Stoikisme #14: Semakin Banyak yang Kita Inginkan, Mengapa Semakin Sulit Merasa Cukup?
- 22 Sep 2026 11:53 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Pernahkah Anda mendapatkan sesuatu yang sudah lama diinginkan, tetapi beberapa hari kemudian justru menginginkan sesuatu yang baru?
Ponsel baru terasa menyenangkan sampai muncul model yang lebih baru. Gaji naik terasa membahagiakan sampai melihat orang lain mendapatkan lebih banyak. Rumah sudah nyaman sampai melihat rumah orang lain yang lebih besar. Tanpa sadar, kita masuk ke dalam sebuah perlombaan yang tidak memiliki garis akhir.
Selalu ingin lebih.
Masalahnya bukan memiliki keinginan. Keinginan adalah bagian normal dari kehidupan. Kita membutuhkan tujuan untuk berkembang, bekerja, dan memperbaiki hidup. Namun, ada perbedaan antara memiliki keinginan dan menjadi budak keinginan.
Stoikisme mengajarkan kita untuk memahami perbedaan tersebut. Bayangkan seseorang berkata, "Saya akan bahagia kalau punya mobil baru." Setelah mobil terbeli, kebahagiaan itu mungkin muncul. Tetapi tidak lama kemudian, muncul keinginan lain. "Kalau punya mobil yang lebih mahal, pasti lebih bahagia."
Kemudian rumah, penghasilan, jabatan, kemudian pengakuan. Masalahnya bukan pada mobil, rumah, atau jabatan. Masalahnya adalah ketika kita terus menggantungkan rasa cukup pada sesuatu yang berada di luar diri kita. Karena begitu satu keinginan terpenuhi, keinginan berikutnya muncul.
Akibatnya, kita terus mengejar.
Dalam Stoikisme, hidup sederhana bukan berarti hidup tanpa ambisi. Hidup sederhana berarti mampu membedakan apa yang benar-benar kita butuhkan dan apa yang hanya kita inginkan.
Coba perhatikan kehidupan sehari-hari.
Berapa banyak barang yang kita beli tetapi jarang digunakan? Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk melihat kehidupan orang lain di media sosial? Dan berapa kali kita merasa kurang hanya karena melihat seseorang memiliki sesuatu yang tidak kita miliki?
Media sosial membuat persoalan ini semakin mudah terjadi. Kita melihat orang berlibur. Orang membeli rumah. Orang mendapatkan pekerjaan baru. Orang menikah. Orang memiliki kendaraan baru. Yang kita lihat hanya potongan kehidupan mereka. Namun, kita membandingkannya dengan seluruh kehidupan kita.
Akhirnya, kehidupan yang sebenarnya sudah cukup terasa kurang.
Stoikisme mengajak kita mengubah pertanyaan.
Bukan terus bertanya:
"Apa lagi yang belum saya punya?"
Tetapi:
"Apa yang sebenarnya sudah saya miliki?"
Ada keluarga, teman, ada kesehatan yang masih bisa dijaga, pekerjaan, waktu dan ada kesempatan untuk belajar. Mungkin tidak semuanya sempurna. Tetapi tidak harus sempurna untuk tetap berharga.
Bukan berarti kita harus berhenti mengejar impian.
Anda tetap boleh ingin memiliki rumah yang lebih baik. Tetap boleh ingin meningkatkan penghasilan. Tetap boleh memiliki target besar. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai kebahagiaan selalu ditempatkan di masa depan.
"Kalau sudah punya ini, saya akan bahagia."
"Kalau sudah mencapai itu, saya akan tenang."
Kalimat seperti ini bisa membuat kita melewatkan kehidupan yang sedang berlangsung sekarang. Karena ketika tujuan akhirnya tercapai, sering kali kita justru membuat tujuan baru. Maka, belajar merasa cukup bukan berarti berhenti berkembang. Merasa cukup berarti mampu menghargai apa yang sudah ada sambil tetap berusaha mendapatkan apa yang kita perlukan.
Ada perbedaan besar antara:
"Saya ingin lebih baik." dan "Saya tidak akan pernah cukup sebelum memiliki lebih banyak."
Yang pertama bisa menjadi motivasi. Yang kedua bisa menjadi perlombaan tanpa akhir. Cobalah latihan sederhana hari ini. Sebelum membeli sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan, tanyakan:
"Apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau saya hanya sedang ingin merasa lebih baik?"
Sebelum membandingkan diri dengan orang lain, tanyakan:
"Apakah kehidupan orang tersebut benar-benar menjadi ukuran kehidupan saya?" Dan sebelum mengeluh tentang sesuatu yang tidak dimiliki, tanyakan: "Apa yang sudah saya miliki tetapi selama ini saya anggap biasa?"
Mungkin kita akan menemukan bahwa hidup ternyata tidak sekurang yang selama ini kita pikirkan. Karena terkadang, kebahagiaan bukan datang ketika kita mendapatkan lebih banyak. Kebahagiaan justru mulai terasa ketika kita menyadari bahwa sebagian dari apa yang kita miliki ternyata sudah cukup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....