Deklarasi BEEF NTB, Buka Akses Pasar dan Edukasi bagi Ribuan Peternak NTB

  • 07 Jun 2026 12:39 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Tengah – Asosiasi BEEF NTB (Business, Education, Expert and Farmer of West Nusa Tenggara Barat) resmi dideklarasikan dalam rangkaian Grand Launching BEEF NTB yang digelar di Kota Mataram, Minggu 7 Juni 2026. Kehadiran asosiasi ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi yang menyatukan pelaku usaha, akademisi, tenaga ahli, dan peternak untuk memperkuat sektor peternakan di Nusa Tenggara Barat.

Panitia Grand Launching BEEF NTB, Ahmad Syamsir, mengatakan asosiasi tersebut lahir dari kebutuhan untuk menghadirkan sinergi antar empat pilar utama yang selama ini belum terwadahi dalam satu organisasi.

“Tujuan kami membentuk BEEF NTB adalah menyatukan empat pilar, yaitu dunia bisnis, akademisi, para ahli seperti dokter hewan dan tenaga teknis peternakan, serta para peternak. Kami ingin membangun kekuatan bersama menuju NTB sebagai Lumbung Ternak Nasional,” ujar Syamsir, Minggu 7 Juni 2026.

Menurutnya, selama ini berbagai elemen yang berkaitan dengan peternakan masih berjalan sendiri-sendiri sehingga belum mampu memberikan dampak maksimal terhadap penguatan sektor peternakan daerah.

“Belum ada wadah yang benar-benar menyatukan seluruh unsur ini. Harapan kami, ketika empat pilar ini bersatu, peternakan di NTB akan semakin kuat dan mampu membangkitkan kembali minat masyarakat untuk beternak,” ujarnya.

Deklarasi BEEF NTB dihadiri berbagai unsur yang berasal dari dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi profesi, hingga kelompok peternak dari sejumlah kabupaten dan kota di NTB.

Dari unsur bisnis hadir sejumlah perusahaan dan sponsor yang bergerak di bidang peternakan dan kesehatan hewan.

Sementara dari kalangan akademisi hadir Dekan Fakultas Peternakan Universitas Mataram (Unram), Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma), dan Universitas Nahdlatul Wathan (UNW).

Selain itu, kegiatan juga dihadiri perwakilan Forum Dokter Hewan Indonesia NTB, Forum Inseminator, Forum Petugas Medis Ternak, serta perwakilan peternak dari Lombok Timur, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara dan Kota Mataram.

Syamsir menjelaskan, salah satu fokus utama BEEF NTB adalah membantu peternak mendapatkan akses pasar yang lebih luas dan harga jual yang lebih menguntungkan.

“Ke depan kami akan hadir langsung di pasar-pasar hewan melalui berbagai kegiatan pelayanan. Di dalam asosiasi ini juga tergabung para pedagang sapi, pelaku usaha, hingga rumah potong hewan. Jadi ketika peternak ingin menjual ternaknya, cukup menghubungi asosiasi dan kami akan membantu mencarikan akses pasar agar mereka tidak dirugikan dan mendapatkan harga yang layak,” ujarnya.

Tidak hanya soal pemasaran, BEEF NTB juga akan menjalankan program edukasi dan pendampingan peternak secara berkelanjutan. Program tersebut akan dilakukan melalui roadshow ke kabupaten, kecamatan hingga desa dengan melibatkan akademisi dan praktisi kesehatan hewan.

“Kami akan menghadirkan akademisi dan dokter hewan langsung ke lapangan untuk memberikan edukasi tentang manajemen kandang, pembuatan pakan yang baik, hingga pengelolaan kesehatan ternak. Ini menjadi sarana bagi peternak untuk mendapatkan ilmu dan informasi yang selama ini belum mudah mereka akses,” ujarnya.

Ia menambahkan, asosiasi juga akan menjadi jembatan antara peternak dan pemerintah sehingga berbagai program bantuan dapat tersalurkan secara lebih tepat sasaran.

“Keunggulan bergabung di BEEF NTB bukan hanya kemudahan menjual ternak, tetapi juga kemudahan mendapatkan informasi, pendampingan, edukasi, hingga akses terhadap program-program pemerintah,” ujarnya.

Saat ini, kata Syamsir, sekitar 1.200 peternak telah tergabung dalam asosiasi tersebut. Jumlah itu berasal dari ribuan peternak yang tersebar di seluruh wilayah NTB.

“Yang hadir hari ini memang perwakilan-perwakilan peternak, tetapi secara keseluruhan anggota yang sudah tergabung sekitar 1.200 orang. Ini menjadi modal awal yang sangat baik untuk membangun gerakan bersama,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa BEEF NTB akan membentuk kepengurusan hingga tingkat kabupaten, kecamatan dan desa agar manfaat organisasi dapat dirasakan langsung oleh para peternak.

“Kami ingin penguatan empat pilar ini sampai ke tingkat bawah. Karena itu nanti akan ada perwakilan di setiap daerah sehingga program-program asosiasi bisa berjalan lebih efektif,” ujarnya.

Syamsir bahkan menyebut konsep kolaborasi yang diterapkan BEEF NTB merupakan yang pertama di Indonesia.

“Setahu kami, ini merupakan konsep pertama di Indonesia yang menyatukan dunia usaha, akademisi, tenaga ahli dan peternak dalam satu wadah. Kami berharap model ini bisa menjadi contoh dalam pengembangan sektor peternakan nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum BEEF NTB, Rahmad Wahyudi, mengatakan deklarasi asosiasi tersebut berawal dari diskusi sederhana yang berkembang menjadi sebuah gerakan bersama untuk memajukan peternakan daerah.

“BEEF NTB ini lahir dari sebuah diskusi kecil. Kami melihat ada kebutuhan besar untuk menghadirkan wadah yang bisa mempertemukan seluruh pihak yang peduli terhadap kemajuan peternakan di NTB,” ujarnya.

Rahmad menegaskan, asosiasi tidak ingin menjanjikan hal-hal yang berlebihan kepada peternak. Namun pihaknya berkomitmen menghadirkan edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan sebagai fondasi utama peningkatan kualitas peternakan.

“Mungkin kami tidak bisa menjanjikan sesuatu yang muluk-muluk. Tetapi yang pasti bisa kami berikan kepada peternak dan para pelaku usaha adalah edukasi, pendampingan, serta ruang kolaborasi untuk berkembang bersama,” ujarnya.

Ia berharap keberadaan BEEF NTB mendapat dukungan dari pemerintah daerah baik tingkat kabupaten/kota maupun provinsi agar berbagai program penguatan peternakan dapat berjalan maksimal.

“Kami berharap pemerintah dapat memberikan perhatian dan pembinaan kepada asosiasi ini sehingga keberadaan BEEF NTB benar-benar mampu memberikan manfaat bagi peternak dan mendukung pembangunan peternakan di Nusa Tenggara Barat,” ungkapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....