Sejarah Emoji, Dari Simbol Sederhana hingga Bahasa Digital
- 30 Agt 2026 05:51 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Pernahkah membayangkan bagaimana emoji bisa menjadi bagian penting dari cara kita berkomunikasi sehari-hari? Saat ini, hampir setiap percakapan di media sosial dan aplikasi pesan menggunakan emoji.
Simbol kecil seperti wajah tersenyum, hati, jempol, hingga berbagai jenis makanan dapat membantu menyampaikan perasaan atau maksud yang terkadang sulit diungkapkan hanya dengan kata-kata. Namun, perjalanan emoji ternyata sudah dimulai sejak lebih dari dua dekade lalu.
Emoji modern pertama kali dikembangkan di Jepang pada akhir 1990-an. Salah satu tokoh penting dalam sejarah emoji adalah Shigetaka Kurita, yang pada saat itu bekerja di perusahaan telekomunikasi Jepang, NTT DoCoMo.
Pada sekitar tahun 1999, Kurita bersama timnya mengembangkan kumpulan simbol berukuran kecil untuk digunakan dalam layanan komunikasi melalui telepon seluler. Kumpulan awal tersebut terdiri dari sekitar 176 emoji dengan desain sederhana berukuran 12 × 12 piksel. Tujuannya adalah membuat komunikasi digital menjadi lebih praktis dan membantu pengguna menyampaikan informasi maupun emosi dengan cepat.
Emoji sering disamakan dengan emoticon, padahal keduanya berbeda. Emoticon dibuat menggunakan kombinasi karakter keyboard. Sementara itu, emoji merupakan simbol atau gambar yang memang dirancang sebagai karakter visual. Emoticon sudah populer sejak era komputer dan internet awal, sedangkan emoji berkembang pesat setelah hadir di perangkat telepon seluler. Pada awalnya emoji lebih banyak digunakan di Jepang. Namun, popularitasnya kemudian menyebar ke berbagai negara seiring berkembangnya smartphone dan media sosial.
Perkembangan besar terjadi ketika karakter emoji mulai dimasukkan ke dalam standar Unicode. Unicode memungkinkan karakter dari berbagai bahasa dan sistem tulisan ditampilkan secara lebih konsisten di berbagai perangkat. Apple kemudian ikut mempopulerkan emoji secara global setelah menghadirkan dukungan emoji dalam sistem operasinya. Setelah itu, berbagai platform seperti Google, Microsoft, dan perusahaan teknologi lainnya juga mengembangkan desain emoji mereka sendiri.
Emoji yang tersedia saat ini jauh lebih beragam dibandingkan koleksi awal tahun 1999. Tidak hanya wajah dan ekspresi, emoji kini mencakup makanan, hewan, kendaraan, aktivitas, profesi, simbol, hingga berbagai representasi manusia. Emoji juga terus mengalami perkembangan agar komunikasi digital menjadi lebih inklusif, misalnya melalui variasi warna kulit, jenis kelamin, profesi, dan karakter lainnya. Pengembangan emoji sendiri dikoordinasikan dalam ekosistem Unicode Consortium, organisasi yang bertanggung jawab terhadap standar Unicode.
Salah satu alasan emoji mudah diterima adalah kemampuannya memberikan nuansa emosional dalam komunikasi tertulis. Satu simbol kecil dapat memberikan konteks mengenai perasaan atau maksud seseorang. Emoji akhirnya tidak hanya menjadi hiasan dalam pesan, tetapi berkembang menjadi bagian dari budaya komunikasi digital. Menariknya, satu emoji juga bisa memiliki makna yang berbeda tergantung konteks, generasi, budaya, bahkan platform yang digunakan.
Jadi, ketika mengirim pesan dengan emoji, sebenarnya sedang menggunakan bagian dari sejarah panjang komunikasi manusia,dari simbol sederhana berukuran kecil hingga menjadi bahasa visual yang digunakan oleh jutaan orang di seluruh dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....