Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini, SMPN 16 Mataram Andalkan Pendidik Sebaya

  • 21 Mei 2026 16:26 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – SMP Negeri 16 Mataram mengembangkan pendekatan pendidik teman sebaya atau pre-edukator sebagai salah satu strategi pencegahan pernikahan dini di kalangan pelajar. Melalui program tersebut, siswa dilibatkan langsung untuk memberikan edukasi kepada teman-temannya terkait berbagai persoalan remaja.

Kepala SMP Negeri 16 Mataram, Burhanudin, mengatakan program itu telah berjalan selama dua tahun melalui pendampingan dari Plan International terkait kesehatan reproduksi dan pencegahan perkawinan usia dini.

Menurutnya, pendekatan teman sebaya dinilai lebih efektif karena siswa cenderung lebih terbuka saat berdiskusi dengan teman seusianya dibandingkan dengan guru atau orang tua.

“Yang kami lakukan pertama pembentukan pre-edukator atau pendidik teman sebaya. Dari pendidik teman sebaya inilah yang menginisiasi setiap minggu untuk mengedukasi teman-temannya,” jelasnya, Kamis 21 Mei 2026.

Burhanudin menjelaskan, edukasi yang diberikan tidak hanya terkait pencegahan pernikahan dini, tetapi juga mencakup penggunaan media sosial, bahaya narkoba, hingga persoalan sosial remaja lainnya.

Kegiatan tersebut dilakukan secara rutin setiap minggu dengan tema yang berbeda-beda agar siswa lebih memahami berbagai risiko yang dapat memengaruhi masa depan mereka.

“Misalnya minggu ini terkait penggunaan media sosial, kemudian minggu berikutnya pencegahan pernikahan dini, anti narkoba, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Selain memberikan edukasi, tim pendidik sebaya juga memiliki fungsi sebagai pelopor dan pelapor apabila menemukan indikasi persoalan pada siswa, termasuk potensi pernikahan dini.

Jika ditemukan kasus tertentu, pihak sekolah akan memanggil orang tua siswa untuk melakukan pendampingan bersama. Bahkan, sekolah juga bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) untuk penanganan lanjutan apabila diperlukan.

Burhanudin menilai keterlibatan keluarga menjadi faktor penting dalam mencegah pernikahan dini karena pengawasan siswa di luar sekolah sepenuhnya berada di tangan orang tua.

“Sekolah tidak mungkin seluruhnya mampu menjaga anak-anak ketika di rumah. Karena itu kami terus mengingatkan orang tua agar ikut mengawasi dan mendampingi anak,” katanya.

Meski demikian, pihak sekolah mengakui masih menghadapi berbagai tantangan dalam upaya pencegahan pernikahan dini, terutama faktor budaya yang masih kuat di sebagian masyarakat.

Ia mengungkapkan, pernah ditemukan kasus siswa yang sulit dicegah untuk menikah karena sudah “dilarikan” oleh pasangannya sehingga keluarga merasa malu apabila pernikahan dibatalkan.

“Kami sebenarnya siap mendampingi dan mencegah, bahkan sudah berkoordinasi dengan pihak terkait. Tetapi terkadang ada kendala budaya di masyarakat yang membuat upaya pencegahan sulit dilakukan,” ujarnya.

Meski menghadapi tantangan tersebut, SMPN 16 Mataram memastikan edukasi terkait kesehatan reproduksi dan pencegahan pernikahan dini akan terus dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari perlindungan terhadap siswa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....