Optimisme Ekonomi Dorong Ekspansi Bank Dinar, Funding Tumbuh 25 Persen
- 06 Mei 2026 12:37 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Syariah Dinar Ashri (Bank Dinar), mencatat kinerja perusahaan lokal Nusa Tenggara Barat ini menunjukkan tren positif pada kwartal I tahun 2025. Pertumbuhan terjadi pada berbagai indikator utama, mulai dari pembiayaan, penghimpunan dana (funding), hingga aset perusahaan.
Direktur Utama Bank Dinar, Mustaen, mengungkapkan bahwa dana pihak ketiga (funding) tumbuh sebesar 12,24 persen atau setara Rp165 miliar dalam empat bulan pertama tahun ini. “Posisi DPK kami per April mencapai Rp1,519 triliun. Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat yang terus meningkat,” ujarnya, saat di temui di ruang kerjanya, Rabu 6 Mei 2026.
Dari sisi penyaluran pembiayaan, Bank Dinar juga mencatat pertumbuhan yang cukup kuat. Hingga April 2026, total pembiayaan mencapai Rp2,204 triliun atau meningkat sekitar Rp305 miliar dibandingkan posisi sebelumnya.
“Dalam waktu empat bulan, pembiayaan kami sudah naik sekitar 16 persen,” kata Mustaen.
Sejalan dengan itu, total aset Bank Dinar turut mengalami kenaikan dan mencapai Rp2,420 triliun per April 2026. Pertumbuhan ini mencerminkan ekspansi bisnis yang berjalan konsisten di berbagai lini.
“Pertumbuhan funding mencapai 25 persen atau setara Rp273 miliar pada tahun 2025. Sementara pembiayaan juga meningkat signifikan hingga mencapai sekitar Rp686 miliar,” ujar Mustaen.
Dari sisi aset, Bank Dinar mencatat kenaikan yang cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, total aset mencapai sekitar Rp2,1 triliun atau tumbuh 46 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut setara dengan sekitar Rp686 miliar dibandingkan periode sebelumnya.
Mustaen menjelaskan, struktur aset Bank Dinar didominasi oleh aset produktif, terutama pada sektor pembiayaan. Dari total aset sekitar Rp2,1 triliun, pembiayaan mencapai hampir Rp1,9 triliun.
“Artinya hampir seluruh aset kami bersifat produktif. Selisih sekitar Rp200 miliar itu terdiri dari kas dan penempatan di bank, sementara aset non-produktif seperti gedung dan kendaraan nilainya relatif kecil, di bawah Rp50 miliar,” katanya.
Ia menegaskan, pihaknya tidak mengandalkan peningkatan nilai aset tetap (fixed asset) sebagai strategi pertumbuhan. Fokus utama tetap pada penguatan sektor produktif yang memberikan nilai tambah secara ekonomi.
“Kami tidak ingin menggelembungkan aset dari sektor non-produktif. Pertumbuhan harus berasal dari aktivitas yang benar-benar menghasilkan,” ujar Mustaen.
Lebih lanjut, Mustaen menyebut pertumbuhan kinerja tersebut ditopang oleh kemampuan perusahaan dalam membaca peluang pasar serta menjaga keseimbangan antara optimisme dan kehati-hatian dalam ekspansi bisnis.
Dari sisi portofolio pembiayaan, sekitar 53 persen masih didominasi sektor konsumtif, sementara sisanya berasal dari sektor produktif dan komoditas seperti emas yang juga menunjukkan pertumbuhan.
Menurutnya, kondisi ekonomi nasional yang ditopang oleh kuatnya konsumsi domestik menjadi salah satu faktor utama stabilitas pertumbuhan perbankan.
“Perputaran uang di Indonesia relatif stabil karena konsumsi domestik kuat. Ini menjadi fondasi penting bagi sektor perbankan untuk tetap tumbuh,” katanya.
Mustaen juga menyatakan dukungannya terhadap berbagai program pemerintah yang dinilai mampu mendorong perputaran ekonomi di daerah. Program tersebut dinilai memberikan dampak langsung terhadap pelaku usaha lokal, termasuk petani dan peternak.
“Program pemerintah mendorong uang berputar di daerah, membuka peluang usaha, dan meningkatkan permintaan terhadap produk lokal. Ini tentu berdampak positif bagi ekonomi,” ujarnya.
Ke depan, Bank Dinar tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional, meski di tengah tantangan global seperti konflik geopolitik dan tekanan harga komoditas. “Kami tetap optimistis. Pertumbuhan ekonomi harus terus dijaga, dan sektor perbankan harus tetap ekspansif dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....