Dari Desa Menembus Dunia Kembali Mengabdi Bermakna

  • 17 Apr 2026 06:58 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Di banyak sudut desa di Nusa Tenggara Barat, mimpi sering kali tumbuh dalam diam tanpa panggung dan tanpa sorotan. Namun melalui buku NTB Mendunia: Mimpi Anak Desa Menembus Beasiswa dan Jalan Pulang Pengabdian, kisah kisah itu diangkat ke permukaan. Buku ini menghadirkan cerita tentang anak anak desa yang berani melampaui batas, meraih pendidikan tinggi, lalu memilih kembali untuk memberi arti bagi kampung halamannya.

Buku ini merupakan karya kolaboratif yang ditulis oleh Muammar Qadafi, Arvinia Trisnindianti, Lina Ulfa Fitriani, Edi Sukmojati, Arni Nazira, M. Azhar Kholidi, Sahwan Luriadi, Silvia Al Viana, dan Bukran Habibullah. Di bawah penyuntingan Rizal M. Suhardi dan Soni Ariawan, beragam pengalaman personal itu dirangkai menjadi satu narasi yang utuh, hangat, dan penuh makna.

Lahirnya buku ini berangkat dari kesadaran bersama bahwa banyak kisah perjuangan anak desa yang belum terdengar. Para penulis ingin menghadirkan cerita yang jujur, bukan hanya tentang keberhasilan, tetapi juga tentang keraguan, kegagalan, dan proses panjang yang sering kali tidak terlihat. Salah satu penulis mengungkapkan, “Kami tidak selalu kuat, tapi kami selalu punya alasan untuk bertahan.” Ungkapan ini mencerminkan perjalanan yang tidak mudah, namun selalu disertai harapan.

Dalam buku ini, pembaca diajak menyelami kehidupan para penulis sejak dari desa. Mereka tumbuh dalam keterbatasan akses pendidikan, fasilitas belajar yang sederhana, hingga kondisi ekonomi yang menuntut untuk mandiri sejak dini. Namun dari situ pula lahir semangat yang kuat. Salah satu penulis menggambarkan, “Desa mengajarkan kami arti cukup, tapi mimpi mengajarkan kami untuk melampaui.”

Perjalanan meraih beasiswa menjadi bagian penting yang diceritakan secara lebih mendalam. Proses yang dilalui tidak hanya soal kemampuan akademik, tetapi juga keberanian untuk mencoba. Ada fase jatuh bangun saat menghadapi seleksi, menyusun berkas, hingga menerima penolakan. Dalam salah satu refleksi dituliskan, “Penolakan bukan akhir, tapi cara semesta menguatkan alasan kita untuk terus mencoba.”

Ketika kesempatan itu akhirnya datang dan mereka menapaki dunia luar, tantangan baru pun muncul. Adaptasi dengan lingkungan akademik yang berbeda, tekanan untuk berprestasi, hingga rasa rindu pada kampung halaman menjadi bagian dari perjalanan. Dalam salah satu kisah tertulis, “Sejauh apa pun kami pergi, selalu ada jalan kecil di desa yang memanggil untuk pulang.” Kalimat ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan antara mereka dan tanah kelahiran.

Hal yang paling menonjol dari buku ini adalah makna pulang yang diangkat secara konsisten. Para penulis tidak memaknai kesuksesan sebagai keberhasilan meninggalkan desa, melainkan sebagai kesempatan untuk kembali membawa manfaat. Seperti yang diungkapkan dalam buku tersebut, “Ilmu bukan untuk menjauhkan kami dari desa, tapi untuk membuat kami kembali dengan lebih berarti.”

Kontribusi nyata juga menjadi bagian penting dalam cerita. Ada yang membangun komunitas belajar, menggerakkan literasi digital, hingga mengembangkan potensi lokal seperti budaya dan kerajinan. Meskipun dilakukan secara sederhana, dampaknya terasa langsung bagi masyarakat sekitar. Hal ini memperkuat pesan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Selain itu, buku ini juga menekankan pentingnya menjaga identitas lokal. Para penulis tetap membawa nilai nilai budaya dan kearifan daerah dalam setiap langkah mereka. Mereka menunjukkan bahwa menjadi bagian dari dunia global tidak harus menghilangkan akar, melainkan dapat berjalan seiring dengan jati diri.

Secara keseluruhan, buku NTB Mendunia bukan hanya kumpulan kisah inspiratif, tetapi juga refleksi tentang perjalanan hidup. Tentang bagaimana mimpi lahir dari keterbatasan, tumbuh melalui perjuangan, dan menemukan makna saat kembali ke tempat asal.

Buku ini menegaskan satu hal sederhana namun kuat. Anak desa tidak kekurangan mimpi, mereka hanya membutuhkan ruang untuk percaya bahwa mereka mampu mencapainya, serta keberanian untuk pulang membawa perubahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....