Bukan Sekadar Kain, Wastra Nusantara Kini Jadi Jembatan Diplomasi Dunia
- 06 Jun 2026 16:28 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Lebih dari sekadar pakaian, Menbud Fadli Zon tegaskan Wastra Nusantara kini jadi instrumen diplomasi dunia dan penggerak ekonomi di Pameran Nusa Wastra 2026.
RRI.CO.ID, Mataram— Wastra atau kain tradisional Indonesia terbukti bukan lagi sekadar pelengkap upacara adat atau pakaian penutup tubuh. Di era modern, lembaran kain yang sarat akan nilai historis ini telah bertransformasi menjadi instrumen diplomasi budaya yang kuat di kancah internasional sekaligus motor penggerak ekonomi kreatif bangsa.
Hal tersebut ditegaskan oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, saat membuka secara resmi Pameran Nasional Nusa Wastra bertajuk "Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara" di Gedung Saraswati, Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, Jumat 5 Juni 2026, dalam keterangan persnya.
"Wastra adalah instrumen diplomasi budaya yang signifikan serta dapat mempererat hubungan dan kerja sama antar-bangsa," ujar Fadli Zon dalam sambutannya.
Langkah nyata diplomasi ini dibuktikan dengan penyerahan empat helai wastra karya desainer Edward Hutabarat pada tahun lalu untuk melengkapi ekshibisi budaya permanen Indonesia di Markas Besar UNESCO, Paris. Terlebih, sejak 2009, batik telah diakui dunia sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity oleh UNESCO.
Fadli Zon menambahkan bahwa industri berbasis wastra memiliki potensi raksasa. Selain mampu mendongkrak sektor pariwisata, kain tradisional kini menjadi hulu dari inovasi tren fesyen global yang pada akhirnya menopang ketahanan ekonomi nasional.
Salah satu bukti kekayaan wastra yang menarik perhatian dalam pameran ini adalah kehadiran Kain Osap yang dibawa oleh Museum Negeri NTB. Jika Yogyakarta mendunia dengan batiknya, masyarakat Sasak di Pulau Lombok memiliki Kain Osap—sebuah tenun ikat sakral yang sarat akan nilai spiritualitas tinggi.

Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam, menjelaskan bahwa Kain Osap memiliki kedudukan khusus dalam sistem kepercayaan adat Sasak, terutama sebagai penanda transisi kehidupan manusia menuju alam baka dalam ritual kematian.
"Kain Osap bukan sekadar pakaian, melainkan benda magis. Warna dasar putih melambangkan kesucian dan keikhlasan (husnul khotimah), yang dipadukan dengan warna merah dan biru sebagai simbol perlindungan serta kekuatan spiritual," jelas Nuralam.
Melalui pameran berskala nasional ini, Nuralam berharap identitas budaya Lombok tersebut dapat dikenal lebih luas dan sejajar dengan wastra-wastra tersohor lainnya di Indonesia.
Pameran Nusa Wastra 2026 yang berlangsung dari 5 Juni hingga 29 Juli 2026 ini mengolaborasikan tradisi, seni, dan teknologi modern untuk memberikan pengalaman edukatif yang interaktif bagi pengunjung.
Sebanyak 85 koleksi wastra, mulai dari kain kulit kayu (bark cloth), batik, hingga tenun ikat—serta 22 benda penunjang dipamerkan di sini. Acara ini didukung penuh oleh sinergi 40 partisipan museum dari berbagai penjuru Indonesia, mulai dari Museum Aceh, Museum Sriwijaya, Museum Ronggowarsito, hingga Museum Negeri Provinsi Papua.
Melalui narasi yang terbagi dalam 7 subtema—termasuk 'Kain-Kain Magis' dan 'Wastra Nusantara: Warisan untuk Masa Depan', pameran ini mengirimkan pesan kuat: bahwa kain-kain Nusantara adalah mahakarya masa lalu yang siap menggerakkan masa depan bangsa di panggung dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....