Bullying di Pondok Pesantren Harus Jadi Perhatian Bersama
- 11 Jun 2026 09:01 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Dompu - Fenomena perundungan atau bullying di lingkungan pondok pesantren dinilai bukan persoalan baru. Praktik tersebut disebut dapat terjadi di berbagai lingkungan pendidikan, termasuk pesantren, karena di dalamnya terdapat beragam karakter dan latar belakang manusia.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Mubarok Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, Ustadz Abdul Muis mengatakan, keberadaan bullying di pesantren tidak bisa dianggap sebagai program ataupun budaya resmi lembaga pendidikan pesantren. Menurutnya, tindakan tersebut lebih banyak muncul akibat perilaku pribadi antar santri yang berawal dari candaan berlebihan hingga melewati batas.
“Di pesantren itu isinya manusia dengan berbagai macam watak. Ada yang sepemikiran, ada juga yang berbeda pendapat. Dari situ kadang muncul gesekan, termasuk bullying yang berujung pada kekerasan fisik,” ujarnya, Kamis, 11 Juni 2026.
Ia menjelaskan, sebagian kasus kekerasan di lingkungan pesantren bermula dari hubungan senior dan junior yang awalnya hanya bercanda. Namun karena dilakukan secara berlebihan, korban merasa tidak nyaman hingga memicu tindakan yang tidak diinginkan.
Menurutnya, bullying di lingkungan pesantren tidak boleh dianggap sepele karena dapat berdampak serius terhadap kondisi mental maupun fisik korban. Bahkan dalam beberapa kasus, tindakan tersebut bisa dikategorikan sebagai bentuk penganiayaan.
“Bisa berdampak besar kepada korban, bahkan sampai mengancam keselamatan jiwa,” katanya.
Karena itu, peran pendidik dan pembina pesantren dinilai sangat penting untuk memberikan pengawasan serta perhatian lebih kepada para santri. Kehadiran pembina disebut menjadi salah satu kunci untuk mencegah terjadinya tindakan perundungan di lingkungan asrama maupun kegiatan belajar.
Di Pondok Pesantren Al Mubarok sendiri, kata Abdul Muis, sejak awal berdiri pihaknya berupaya menghapus budaya senioritas dan junioritas, sehingga seluruh santri ditempatkan pada posisi yang sama sebagai penuntut ilmu. “Semua di sini sama-sama belajar dan menuntut ilmu. Tidak ada yang merasa lebih tinggi ataupun lebih rendah,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memiliki pandangan bahwa kehidupan di pondok pesantren selalu berjalan indah tanpa persoalan. Menurutnya, kehidupan di pesantren tetap sama seperti kehidupan sosial pada umumnya yang memiliki sisi positif sekaligus tantangan tersendiri.
“Jangan berpikir di pondok semua orang baik dan tidak ada masalah. Di sana tetap ada berbagai karakter manusia, sehingga gesekan atau perkelahian juga bisa terjadi,” katanya.
Meski demikian, masyarakat diminta tidak takut memondokkan anak ke pesantren. Sebab, pesantren tetap menjadi tempat pendidikan karakter dan keilmuan yang memiliki banyak nilai positif bagi perkembangan anak.
Di sisi lain, Abdul Muis mengingatkan para orang tua agar lebih selektif memilih pondok pesantren. Menurutnya, saat ini banyak lembaga yang menggunakan label pesantren namun tidak memiliki sanad keilmuan maupun sistem pendidikan yang jelas.
Ia juga menyoroti adanya pihak-pihak yang diduga memanfaatkan lembaga pesantren untuk kepentingan tertentu, termasuk politik praktis. Kondisi tersebut dinilai dapat mencoreng citra dunia pesantren yang sejatinya fokus pada pendidikan serta pembinaan akhlak para santri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....