Suhu Laut Dunia Tembus Rekor Tertinggi, Dipicu El Nino dan Perubahan Iklim

  • 25 Agt 2026 21:17 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Suhu rata-rata permukaan laut dunia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pencatatan modern dilakukan. Data layanan perubahan iklim Uni Eropa, Copernicus, menunjukkan suhu permukaan laut di luar wilayah kutub mencapai 21,1 derajat Celsius pada Sabtu 22 Agustus 2026.

Angka tersebut sedikit melampaui rekor sebelumnya, yakni 21,09 derajat Celsius yang tercatat pada tiga hari berbeda pada Maret 2024. Suhu tersebut juga jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata untuk periode yang sama dalam setahun.

Wakil Direktur Copernicus, Samantha Burgess, mengatakan rekor tersebut menjadi sinyal tekanan yang semakin besar terhadap lautan. Menurut dia, fenomena El Nino turut menambah panas, tetapi kondisi tersebut terjadi di atas pemanasan yang telah berlangsung selama puluhan tahun akibat aktivitas manusia.

“Rekor ini adalah sinyal jelas lainnya bahwa lautan berada di bawah tekanan yang semakin besar,” kata Burgess kepada BBC.

“El Nino menambah panas ke dalam sistem, tetapi itu terjadi di atas pemanasan selama beberapa dekade yang disebabkan oleh manusia,” ujarnya.

Data Copernicus menggunakan pengukuran suhu laut pada kedalaman sekitar 10 meter dari permukaan. Data tersebut dikumpulkan melalui pelampung, kapal, dan satelit yang kemudian digabungkan untuk menghasilkan perkiraan suhu laut global.

Meski selisih dengan rekor sebelumnya masih sangat tipis dan setiap perkiraan global memiliki tingkat ketidakpastian, para ilmuwan menilai waktu terjadinya rekor tersebut cukup mengkhawatirkan. Suhu laut dunia biasanya mencapai puncaknya pada Maret atau April, bukan pada Agustus.

Belahan bumi selatan memiliki wilayah laut yang lebih luas dibandingkan belahan bumi utara. Kondisi tersebut membuat perubahan suhu laut di belahan selatan memberikan pengaruh lebih besar terhadap rata-rata suhu laut global.

Para ilmuwan semakin khawatir karena suhu laut sudah mencapai rekor ketika fenomena El Nino diperkirakan masih belum mencapai puncaknya. Fenomena alam tersebut membawa air laut yang lebih hangat ke permukaan di wilayah Pasifik tropis bagian tengah dan timur.

Pemanasan di wilayah Pasifik yang sangat luas biasanya mendorong kenaikan suhu rata-rata global. El Nino diperkirakan terus menguat hingga sekitar akhir tahun dan berpotensi menjadi salah satu fenomena terkuat dalam beberapa abad terakhir.

Peneliti senior National Oceanography Centre di Southampton, Jeremy Grist, mengatakan rekor suhu laut yang terjadi lebih awal dapat menjadi indikator menguatnya El Nino. Dia memperkirakan rekor suhu laut global masih berpotensi kembali terpecahkan pada 2027.

“Fakta bahwa kita sudah memecahkan rekor merupakan indikator awal seberapa kuat El Nino berkembang,” kata Grist.

“Jika faktor-faktor lain tetap sama, kita mungkin memperkirakan rekor suhu laut kembali pecah pada Maret atau April 2027,” sambungnya.

Pemanasan laut tidak hanya terjadi di kawasan Pasifik yang menjadi pusat El Nino. Perairan di sekitar Inggris dan Eropa juga mengalami suhu yang sangat tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Direktur Sains Plymouth Marine Laboratory, Tim Smyth, mengatakan Selat Inggris bagian barat mengalami kondisi gelombang panas laut hampir terus-menerus selama lebih dari tiga tahun. Suhu di kawasan tersebut bahkan mencapai hampir 7 derajat Celsius di atas normal pada Juli.

“Ini belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Smyth.

Menurut para ilmuwan, meluasnya suhu laut yang tinggi menjadi salah satu indikasi kuat dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Lautan menyerap lebih dari 90 persen kelebihan panas yang terperangkap akibat emisi gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil.

“Data terbaru Copernicus memperkuat tren kenaikan suhu laut yang mengkhawatirkan,” ujar Smyth.

Kenaikan suhu laut dapat memperburuk cuaca ekstrem karena air laut yang lebih hangat menyediakan tambahan uap air dan energi bagi badai. Kondisi tersebut juga dapat memperparah gelombang panas di sejumlah wilayah pesisir dengan mengurangi efek pendinginan dari angin laut.

Air laut yang lebih hangat juga mengalami pemuaian sehingga berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut. Dampaknya meningkatkan risiko banjir pesisir, sementara panas ekstrem di laut dapat merusak ekosistem seperti terumbu karang.

Frekuensi gelombang panas laut yang meningkat juga memberikan tekanan lebih besar terhadap ekosistem laut. Burgess mengatakan kondisi tersebut pada akhirnya dapat mengancam masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada sumber daya laut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....