Ratusan Sekolah di NTB Masih Rusak, Pemda Harap Model Kemitraan Donor Diperluas

  • 03 Jul 2026 17:12 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur – Peresmian Sekolah Blok ke-50 di SDN 4 Wakan, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, pada Jumat 3 juni 2026, tak hanya menjadi perayaan atas hadirnya ruang belajar baru bagi siswa. Momentum tersebut juga membuka fakta bahwa kebutuhan rehabilitasi sekolah di Nusa Tenggara Barat (NTB) masih sangat besar dan belum sepenuhnya dapat dipenuhi pemerintah akibat keterbatasan anggaran.

Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur pun berharap model kemitraan yang selama ini dibangun bersama Classroom of Hope, Philips Foundation Australia, Happy Hearts Indonesia, Block Solutions Indonesia, serta sejumlah mitra lainnya dapat terus diperluas agar semakin banyak sekolah memperoleh fasilitas belajar yang aman dan layak.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) NTB, Syamsul Hadi, mengatakan masih terdapat banyak bangunan sekolah di berbagai daerah yang kondisinya memerlukan perhatian serius. Kerusakan tersebut tidak hanya terjadi di jenjang sekolah dasar, tetapi juga pada SMA, SMK, hingga sekolah luar biasa (SLB).

Menurutnya, sebagian bangunan sekolah bahkan mengalami kerusakan yang berpotensi membahayakan keselamatan warga sekolah apabila tidak segera ditangani.

"Saya tidak ingin ada korban jiwa hanya karena bangunan sekolah yang sudah tidak layak digunakan. Keselamatan peserta didik dan guru harus menjadi prioritas," katanya, menegaskan.

Ia mengungkapkan, pihaknya telah meminta seluruh kepala SMA, SMK, dan SLB di NTB melakukan pendataan kondisi bangunan sekolah secara menyeluruh. Hasil identifikasi tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada pemerintah pusat sebagai dasar penyusunan program rehabilitasi.

Di tengah keterbatasan kemampuan fiskal pemerintah, Syamsul menilai kolaborasi dengan lembaga donor menjadi salah satu solusi yang mampu mempercepat penyediaan infrastruktur pendidikan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan Sekolah Blok di SDN 4 Wakan membuktikan bahwa kerja sama lintas sektor mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.

"Program seperti ini perlu diperluas. Pemerintah tentu tidak bisa bekerja sendiri. Ketika dunia usaha, lembaga filantropi, organisasi sosial, dan masyarakat bergerak bersama, hasilnya dapat langsung dirasakan oleh anak-anak kita," jelasnya.

Kondisi serupa juga dihadapi Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur, Lalu Bayan Purwadi, mengungkapkan hingga saat ini sedikitnya 145 sekolah dasar di Lombok Timur masih membutuhkan rehabilitasi dengan berbagai tingkat kerusakan.

Di sisi lain, kemampuan keuangan daerah belum memungkinkan seluruh kebutuhan tersebut ditangani dalam waktu singkat. Karena itu, ia mengapresiasi kontribusi para mitra internasional yang selama ini telah membantu pemerintah membangun lebih dari 20 sekolah di Lombok Timur.

"Kalau hanya mengandalkan APBD, tentu membutuhkan waktu yang sangat panjang. Kehadiran Classroom of Hope, Philips Foundation Australia, Happy Hearts Indonesia, dan para mitra lainnya sangat membantu percepatan rehabilitasi sekolah," ungkapnya.

Menurut Bayan, kerja sama tersebut telah memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan, terutama di wilayah-wilayah yang sebelumnya memiliki keterbatasan sarana belajar.

Ia berharap model kolaborasi serupa dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak sekolah memperoleh ruang belajar yang aman, nyaman, dan sesuai standar.

"Kami berharap kemitraan ini tidak berhenti sampai di sini. Masih banyak sekolah yang membutuhkan rehabilitasi demi memberikan lingkungan belajar yang layak bagi anak-anak Lombok Timur," ujarnya.

Sementara itu, CEO Classroom of Hope Australia, Tanya Armstrong, menegaskan organisasinya berkomitmen untuk terus mendukung pembangunan pendidikan di Indonesia melalui konsep sekolah ramah lingkungan berbahan plastik daur ulang.

Ia menjelaskan, sejak memulai program pascagempa Lombok pada 2018, Classroom of Hope bersama para mitra telah berhasil membangun 50 sekolah, 184 ruang kelas, serta lebih dari 80 fasilitas sanitasi yang kini dimanfaatkan ribuan siswa di Pulau Lombok.

Menurut Tanya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga internasional mampu menghadirkan solusi berkelanjutan bagi dunia pendidikan.

"Kami berharap model ini dapat diterapkan di lebih banyak daerah. Masih banyak anak-anak yang membutuhkan ruang belajar yang aman, sehingga kolaborasi menjadi kunci untuk menjawab tantangan tersebut," terangnya.

Tak hanya membangun ruang kelas, Classroom of Hope juga mengembangkan berbagai program pemberdayaan masyarakat, mulai dari edukasi lingkungan, pengelolaan sampah, pelatihan guru, hingga perlindungan anak sebagai bagian dari pembangunan pendidikan yang berkelanjutan.

Komitmen serupa disampaikan Founder Philips Foundation Australia, Anthony. Ia mengatakan pihaknya memandang pendidikan sebagai investasi jangka panjang yang memberikan dampak besar bagi masa depan masyarakat.

Karena itu, Philips Foundation akan terus mendukung berbagai inisiatif yang mampu menghadirkan lingkungan belajar yang aman sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar.

"Kami percaya setiap anak berhak mendapatkan kesempatan belajar yang layak. Selama masih ada kebutuhan, kami ingin terus menjadi bagian dari solusi melalui kemitraan seperti ini," katanya.

Bagi SDN 4 Wakan sendiri, keberhasilan program tersebut menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi mampu menjawab kebutuhan yang selama bertahun-tahun dirasakan sekolah.

Kepala SDN 4 Wakan, Nursaid, mengaku awalnya sekolah hanya mengajukan rehabilitasi tiga ruang kelas yang mulai mengalami kerusakan. Namun melalui program Classroom of Hope, sekolah justru memperoleh empat ruang kelas baru yang dibangun dengan teknologi tahan gempa dan ramah lingkungan.

Menurutnya, bantuan tersebut bukan hanya menghadirkan bangunan baru, tetapi juga memberikan rasa aman bagi guru dan peserta didik dalam menjalankan proses belajar mengajar.

"Kami berharap semakin banyak sekolah lain mendapatkan kesempatan seperti yang kami rasakan hari ini. Masih banyak sekolah yang membutuhkan ruang belajar yang aman agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan tenang," tuturnya.

Peresmian Sekolah Blok ke-50 di SDN 4 Wakan menjadi lebih dari sekadar seremoni. Di balik bangunan baru yang berdiri kokoh, masih terdapat ratusan sekolah di NTB yang menunggu rehabilitasi agar dapat memberikan rasa aman bagi peserta didik dan tenaga pendidik.

Karena itu, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga filantropi, dan masyarakat diharapkan terus diperluas sehingga semakin banyak sekolah memperoleh kesempatan yang sama untuk menghadirkan lingkungan belajar yang layak, aman, dan berkualitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....