SMAN 5 Mataram Bangun Karakter Lewat Budaya Religius

  • 29 Jan 2026 12:56 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - SMAN 5 Mataram menempatkan pendidikan karakter sebagai fondasi utama pembinaan siswa. Pendekatan ini dijalankan melalui budaya sekolah yang konsisten sejak pagi hingga akhir kegiatan belajar. Kepala SMAN 5 Mataram, Siti Nurhani, S.Pd., menyebut karakter kuat berdampak langsung pada capaian akademik siswa.

Setiap pagi, siswa memulai hari dengan kegiatan keagamaan sesuai keyakinan masing-masing. Siswa Muslim melaksanakan tadarus Al-Qur’an di kelas sebelum pembelajaran dimulai. Siswa non-Muslim berdoa di ruang yang telah disiapkan sekolah.

Kegiatan tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun dan menjadi budaya khas sekolah. Guru yang mengajar pada jam pertama turut mendampingi aktivitas religius itu. Suasana sekolah pada pagi hari pun terpantau tenang dan tertib.

“Karakter tidak bisa dibangun instan, harus dibiasakan setiap hari. Kalau pembiasaan itu konsisten dilakukan, anak-anak akan tumbuh dengan kesadaran sendiri untuk berperilaku baik,” kata Siti Nurhani, Kamis 29 Januari 2026.

Menjelang siang, pembiasaan religius kembali dilakukan melalui ibadah berjamaah. Siswa Muslim melaksanakan salat zuhur berjamaah di masjid sekolah maupun di sekitar lingkungan sekolah. Sementara siswa lain menyesuaikan ibadah di tempat masing-masing.

Sekolah menerapkan sistem pemantauan ibadah menggunakan finger print. Data kehadiran tersebut terhubung dengan orang tua sebagai bentuk transparansi pembinaan karakter siswa. Sistem ini juga mendorong siswa lebih bertanggung jawab terhadap kewajibannya.

Pendekatan keagamaan dinilai menjadi pintu masuk pembentukan karakter disiplin. Kebiasaan baik yang dibangun sejak pagi memengaruhi perilaku siswa sepanjang hari. Lingkungan tertib diyakini mampu menekan potensi pelanggaran.

“Pembiasaan religius ini bukan hanya soal ibadah, tetapi juga melatih disiplin waktu dan tanggung jawab. Anak-anak belajar bahwa ada aturan yang harus dijalankan dengan kesadaran, bukan karena takut dihukum,” ujar Siti Nurhani.

Selain religius, sekolah memperkuat nilai kebersamaan melalui ikrar siswa. Salah satu poin utama adalah membangun kerukunan antarteman di lingkungan sekolah. Upaya tersebut menjadi bagian dari pencegahan perundungan.

Peran wali kelas sangat dominan dalam pengawasan keseharian siswa. Setiap persoalan cepat ditindaklanjuti melalui koordinasi internal sekolah. SMAN 5 Mataram juga memiliki tim khusus perlindungan siswa.

Pengawasan diperkuat dengan pemasangan CCTV di sejumlah titik strategis. Langkah ini membantu mengungkap kejadian yang berpotensi mengganggu kenyamanan belajar. Siswa pun terdorong lebih berhati-hati dalam bertindak.

“Rukun dengan teman menjadi nilai yang terus kami tekankan dalam setiap kegiatan sekolah. Kami ingin anak-anak merasa aman dan nyaman, sehingga tidak ada ruang bagi perundungan di lingkungan belajar,” kata Siti Nurhani.

Disiplin kehadiran siswa dipantau setiap hari melalui sistem digital sekolah. Laporan rutin diterima kepala sekolah terkait siswa yang absen tanpa keterangan. Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari pengendalian mutu.

Pendekatan persuasif tetap diutamakan dalam penegakan aturan sekolah. Namun ketegasan diberikan jika pelanggaran terjadi berulang. Orang tua dilibatkan dalam setiap proses pembinaan siswa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....