Merajut: Aktivitas Sederhana, Terapi Pikiran dan Emosi
- 16 Mei 2025 21:41 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram : Dalam siaran Sore Ceria Pro 2 FM RRI Mataram, Baiq Febriana Lylia Faradisa, Koordinator Sanggar Utas yang akrab disapa Lia, mengungkapkan sisi lain dari aktivitas merajut yang mungkin belum banyak disadari. Menurutnya, di balik kegiatan sederhana yang hanya melibatkan benang dan jarum, tersimpan berbagai manfaat besar bagi pikiran dan kesehatan emosi.
"Merajut bukan hanya tentang membuat barang estetik atau fungsional. Lebih dari itu, ia mengasah kesabaran, ketelitian, hingga menjaga daya ingat," ujar Lia, mewakili Sanggar Utas, komunitas merajut yang aktif di Kota Mataram.
1. Melatih Kesabaran
Merajut, kata Lia, adalah proses yang menuntut waktu dan konsistensi. Tak ada jalan pintas untuk menyelesaikan sebuah karya rajutan baik itu amigurumi sederhana maupun tempat tisu yang kompleks.
"Setiap baris dan tusukan mengajarkan kita untuk hadir penuh dalam momen," jelasnya. Aktivitas ini pun menjadi semacam latihan mindfulness yang menenangkan.
2. Mengasah Ketelitian
Merajut juga mendorong seseorang untuk fokus dan teliti. Kesalahan sekecil apa pun dalam mengikuti pola bisa berdampak besar pada hasil akhir.
"Merajut membiasakan kita untuk memperhatikan detail dan belajar dari kesalahan secara langsung," tambah Lia.
Inilah yang membuatnya menjadi sarana belajar yang reflektif sekaligus produktif.
3. Meningkatkan Daya Serap Informasi
Aktivitas merajut, terutama ketika mempelajari pola baru, melatih otak untuk memahami struktur dan logika visual. Hal ini bermanfaat dalam mengasah cara belajar secara visual dan kinestetik.
"Tanpa disadari, otak kita sedang bekerja keras menyerap informasi sambil tangan bergerak aktif," kata Lia.
4. Menjaga dan Meningkatkan Daya Ingat
Tak kalah penting, Lia menyoroti bahwa merajut memiliki dampak positif bagi fungsi kognitif, khususnya pada usia lanjut. Kegiatan seperti mengingat pola, menghitung tusukan, dan mengulang teknik tertentu menjadi bentuk ‘senam otak’ yang menyenangkan.
"Merajut bisa membantu otak tetap aktif dan terlatih secara alami," jelasnya.
Lia juga mengungkapkan bahwa merajut bukan sekadar hobi, melainkan bentuk terapi yang mudah diakses siapa saja.
"Kalau sedang stres, gelisah, atau butuh jeda dari rutinitas, coba saja merajut. Biarkan tangan bekerja, dan pikiran Anda beristirahat," tutupnya.
Melalui kegiatan merajut yang mereka hidupkan di Sanggar Utas, Lia dan komunitasnya ingin terus mengajak masyarakat menjadikan kerajinan tangan sebagai media penguatan diri baik secara mental, emosional, maupun sosial.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....