Tak Lagi Monoton, Disperindag Lombok Tengah Gaspol Inovasi Kerajinan Lokal

  • 17 Des 2025 20:26 WIB
  •  Mataram

KBRN, Lombok Tengah: Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Lombok Tengah terus mendorong penguatan sektor industri kreatif lokal melalui berbagai program pelatihan bagi para pengrajin. Salah satunya dengan menggelar pelatihan diversifikasi produk berbahan tenun yang disesuaikan dengan tren pasar saat ini.

Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Lombok Tengah, Baiq Yuliana Safriani, mengatakan pihaknya telah melaksanakan pelatihan diversifikasi produk berbahan tenun untuk dua angkatan yang digelar pada bulan November dan Desember. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan nilai tambah produk tenun tradisional agar lebih diminati pasar.

“Pelatihannya fokus pada diversifikasi produk, seperti pembuatan tas berbahan tenun, home decor, hingga perpaduan tenun dengan kain atau bahan lain. Jadi tidak hanya kain, tetapi sudah menjadi produk siap jual,” ujar Baiq Yuliana Safriani.

Selain tenun, Disperindag Lombok Tengah juga mendukung pengembangan kerajinan anyaman pandan yang dikombinasikan dengan bahan lain seperti eceng gondok dan rotan. Namun, khusus program tersebut berada di bawah naungan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Lombok Tengah sebagai upaya mengakomodir para pengrajin lokal.

“Setelah pelatihan, para pengrajin tidak kami lepas begitu saja. Ada pembinaan lanjutan dari Dekranasda di setiap event, termasuk ketika ada pemesanan antar-Dekranasda, baik di tingkat daerah maupun nasional. Pengrajin yang sudah dilatih akan kami libatkan,” jelasnya.

Untuk mendukung program tersebut, Dekranasda Lombok Tengah menyiapkan anggaran khusus yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU). Setiap pelatihan dialokasikan anggaran sebesar Rp30 juta, dengan jumlah peserta yang telah dilatih mencapai sekitar 50 orang.

Tidak hanya itu, Disperindag Lombok Tengah juga melaksanakan pelatihan bagi masyarakat di wilayah dengan potensi tanaman tembakau yang besar, seperti di Kecamatan Praya Timur. Pelatihan ini menggunakan anggaran yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

“Di wilayah penghasil tembakau, kami menyasar istri petani dan buruh tembakau. Mereka kami latih membuat kerajinan ketak dengan bentuk dasar yang sama, tetapi diberi inovasi sesuai tren sekarang,” katanya.

Menurut Baiq Yuliana, wilayah Praya Timur dan Beleka memang dikenal sebagai pusat kerajinan ketak. Namun, tantangannya adalah bagaimana pengrajin mampu berinovasi agar produknya tidak monoton.

“Sebetulnya mereka sudah bisa menganyam, tapi perlu pengembangan desain. Misalnya ketak dibuat menjadi kaca hias, home decor, tas, dan produk kreatif lainnya yang punya nilai jual lebih tinggi,” jelasnya.

Untuk menjaga kualitas hasil pelatihan, Disperindag Lombok Tengah menggandeng pelatih dari kalangan pengusaha profesional yang memiliki kemampuan desain mumpuni serta memahami tren pasar.

“Pelatih yang kami libatkan adalah pelaku usaha yang sudah berpengalaman, profesional, dan paham selera pasar. Jadi apa yang diajarkan benar-benar aplikatif,” ungkapnya.

Hasil karya para pengrajin yang telah mengikuti pelatihan juga dibantu promosinya oleh Disperindag Lombok Tengah, baik melalui pameran, event Dekranasda, maupun jejaring pemasaran lainnya.

“Harapannya, produk-produk ini semakin dikenal dan diminati. Dengan begitu, pengrajin bisa terus berkembang dan industri kreatif Lombok Tengah semakin maju,” pungkas Baiq Yuliana. Safriani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....