93 Ribu Orang Terdampak Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-Tibet

  • 29 Agt 2026 16:12 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Kathmandu - Tidak kurang dari 93 ribu orang terdampak banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet, Rabu 26 Agustus 2026. Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) memperingatkan jumlah korban tewas yang telah mencapai 584 orang masih berpotensi bertambah.

IFRC menyebut ribuan rumah hancur atau mengalami kerusakan parah akibat banjir tersebut. Kondisi itu diperparah dengan rusaknya jalan dan jembatan yang membuat sejumlah wilayah terdampak sulit dijangkau tim penyelamat.

“Kami meyakini sedikitnya 93 ribu orang terdampak dan sangat membutuhkan bantuan,” kata Kepala Delegasi IFRC untuk Nepal David Fisher melansir dari The Guardian, Jumat 28 Agustus 2026.

Banjir terjadi setelah bagian besar gletser di kawasan Himalaya runtuh dan menghantam lembah di Taman Nasional Langtang, Nepal. Material berupa air, lumpur, batu dan es kemudian mengalir deras melalui sungai dan lembah hingga menghancurkan permukiman, pembangkit listrik, jalan serta jembatan.

Koordinator Residen Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Nepal Lila Pieters Yahia mengatakan kerusakan akibat bencana tersebut sangat besar. Lebih dari 40 jembatan rusak berat, serta lebih dari 40 kilometer jalan rusak total.

Hingga Sabtu 29 Agustus 2026 siang, korban tewas tercatat 586 orang, terdiri atas 579 orang di Nepal dan 7 orang di wilayah Tibet, China. Otoritas Nepal juga melaporkan 2.478 orang masih hilang, termasuk warga asing yang berada di kawasan tersebut untuk bekerja, mendaki maupun melakukan ziarah.

Tim penyelamat menemukan sejumlah jenazah yang terbawa arus hingga ratusan kilometer dari lokasi bencana. Puluhan korban luka telah dievakuasi ke Kathmandu untuk mendapatkan perawatan lanjutan, sedangkan lebih dari 100 orang diselamatkan menggunakan helikopter militer Nepal.

Operasi pencarian sempat dihentikan setelah bendungan alami yang terbentuk dari timbunan material longsor meluap. Kondisi tersebut meningkatkan risiko banjir susulan dan membuat warga di Distrik Rasuwa bergegas menuju kawasan yang lebih tinggi.

Situasi serupa terjadi di Bidur, ibu kota Distrik Nuwakot, setelah Sungai Trishuli kembali mengalami kenaikan debit. Tim penyelamat yang berada di lokasi ditarik dan warga yang sempat kembali ke rumah diminta segera mengungsi.

Sebagian besar wilayah yang terdampak banjir masih hanya dapat dijangkau menggunakan helikopter militer. Di Bidur, banyak rumah tersapu banjir, sementara sejumlah bangunan yang masih berdiri tertutup lumpur dan petugas belum dapat mengevakuasi jenazah dari beberapa lokasi karena kondisi yang membahayakan.

Bencana tersebut juga memicu tawaran bantuan dari sejumlah negara. India, China, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Sri Lanka dan Bangladesh dilaporkan telah meminta pemerintah Nepal mengizinkan tim pencarian dan penyelamatan mereka membantu operasi di wilayah terdampak.

Namun, pemerintah Nepal menyatakan untuk sementara belum membutuhkan bantuan asing. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal Lok Bahadur Chhetri mengatakan operasi pencarian dan penyelamatan masih dilakukan aparat keamanan Nepal.

“The offer for help is natural,” kata Chhetri seperti dikutip The Guardian. Ia menegaskan, untuk saat ini pemerintah Nepal belum memerlukan bantuan tersebut.

Banjir bandang ini menjadi salah satu bencana besar di kawasan Himalaya dalam beberapa tahun terakhir. Kerusakan infrastruktur dan sulitnya akses menuju sejumlah wilayah membuat proses pendataan korban serta pencarian orang hilang masih terus berlangsung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....