berbagai program keahlian bekerja sama menyelesaikan sebuah proyek berdasarkan permasalahan yang ditemukan di lingkungan mereka.

Ia mencontohkan, apabila sekolah menemukan persoalan pengelolaan sampah, maka peserta didik akan diajak melakukan analisis, menyusun solusi, hingga menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

"Anak-anak kami dorong berangkat dari masalah yang ada. Misalnya pengelolaan sampah, nanti lahir ide membuat alat atau teknologi sederhana yang dikerjakan bersama lintas jurusan," ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, setiap program keahlian memiliki peran sesuai kompetensinya. Siswa dari Teknik Body Kendaraan Ringan dapat merancang bodi alat, peserta didik Ototronik menangani sistem kelistrikan, sementara kompetensi lain mengembangkan desain maupun sistem pendukung sehingga terbentuk satu produk yang utuh.

Istiqlal menjelaskan pembelajaran kolaboratif tersebut lebih mudah diterapkan melalui kegiatan kokurikuler. Pasalnya, penggabungan beberapa mata pelajaran dalam kegiatan intrakurikuler masih memiliki tantangan karena harus menyesuaikan capaian pembelajaran masing-masing.

"Kalau di kokurikuler lebih fleksibel karena anak-anak bisa berkolaborasi lintas kompetensi tanpa terbatas capaian pembelajaran setiap mata pelajaran," ucapnya.

Ia menegaskan proyek yang dikembangkan tidak harus berskala besar ataupun menggunakan teknologi yang rumit. Justru sekolah mendorong lahirnya inovasi sederhana yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Yang penting idenya. Tidak harus rumit, tetapi sederhana dan bermanfaat. Misalnya membuat kompor tenaga surya atau alat peraga lain yang bisa digunakan masyarakat," katanya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....