Dampak Konflik Timur Tengah, DPR Prediksi Tekanan Kenaikan Harga Tiket Pesawat

  • 01 Apr 2026 08:26 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Anggota Komisi V DPR RI, Mori Hanafi, mengungkapkan potensi kenaikan harga tiket pesawat seiring dampak konflik global terhadap sektor penerbangan. Meski saat ini harga bahan bakar avtur di dalam negeri masih relatif stabil, tekanan dari maskapai disebut mulai terasa.

“Alhamdulillah harga bahan bakar kita belum naik. Tapi kalau konflik ini berlangsung lebih lama, sangat mungkin ada kenaikan harga,” ujar Mori Hanafi, saat melakukan kunjungan kerja ke Mataram, Nusa Tenggara Barat, Selasa 31 Maret 2026.

Ia menjelaskan, sejumlah maskapai telah mengajukan penyesuaian tarif batas atas (TBA) dengan kisaran kenaikan antara 15 hingga 30 persen. Menurutnya, pengajuan tersebut menjadi sinyal awal adanya tekanan biaya operasional yang dapat berdampak langsung pada harga tiket.

Mori menambahkan, jika konflik berkepanjangan hingga memicu kelangkaan bahan bakar, maka kenaikan harga tiket tidak dapat dihindari.

Ia mencontohkan kondisi di Amerika Serikat, di mana harga bahan bakar mengalami lonjakan signifikan.

Selain berdampak pada harga tiket, situasi global juga berpotensi menekan mobilitas masyarakat, khususnya untuk perjalanan internasional.

“Orang cenderung menunda perjalanan wisatanya, terutama ke wilayah seperti Timur Tengah dan Eropa, karena ada kekhawatiran terkait keamanan dan kepastian perjalanan,” katanya.

Di sisi lain, kenaikan harga tiket pesawat berpotensi mendorong masyarakat beralih ke moda transportasi darat. Namun, Mori menilai kondisi terminal dan layanan transportasi darat di sejumlah daerah masih perlu pembenahan.

“Kalau harga pesawat naik tinggi, alternatifnya tentu bus. Tapi kita lihat terminal darat masih kumuh, pedagang bercampur, belum tertata. Ini harus dibenahi agar masyarakat nyaman,” ujarnya.

Ia menegaskan, keputusan kenaikan tarif batas atas tiket pesawat berada di tangan Kementerian Perhubungan, sehingga tidak dapat dilakukan secara sepihak oleh maskapai.

Lebih lanjut, Mori juga mengingatkan adanya potensi pengurangan frekuensi penerbangan jika maskapai mengalami kerugian akibat tingginya biaya operasional. “Kalau mereka rugi, satu kali terbang bisa ratusan juta. Maka kemungkinan pengurangan operasional itu bisa terjadi,” katanya.

Komisi V DPR, lanjutnya, berharap konflik global tidak berlangsung lama agar tidak berdampak luas terhadap sektor transportasi dan mobilitas masyarakat di dalam negeri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....