Dari Geopark ke Ruang Kelas, GEMS Dorong Sekolah Jadi Laboratorium Konservasi

  • 31 Jul 2026 15:21 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Penyelenggaraan Regional Webinar and National Training bertajuk Geoparks as Living Laboratories: Integrating Biodiversity Education, Agrobiodiversity, and Sustainable Community Development in Southeast Asia di kawasan Rinjani-Lombok UNESCO Global Geopark pada 28–31 Juli 2026 mendapat respons positif dari para peserta. Program yang diinisiasi melalui Geopark Educational Model for School (GEMS) ini dinilai berhasil meningkatkan pemahaman guru terhadap pentingnya konservasi biodiversitas dan pengembangan pembelajaran berbasis lingkungan di sekolah.

Koordinator GEMS, Dewi Suryani, mengatakan pelatihan selama empat hari tersebut diikuti puluhan guru dari berbagai jenjang pendidikan yang menunjukkan antusiasme tinggi, baik saat mengikuti materi maupun praktik lapangan.

"Para guru tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman langsung mengenai berbagai kegiatan yang dapat diterapkan di sekolah, terutama membangun kebun edukasi yang bermanfaat bagi sekolah, peserta didik, hingga dapat direplikasi oleh sekolah-sekolah di sekitarnya," ujarnya, usai penutupan kegiatan di SMK Pertanian Pembangunan Mataram, Jum'at 31 Juli 2026.

Menurut Dewi, program tersebut dirancang untuk memperkuat aspek konservasi biodiversitas di kawasan geopark. Selama ini, pengembangan geopark lebih banyak dikenal dari sisi pariwisata, sehingga diperlukan keseimbangan antara pemanfaatan kawasan dan upaya pelestarian lingkungan.

Ia menjelaskan, pendekatan konservasi menjadi penting agar aktivitas wisata tidak berujung pada eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Melalui pendidikan, guru diharapkan menjadi agen perubahan dalam menanamkan kesadaran menjaga keanekaragaman hayati sejak dini.

Hasil evaluasi juga menunjukkan pemahaman peserta terhadap konsep konservasi terus meningkat. Meski belum sepenuhnya menguasai seluruh materi, para guru mulai memahami pentingnya menjaga kualitas lingkungan dan menerapkannya dalam proses pembelajaran.

Selama pelatihan, peserta juga aktif berdiskusi mengenai berbagai persoalan lingkungan di daerah masing-masing, salah satunya penggunaan pupuk kimia yang dinilai berlebihan pada lahan pertanian. Beragam pertanyaan mengenai solusi pemulihan kondisi tanah menjadi salah satu topik yang banyak dibahas.

"Kami memberikan pemahaman secara teori mengenai langkah-langkah yang bisa dilakukan. Ke depan kami berharap dapat melakukan survei lapangan untuk menganalisis kondisi tanah secara langsung sehingga solusi yang diberikan lebih tepat sesuai karakteristik wilayah," kata Dewi.

Sebanyak sekitar 37 guru dari sekitar 29 sekolah mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA mengikuti pelatihan tersebut. Mereka mendapatkan berbagai materi, mulai dari budidaya tanaman sayuran khas kawasan Rinjani, tanaman buah, tanaman obat keluarga (TOGA), analisis vegetasi, hingga pemetaan spasial menggunakan aplikasi berbasis telepon pintar.

Selain teori, peserta juga mempraktikkan penggunaan teknologi pemetaan untuk mengidentifikasi kondisi vegetasi dan potensi wilayah sehingga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran maupun dasar penyusunan program konservasi di sekolah.

Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta telah menyusun action plan yang akan diterapkan setelah kembali ke sekolah masing-masing. Rencana aksi tersebut akan dievaluasi sekitar tiga bulan setelah pelatihan guna melihat perkembangan implementasinya sekaligus mengidentifikasi kebutuhan pendampingan.

Dalam proses pendampingan, GEMS bekerja sama dengan SMK-PP Mataram yang akan membantu melakukan pembinaan langsung kepada sekolah-sekolah peserta apabila diperlukan. Sementara tim GEMS akan tetap melakukan pemantauan secara daring untuk memastikan program konservasi dan kebun edukasi dapat berjalan secara berkelanjutan.

Melalui program ini, GEMS berharap sekolah-sekolah di kawasan geopark mampu menjadi pusat edukasi konservasi biodiversitas yang tidak hanya mendukung pembelajaran, tetapi juga memperkuat pelestarian lingkungan dan pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....