Pemuda Dorong Literasi Digital,RRI Mataram Siap Jadi Rumah Kolaborasi Literasi

  • 20 Jul 2026 14:26 WIB
  •  Mataram

RRI. CO. ID, Mataram – Upaya memperkuat literasi digital di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta desa miskin ekstrem di Nusa Tenggara Barat terus mendapat perhatian berbagai pihak. Melalui platform digital BASAibu Wiki-NTB, para pemuda didorong untuk mengambil peran lebih besar dalam menjawab berbagai tantangan literasi dan akses informasi di daerah.

Sebagai tindak lanjut dari penyelenggaraan Lomba Opini Wikithon Partisipasi Publik V yang mengangkat tema “Apa yang Dapat Dilakukan Pemuda untuk Meningkatkan Literasi Digital di Daerah yang Paling Membutuhkan”,

BASAibu Wiki-NTB rencananya akan menggelar Dialog Kebijakan Partisipasi Publik pada Selasa pagi, 21 Juli 2026, di Mataram. Iqbal Maulana - Project Manager BASAibu Wiki NTB, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mewadahi aspirasi pemuda sekaligus merumuskan rekomendasi aksi bersama dalam mendukung peningkatan literasi di Provinsi NTB.

“Dialog ini mempertemukan pemuda dengan para pemangku kepentingan untuk merumuskan langkah-langkah konkret yang inovatif, kolaboratif, dan partisipatif guna memperluas akses serta meningkatkan kualitas literasi, khususnya di daerah 3T dan desa miskin ekstrem,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, BASAibu Wiki-NTB turut mengundang berbagai pihak, termasuk RRI Mataram, untuk memberikan pandangan, masukan, dan rekomendasi terkait strategi penguatan literasi digital yang dapat diterapkan secara berkelanjutan di NTB.

Mewakili Kepala RRI Mataram, Ketua Tim Siaran Sukriwandi, SE menegaskan bahwa literasi saat ini tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, mengelola, serta memanfaatkan informasi untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, peningkatan literasi di daerah 3T dan desa miskin tidak bisa menjadi tanggung jawab satu pihak semata. namun diperlukan sinergi antara pemerintah, media, lembaga pendidikan, komunitas, dunia usaha, dan generasi muda.

“Pemuda memiliki peran strategis untuk membangun literasi dari daerah. Mereka bisa menjadi relawan mengajar membaca, pendamping literasi digital, pembuat konten edukatif berbasis budaya lokal, penulis artikel tentang potensi desa, hingga kontributor Wikipedia berbahasa Indonesia maupun bahasa daerah,” jelas Sukriwandi.

Dalam dialog tersebut, RRI Mataram juga akan memaparkan berbagai inovasi pengembangan literasi berbasis media publik yang bisa dilakukan melalui program “RRI Sahabat Literasi”. Program ini memanfaatkan radio, media digital, dan kegiatan tatap muka untuk menjangkau masyarakat hingga ke pelosok yang memiliki keterbatasan akses internet.

Berbagai kegiatan yang telah dan dapat dikembangkan antara lain siaran dongeng dan cerita rakyat daerah, kelas belajar melalui radio, podcast edukasi yang diproduksi pemuda, bedah buku, diskusi publik, hingga kompetisi menulis, membaca puisi, dan jurnalistik warga.

Selain itu, RRI mendorong kolaborasi model Pentahelix, yakni melibatkan pemerintah, media, komunitas, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.

Beberapa gagasan kolaboratif yang ditawarkan meliputi program misalnya “Satu Desa Satu Rumah Literasi”, pemanfaatan balai desa, rumah ibadah, maupun rumah warga sebagai ruang baca, dan pelatihan ke daerah terpencil, serta program Kampung Podcast yang melatih pemuda memproduksi konten tentang budaya, pendidikan, pertanian, dan UMKM desa untuk disiarkan melalui RRI.

Tak kalah penting, literasi digital aman juga menjadi perhatian utama melalui edukasi tentang bahaya hoaks, keamanan digital, kecerdasan buatan (AI), dan etika bermedia sosial.

Sukriwandi menegaskan, RRI berkomitmen menjadi lebih dari sekadar lembaga penyiaran publik. RRI hadir sebagai mitra strategis dalam pembangunan literasi, pemberdayaan masyarakat dan pelestarian budaya melalui inovasi serta kolaborasi.

"leterasi bukan sekedar kemampuan membaca, tetapi kemampuan mengubah kehidupan. Ketika pemuda bergerak. komunitas berkolaborasi, media publik membuka ruang, dan pemerintah hadir memberikan dukungan, maka tidak ada lagi daerah yang terlalu jauh untuk dijangkau oleh pengetahuan, RRI Mataram dal hal ini siap menjadi sahabat dan rumah kolaborasi literasi bagi seluruh masyarakat di Nusa Tenggara Barat," kata Sukri.

Kehadiran Perwakilan RRI Mataram diharapkan dapat memberikan pandangan masukan dan rekomendasi bagi peserta, sekaligus memperkaya diskusi dalam merumuskan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan literasi, khususnya didaerah 3Tdan Desa Miskin ekstrim di Nusa Tenggara Barat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....