Belajar dari KAN Jabung, Koperasi Pertanian dengan Perputaran Bisnis Rp400 Miliar

  • 19 Jun 2026 05:29 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Malang – Koperasi Produsen Agro Niaga Syariah (KAN) Jabung di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, terus memperkuat perannya sebagai koperasi modern yang mengelola rantai nilai pertanian dan peternakan secara terintegrasi, mulai dari penyediaan sarana produksi hingga pemasaran produk jadi.

Presiden Direktur KAN Jabung, Eva Marliyanti, mengatakan koperasi tersebut berdiri pada tahun 1979 dengan nama awal Koperasi Unit Desa (KUD) Jabung. Seiring perkembangan usaha, koperasi melakukan transformasi menjadi KAN Jabung dengan berbagai unit bisnis yang saling terhubung.

“Rantai nilai pertanian kami sudah terbangun cukup baik, mulai dari input produksi pertanian melalui Jab Farm, budidaya, pascapanen, pengolahan susu dan tebu, hingga pemasaran produk yang siap masuk ke pasar,” ujar Eva, saat menerima kunjungan OJK NTB dan Forum Wartawan Ekonomi NTB, Kamis 18 Juni 2026.

Menurutnya, penguatan permodalan koperasi dilakukan melalui penghimpunan dana masyarakat yang kemudian diberi status sebagai anggota luar biasa. Dana tersebut selanjutnya disalurkan kembali sebagai modal usaha bagi anggota koperasi.

Saat ini, KAN Jabung memiliki total anggota dan mitra sebanyak 55.927 orang, terdiri atas 2.041 peternak pada tahun 2025 serta ribuan anggota dan mitra yang bergerak di berbagai sektor usaha.

Di sektor pertanian, koperasi memiliki 91 anggota dan 157 mitra dengan total luas lahan anggota mencapai 1.247 hektare, sedangkan lahan mitra seluas 284 hektare.

Sementara pada sektor peternakan sapi perah, populasi ternak yang dikelola mencapai sekitar 7.900 ekor. Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan sebelum wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang mencapai 11.500 ekor.

“Sebelum PMK populasi sapi kami sekitar 11.500 ekor. Setelah PMK banyak sapi yang mati dan dijual sehingga banyak kandang kosong, khususnya di Pulau Jawa. Produktivitas sapi pasca-PMK juga belum kembali seperti sebelumnya,” katanya.

Dampak PMK juga memengaruhi peluang ekspor sapi yang sebelumnya pernah dilakukan ke Brunei Darussalam. Hingga saat ini, ekspor belum dapat dilakukan karena sejumlah wilayah masih berstatus terdampak PMK.

Dalam mendukung usaha peternakan, KAN Jabung mengembangkan unit usaha sarana produksi peternakan (sapronak). Sebagian bahan baku pakan masih dipasok dari sejumlah daerah, termasuk Nusa Tenggara Barat (NTB).

Eva menjelaskan sekitar 15 persen kebutuhan jagung dan turunannya diperoleh dari NTB. Dari total produksi pakan sekitar 1.500 ton per bulan, sebanyak 300 ton berasal dari jagung dan produk turunannya yang dipasok dari daerah tersebut.

Selain itu, koperasi juga mengembangkan produk olahan susu melalui merek Jab Milk MBG dan Jab Yogurt. Di sektor agroindustri tebu, KAN Jabung memiliki kapasitas pengolahan hingga 100 ton tebu per hari.

Berbagai unit usaha tersebut menghasilkan perputaran bisnis yang cukup besar. Sepanjang tahun, nilai transaksi usaha koperasi mencapai sekitar Rp400 miliar, dengan total aset mencapai Rp269 miliar.

“Untuk sisa hasil usaha (SHU) tahun lalu mencapai sekitar Rp5 miliar. Seluruh unit usaha kami juga menyerap sekitar 400 tenaga kerja,” ungkapnya.

Meski terus berkembang, Eva mengakui koperasi masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah rendahnya partisipasi sebagian anggota, terutama peternak dan petani yang tidak lagi menjadikan sektor tersebut sebagai sumber penghasilan utama.

Tantangan lainnya adalah regenerasi pelaku usaha pertanian dan peternakan serta masih adanya peternak yang memilih menjalankan usaha secara mandiri tanpa bergabung dengan koperasi.

“Partisipasi anggota menjadi tantangan terbesar. Selain itu, keberlanjutan generasi petani dan peternak juga perlu menjadi perhatian. Masih ada peternak yang memiliki usaha tetapi belum tertarik bergabung dengan koperasi,” kata Eva.

Menurutnya, penguatan kelembagaan dan peningkatan manfaat ekonomi bagi anggota menjadi kunci agar koperasi tetap mampu tumbuh dan berperan sebagai penggerak ekonomi masyarakat pedesaan di masa mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....