Pengadilan Tunisia Vonis Puluhan Tahun Penjara untuk Tokoh Oposisi

  • 19 Apr 2025 16:22 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Pengadilan Tunisia menjatuhkan vonis penjara hingga puluhan tahun kepada para tokoh oposisi, pengacara, dan pengusaha, Sabtu (19/4/2025). Mereka dituduh melakukan konspirasi untuk menggulingkan pemerintahan.

Mengutip dari Reuters, vonis dijatuhkan mulai dari 13 sampai 66 tahun penjara. Namun, tidak disebutkan secara rinci vonis masing-masing terdakwa.

Persidangan kasus ini dimulai pada Maret dan sempat dua kali ditunda. Total ada 40 terdakwa yang terdiri dari golongan politisi, pengusaha, dan jurnalis.

Kasus ini disebut sebagai rekayasa politik oleh oposisi dan dianggap sebagai simbol otoritarianisme Presiden Kais Saied. Sejak membubarkan parlemen pada 2021, Saied memerintah melalui dekrit dan menguasai penuh lembaga peradilan.

“Selama hidup saya, belum pernah melihat persidangan seperti ini. Ini sandiwara, putusan sudah disiapkan, sangat memalukan dan memprihatinkan,” kata pengacara terdakwa, Ahmed Souab, dikutip dari Reuters, Sabtu (19/4/2025).

Pada 2022, Saied juga membubarkan Dewan Kehakiman Tinggi yang independen dan memecat puluhan hakim. Langkah ini menuai kritik dari kelompok pegiat HAM di dalam dan luar negeri.

Lebih dari 20 terdakwa telah melarikan diri ke luar negeri setelah didakwa. Beberapa tokoh seperti Ghazi Chaouachi dan Issam Chebbi sudah ditahan sejak 2023.

Pihak berwenang menuduh para terdakwa mencoba menggoyahkan negara dan menggulingkan Presiden Saied. Termasuk di antara mereka adalah mantan pejabat tinggi dan eks kepala intelijen Kamel Guizani.

Pemimpin oposisi terkemuka, seperti Nejib Chebbi dari koalisi Front Keselamatan Nasional, juga ikut diseret dalam kasus ini. “Pemerintah ingin mengkriminalisasi oposisi,” kata Chebbi.

Saied membantah tuduhan bahwa dirinya seorang diktator. Ia menyebut para politisi itu sebagai pengkhianat dan teroris, serta menyatakan hakim yang membebaskan mereka adalah kaki tangan lawan.

Oposisi menuduh Saied melakukan kudeta pada 2021 dan memanipulasi kasus ini untuk memberangus suara kritis. Mereka menyatakan sedang menyiapkan inisiatif untuk menyatukan kekuatan oposisi menghadapi kemunduran demokrasi.

Sebagian besar pemimpin partai oposisi telah mendekam di penjara sejak 2023. Termasuk di antaranya Abir Moussi dari Partai Konstitusional Bebas dan Rached Ghannouchi dari Ennahda, dua lawan paling vokal Saied.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....