Dari Australia ke Lombok, Kain Pesujudan Berusia Seabad Jadi Koleksi Museum NTB
- 16 Sep 2026 14:54 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) menerima hibah kain pesujudan asal Bayan, Lombok Utara, yang berusia satu abad lebih dari seorang kolektor asal Australia, Michael Abbott. Kain tradisional yang diperkirakan dibuat antara 1875 hingga 1925 itu kini menjadi bagian dari koleksi Museum NTB.
Penyerahan kain dilakukan dalam rangkaian kegiatan di Australia, pada 12 September 2026, serta diberikan langsung kepada Wakil Gubernur NTB. Prosesi tersebut disaksikan Ketua DPRD NTB serta Ketua Dekranasda NTB.
Kepala Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB), Ahmad Nuralam, mengatakan pemberian tersebut menunjukkan adanya kepercayaan dari pihak pemberi kepada Museum NTB untuk menjaga dan merawat benda budaya tersebut.
“Beliau percaya bahwa kain ini akan dirawat dengan baik oleh Museum Negeri NTB. Beliau juga berpikir bahwa barang ini harus kembali ke tempat asalnya,” terangnya, Rabu 16 September 2026.
Menurut Nuralam, kembalinya kain pesujudan ke NTB tidak hanya berkaitan dengan penambahan koleksi Museum NTB. Proses tersebut juga menjadi bagian dari hubungan budaya antara Indonesia dan Australia.
Sementara itu, Pamong Budaya Madya Museum NTB, Bunyamin, menjelaskan kain tersebut memiliki panjang sekitar 163 sentimeter dengan lebar 40 sentimeter. Secara visual, kain didominasi motif figur manusia serta gambar yang menyerupai masjid atau pintu.
Motif manusia pada kain pesujudan tersebut menggambarkan beberapa posisi dalam pelaksanaan salat, mulai dari berdiri, rukuk hingga sujud. Karena karakter motif itulah kain tersebut dikenal sebagai kain pesujudan.
“Di dalamnya ada figur manusia yang menggambarkan posisi salat. Ada yang berdiri, ada yang rukuk, dan ada yang sujud,” jelas Bunyamin.
Selain figur manusia, terdapat pula motif perahu yang memiliki makna tersendiri dalam pemahaman masyarakat setempat. Perahu tersebut dikaitkan dengan perjalanan para penyebar Islam yang datang ke Lombok dari wilayah seberang.
Bunyamin menyebut keberadaan bentuk ketupat pada bagian perahu juga memiliki tafsir sebagai bekal dalam perjalanan. Makna-makna tersebut membuat kain pesujudan tidak sekadar memiliki fungsi praktis, tetapi juga merekam perjalanan sejarah dan kebudayaan masyarakat Lombok.
Pada awalnya, kain pesujudan digunakan sebagai alas untuk menjalankan ibadah. Seiring perkembangan Islam dan masyarakat adat, penggunaannya kemudian berkaitan dengan penghulu sebagai simbol status dan identitas tokoh adat maupun keagamaan.
“Di Bayan, penggunaan kain pesujudan oleh penghulu masih bertahan. Kalau di Sembalun, terakhir digunakan sekitar tahun 1980,” ucapnya.
Dalam perkembangan berikutnya, kain tersebut juga memiliki fungsi dalam sejumlah tradisi masyarakat. Di Bayan, misalnya, kain pesujudan pada masa lalu digunakan oleh mempelai laki-laki ketika akad sebagai simbol kesucian. Sementara di Sembalun, kain juga pernah digunakan untuk membungkus kitab ketika seorang tokoh agama menyampaikan pengajaran.

Bunyamin mengatakan kain pesujudan dibuat secara khusus dan tidak diproduksi secara massal. Proses pembuatannya secara tradisional menggunakan benang kapas yang dipintal sendiri serta pewarna alami.
Dengan tambahan hibah tersebut, koleksi kain pesujudan Museum NTB kini berjumlah 13 lembar. Sebelumnya museum memiliki 11 kain pesujudan dan telah menerima dua hibah.
Dari sisi konservasi, kain yang semula berwarna putih itu kini telah berubah menjadi kecokelatan karena faktor usia. Museum akan melakukan perawatan dengan menjaga sirkulasi udara, menghindarkan kain dari paparan sinar matahari langsung, serta menggunakan perlindungan terhadap serangga.
Bunyamin menyebut nilai kain tersebut tidak hanya dilihat dari bahan pembuatannya. Kelangkaan, usia, nilai sejarah, serta kedudukannya sebagai benda koleksi turut menjadi bagian dari nilai penting kain tersebut, terlebih karena produksinya sudah tidak berlangsung secara umum.
Museum NTB berencana menampilkan kain pesujudan tersebut dalam pameran temporer yang memiliki tema berkaitan. Informasi mengenai pihak yang menghibahkan kain juga akan dicantumkan sebagai bagian dari narasi koleksi.
Nuralam berharap hibah tersebut dapat menjadi contoh bagi masyarakat yang memiliki benda budaya tetapi kesulitan merawatnya agar mempertimbangkan museum sebagai tempat pelestarian. Dengan demikian, benda-benda budaya yang memiliki nilai sejarah dapat tetap terjaga dan dipelajari oleh generasi berikutnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....