Penggunaan AI Mahasiswa Kian Masif, Dosen Hukum UBG Soroti Kualitas Pendidikan
- 07 Jun 2026 07:52 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Kemunculan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara mahasiswa mencari informasi dan menyusun karya ilmiah. Namun, meningkatnya penggunaan AI dalam penyusunan skripsi, tesis, hingga disertasi mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan akademisi.
Dosen Hukum Universitas Bumigora (UBG) Mataram, Lanang Sakti, S.H., M.H., menilai fenomena tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar yang sedang dihadapi dunia pendidikan tinggi saat ini.
Menurutnya, kemudahan yang ditawarkan AI dapat berdampak positif apabila digunakan sebagai alat bantu. Namun, ketika teknologi tersebut digunakan untuk menghasilkan sebagian besar isi karya ilmiah, kualitas proses akademik berpotensi mengalami kemunduran.
"Ini menjadi tantangan bagi dosen dan pembimbing. Kadang-kadang sulit memastikan apakah sebuah karya merupakan hasil pemikiran mahasiswa sendiri atau terlalu banyak dipengaruhi oleh AI," ungkapnya, Sabtu 6 Juni 2026.
Meski demikian, ia menilai dosen pada umumnya memiliki pemahaman mengenai kemampuan mahasiswa yang dibimbing sehingga dapat mengidentifikasi perubahan yang tidak wajar dalam kualitas tulisan maupun pola berpikir yang ditampilkan dalam karya ilmiah.
Lanang menjelaskan sejumlah perguruan tinggi telah menerapkan berbagai mekanisme pengawasan, mulai dari pemeriksaan tingkat kemiripan naskah hingga evaluasi mendalam terhadap substansi penelitian.
Di lingkungan kampus, kata dia, mahasiswa yang terbukti menggunakan AI secara berlebihan umumnya diberikan kesempatan untuk memperbaiki karya ilmiahnya agar sesuai dengan standar akademik yang berlaku.
Menurutnya, penggunaan AI seharusnya dibatasi pada tahap-tahap tertentu, seperti membantu pencarian referensi, penyusunan kerangka penelitian, atau pengembangan ide awal.
Sebaliknya, proses analisis, argumentasi, pembahasan hasil penelitian, hingga penyusunan kesimpulan harus tetap menjadi hasil pemikiran mahasiswa sendiri.
"Kalau seluruh isi karya ilmiah diserahkan kepada AI, maka mahasiswa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang menjadi tujuan utama pendidikan tinggi," jelasnya.
Lebih jauh, Lanang mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap AI dapat berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Ia menilai cita-cita mewujudkan Generasi Emas 2045 akan sulit tercapai apabila peserta didik tumbuh dengan budaya instan dan minim kemampuan berpikir kritis.
"Pendidikan tidak boleh kehilangan esensinya. Teknologi boleh berkembang, tetapi kemampuan berpikir, menganalisis, dan menyelesaikan masalah harus tetap menjadi kompetensi utama yang dimiliki generasi muda," ujarnya.
Menurut Lanang, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan oleh kemampuan manusia memanfaatkan teknologi tersebut tanpa kehilangan daya pikir dan integritas akademiknya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....