SMPN 1 Mataram Siapkan Tenaga Pendidik yang Faham Anak Inklusi

  • 25 Feb 2026 19:08 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Mataram mempertegas komitmennya menghadirkan lingkungan belajar yang ramah bagi seluruh siswa, termasuk anak berkebutuhan khusus. Sekolah menyiapkan langkah sistematis agar proses pembelajaran tetap adil dan adaptif. Fokus utama diarahkan pada peningkatan kapasitas guru.

Upaya tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan workshop pendidikan inklusif. Kegiatan ini dirancang untuk memperdalam pemahaman guru tentang karakteristik dan kebutuhan belajar siswa dengan latar belakang yang beragam.

Plt. Kepala SMPN 1 Mataram, Muhammad Taufik, menilai bahwa tantangan terbesar bukan pada penerimaan siswa, melainkan pada kesiapan tenaga pendidik. Ia mengakui pemahaman tentang pendidikan inklusi masih perlu diperkuat.

“Selama ini banyak guru belum memahami secara utuh tentang anak inklusi. Karena itu kami merasa perlu memberikan pembekalan melalui workshop,” jelasnya, Rabu 25 Februari 2026.

Dalam sistem penerimaan berbasis zonasi, sekolah tidak dapat melakukan penyaringan awal terhadap kondisi siswa. Situasi ini membuat sekolah harus siap menerima berbagai karakteristik peserta didik.

Muhammad Taufik menjelaskan bahwa setelah siswa diterima, proses identifikasi dilakukan melalui screening oleh guru Bimbingan Konseling (BK). Hasilnya kemudian menjadi dasar pendekatan pembelajaran di kelas.

“Begitu ada hasil screening, kami berkoordinasi dengan orang tua. Kami ajak mereka bekerja sama mencari solusi terbaik untuk anak,” katanya.

Ia menegaskan bahwa sekolah tidak memiliki kewenangan untuk menolak siswa berkebutuhan khusus. Prinsip tanggung jawab pendidikan menjadi landasan kebijakan tersebut.

“Kalau sudah menjadi siswa di sini, itu amanah bagi kami. Tidak ada alasan untuk menolak atau memindahkan,” tegasnya.

Sebagai strategi pembelajaran terhadap berbagai karakteristik siswa, sekolah menerapkan konsep diferensiasi. Pendekatan ini memungkinkan guru menyampaikan materi yang sama dengan metode berbeda sesuai kebutuhan siswa.

Menurutnya, pembelajaran diferensiasi membantu siswa inklusi memahami materi tanpa merasa terasing. Guru dituntut mengenali gaya belajar dan potensi masing-masing anak.

“Materinya tetap sama, tetapi cara menyampaikannya bisa berbeda. Itu inti dari pembelajaran diferensiasi,” tuturnya

Ia mencontohkan penggunaan media visual atau benda konkret untuk menjelaskan konsep abstrak. Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif bagi siswa dengan kebutuhan tertentu.

Sekolah juga mendorong perubahan perspektif terhadap siswa berkebutuhan khusus. Mereka disebut sebagai anak istimewa yang membutuhkan perhatian dan empati.

“Kami tekankan kepada guru bahwa mereka adalah anak istimewa. Kita harus bersyukur diberi kesempatan membimbing mereka,” katanya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....