Dari Lombok ke Ibu Kota: Ketika Tenun, Ketak dan Mutiara Bercerita di “Persit Bisa 2”

  • 04 Mei 2026 12:19 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Di sebuah sudut Pulau Lombok, tangan-tangan terampil para perajin bekerja dengan penuh ketelatenan. Benang-benang ditenun, anyaman ketak dibentuk, dan mutiara dipoles hingga memancarkan kilau lembut. Semua proses itu bukan sekadar produksi, melainkan perjalanan panjang tradisi yang kini siap tampil di panggung nasional.

Perjalanan itu bermuara pada satu tujuan: “Persit Bisa 2” yang akan digelar di Balai Kartini pada 7–9 Mei 2026. Bagi Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 162 PD IX/Udayana, ajang ini bukan sekadar pameran, tetapi kesempatan memperkenalkan identitas Lombok melalui karya terbaiknya.

Tiga produk unggulan dibawa dengan penuh kebanggaan: Tenun Pringgasela, Tas Ketak, dan Mutiara Lombok. Ketiganya telah melewati proses kurasi ketat sebelum akhirnya diberangkatkan dari Pelabuhan Lembar menuju Pelabuhan Tanjung Priok—sebuah perjalanan laut selama dua hari dua malam yang sarat makna.

Tenun Pringgasela, misalnya, bukan hanya selembar kain. Ia adalah cerita tentang perjumpaan budaya. Motif-motifnya merekam jejak interaksi masyarakat Lombok dengan Makassar dan Bugis di masa lalu. Setiap helai benang seolah menyimpan dialog lintas generasi—tradisi yang tetap hidup, namun terus beradaptasi.

Di sisi lain, Tas Ketak hadir sebagai simbol kreativitas tanpa batas. Anyaman tradisional yang dulu identik dengan fungsi sederhana, kini bertransformasi menjadi aksesori fesyen yang modern dan elegan. Sentuhan warna yang berani dan desain yang segar menjadikannya tampil chic, terlebih dengan tambahan Mutiara Mabe yang memperkuat karakter eksklusifnya.

Sementara itu, Mutiara Lombok tampil memikat dengan pesona yang tak lekang oleh waktu. Beragam desain perhiasan—dari kalung hingga bros—menghadirkan perpaduan antara klasik dan modern. Mutiara Mabe, dengan bentuk setengah lingkaran yang unik, menjadi salah satu daya tarik utama yang menawarkan keindahan berbeda, sekaligus nilai artistik tinggi.

Di balik semua itu, ada semangat besar yang menyatukan: membawa Lombok lebih dekat ke panggung nasional. Persiapan dilakukan dengan serius, mulai dari kualitas produk hingga ketersediaan stok untuk memenuhi antusiasme pengunjung.

Ajang “Persit Bisa 2” menjadi lebih dari sekadar etalase produk. Ia adalah ruang pertemuan antara tradisi dan modernitas, antara lokalitas dan nasionalitas. Di sana, setiap karya bukan hanya dipamerkan, tetapi juga bercerita—tentang asal-usul, proses, dan harapan.

Dan ketika pengunjung melangkah ke booth nomor 17 atau 64 nanti, mereka tidak hanya melihat produk. Mereka sedang menyaksikan kisah Lombok yang dirajut, dianyam, dan dipoles dengan penuh cinta—siap bersinar di ibu kota.(RRI/Joe)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....