Sekolah Inklusi, SMKN 5 Mataram Utamakan Pendampingan dan Cegah Bullying
- 22 Jul 2026 15:22 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Menjadi sekolah inklusi membawa tantangan tersendiri bagi SMKN 5 Mataram. Selain memastikan seluruh peserta didik memperoleh hak pendidikan yang setara, sekolah juga terus berupaya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi puluhan siswa berkebutuhan khusus melalui kolaborasi dengan orang tua, guru, hingga teman sebaya.
Kepala SMKN 5 Mataram, H. Istiqlal, mengatakan saat ini sekolah membina sekitar 38 siswa berkebutuhan khusus yang belajar bersama siswa reguler. Menurutnya, keberhasilan pendidikan inklusi tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif keluarga.
"Kami ini sekolah inklusi. Saat ini ada sekitar 38 anak inklusi yang belajar di sini. Karena itu kolaborasi dengan orang tua menjadi sangat penting agar mereka mendapatkan pendampingan yang sesuai," jelasnya, Rabu 22 Juli 2026.
Sebagai bentuk dukungan, sekolah menerapkan sistem pendampingan bagi siswa berkebutuhan khusus. Selain menghadirkan pendamping dari keluarga untuk kebutuhan tertentu, sekolah juga melibatkan teman sebaya agar saling membantu dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah.
Ia mencontohkan, peserta didik secara bergiliran membantu mendorong kursi roda teman mereka menuju ruang kelas maupun area lain di sekolah. Untuk mendukung mobilitas tersebut, SMKN 5 Mataram juga telah membangun jalur landai atau ramp di sejumlah titik.
"Anak-anak kami biasakan saling membantu. Misalnya yang menggunakan kursi roda, mereka bergantian mendampingi dan mendorong temannya. Kami juga membuat ramp agar akses mereka lebih mudah," ujarnya.
Menurut Istiqlal, bagi peserta didik yang membutuhkan perhatian lebih intensif, orang tua juga menyiapkan pendamping khusus atau shadow teacher yang menemani selama proses belajar berlangsung. Pendamping tersebut berada di lingkungan sekolah sehingga dapat segera membantu apabila dibutuhkan.
Langkah tersebut dinilai mampu memperkecil potensi terjadinya perundungan terhadap peserta didik berkebutuhan khusus sekaligus memberikan rasa aman selama mengikuti kegiatan belajar mengajar.
"Kami ingin memperkecil peluang terjadinya bullying terhadap anak-anak inklusi. Karena itu mereka tidak hanya didampingi guru, tetapi juga orang tua dan teman-temannya," ucapnya.
Di sisi lain, SMKN 5 Mataram juga terus meningkatkan kapasitas tenaga pendidik. Sejumlah guru telah mengikuti pelatihan pendidikan inklusi, meski sekolah mengakui kebutuhan akan tenaga profesional masih menjadi tantangan yang harus dipenuhi.
"Kami sudah mengirim beberapa guru mengikuti pelatihan. Tetapi memang penanganan anak berkebutuhan khusus memerlukan tenaga spesialis, sehingga kami tidak ingin salah dalam memberikan layanan," jelasnya.
Melalui penguatan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan peserta didik, SMKN 5 Mataram berharap pendidikan inklusi tidak sekadar memberikan akses belajar, tetapi juga membangun budaya saling menghargai sehingga seluruh siswa dapat berkembang tanpa diskriminasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....