Stoikisme #3: Mengapa Pendapat Orang Lain Terlalu Mudah Mengendalikan Hidup Kita?

  • 30 Jul 2026 06:58 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Pernahkah Anda menghapus sebuah unggahan hanya karena tidak mendapat banyak "like"? Atau mengurungkan niat melakukan sesuatu karena takut dianggap aneh oleh orang lain? Jika jawabannya "ya", ada kemungkinan Anda sedang menjalani hidup berdasarkan penilaian orang lain, bukan berdasarkan nilai yang Anda yakini sendiri.

Tanpa disadari, banyak orang menjadikan opini orang lain sebagai kompas kehidupan. Kita memilih pakaian agar dipuji. Bekerja demi pengakuan. Bahkan terkadang menutupi jati diri hanya agar diterima dalam lingkungan tertentu.

Pertanyaannya, sampai kapan kita harus hidup seperti itu?

Filsafat Stoik memiliki jawaban yang sederhana, tetapi sangat kuat. Anda tidak bisa mengendalikan apa yang dipikirkan orang lain tentang diri Anda. Kalimat ini mungkin terdengar mengecewakan. Namun justru di sanalah letak kebebasannya. Coba pikirkan, seberapa sering Anda berusaha menjadi pribadi yang baik, tetapi tetap saja ada orang yang tidak menyukai Anda? Atau sudah bekerja keras, namun masih dianggap kurang? Kenyataannya, sebaik apa pun diri Anda, selalu ada orang yang memiliki penilaian berbeda. Mengapa?

Karena setiap orang melihat dunia melalui pengalaman, keyakinan, dan sudut pandangnya masing-masing. Penilaian mereka lebih banyak mencerminkan cara mereka berpikir daripada siapa diri Anda sebenarnya. Bayangkan sebuah pohon mangga. Bagi seorang petani, pohon itu adalah sumber penghasilan. Bagi anak-anak, tempat bermain. Bagi tukang kayu, sumber kayu. Sementara bagi orang yang alergi serbuk bunga, pohon itu mungkin dianggap mengganggu.

Pohonnya tetap sama. Yang berbeda hanyalah cara setiap orang memandangnya. Begitu pula dengan diri kita.

Stoikisme mengajarkan bahwa yang seharusnya menjadi perhatian bukanlah apakah semua orang menyukai kita, melainkan apakah kita sudah bertindak dengan jujur, adil, dan bertanggung jawab.

Jika jawabannya "ya", maka opini orang lain tidak lagi memiliki kekuatan untuk menentukan harga diri kita.

Sayangnya, media sosial sering membuat kita lupa akan hal itu. Jumlah pengikut, komentar, dan tanda suka seolah menjadi ukuran nilai seseorang. Ketika angkanya tinggi, kita merasa berhasil. Ketika angkanya turun, kita merasa gagal. Padahal angka hanyalah angka. Nilai diri seseorang tidak pernah bisa dihitung dari notifikasi di layar ponsel.

Filsuf dan Kaisar Romawi, , pernah menulis bahwa kita terlalu sibuk memikirkan apa yang dipikirkan orang lain, hingga lupa memperbaiki diri sendiri. Pesan itu masih terasa relevan meski telah ditulis hampir dua ribu tahun yang lalu. Bukan berarti kita harus mengabaikan kritik. Kritik yang membangun tetap layak didengar. Namun ada perbedaan besar antara belajar dari masukan dan menggantungkan kebahagiaan pada penilaian orang lain.

Mulai hari ini, cobalah bertanya kepada diri sendiri setiap kali merasa cemas karena opini orang lain.

"Apakah saya sedang berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, atau hanya sedang berusaha menyenangkan semua orang?" Karena kenyataannya, Anda tidak akan pernah bisa membuat semua orang puas. Namun Anda selalu bisa memilih menjadi pribadi yang selaras dengan nilai-nilai yang Anda pegang.

Pada artikel berikutnya, kita akan membahas mengapa kegagalan bukanlah musuh menurut Stoikisme, melainkan salah satu guru terbaik dalam kehidupan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....