Pelabuhan Ampenan Gerbang Pertukaran Budaya, Pengaruhi Motif Tenun Lombok
- 29 Jul 2026 16:25 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Jauh sebelum era globalisasi, Pulau Lombok telah menjadi bagian dari jalur perdagangan internasional. Salah satu buktinya adalah ramainya aktivitas di Pelabuhan Ampenan yang pada abad ke-19 menjadi tempat singgah kapal-kapal dari berbagai negara. Peran pelabuhan bersejarah tersebut menjadi salah satu pembahasan menarik dalam Program Berugak Kita Pro 4 RRI Mataram, menghadirkan Kurator Seni Asia Tenggara asal Australia Dr. James Bennett dan Kepala Museum Negeri Nusa Tenggara Barat Dr. Ahmad Nur Alam.
Dalam kesepatan tersebut, Dr. James Bennett menjelaskan bahwa posisi strategis Ampenan menjadikan Lombok sebagai titik persinggahan penting bagi kapal-kapal yang berlayar menuju Australia. Menurutnya, setelah Australia mulai menjadi koloni Inggris pada akhir abad ke-18, banyak kapal dari Eropa yang membutuhkan pelabuhan untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan pelayaran ke selatan.
"Pada abad ke-19 Ampenan menjadi salah satu pelabuhan yang sangat besar. Kapal-kapal Inggris yang menuju Australia harus singgah untuk mencari bekal dan kebutuhan lainnya," ujar Bennett.
Ramainya lalu lintas pelayaran itu, lanjut Bennett, bukan hanya membawa komoditas perdagangan, tetapi juga menghadirkan pertukaran pengetahuan, seni, dan budaya. Berbagai benda, gambar, hingga cerita dari luar negeri ikut masuk melalui para pelaut dan pedagang yang singgah di Lombok. Dari proses itulah masyarakat lokal mulai mengenal berbagai bentuk visual baru yang kemudian diadaptasi ke dalam karya seni, termasuk motif pada kain tenun tradisional.
Salah satu contohnya adalah ditemukannya motif burung kecapi (Lyrebird), burung endemik Australia, pada selembar kain songket Lombok Timur yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-19. Dr. James Bennett meyakini motif tersebut berasal dari ilustrasi yang dibawa para pelaut atau pedagang asing. Menariknya, ilustrasi itu bukan gambar asli burung yang dilihat secara langsung, melainkan gambar yang dibuat berdasarkan imajinasi ilustrator Eropa pada masa itu.
"Kami bisa memperkirakan waktunya karena motif pada kain mengikuti kesalahan ilustrasi yang beredar sekitar tahun 1850-an," jelasnya.
Kepala Museum Negeri NTB, Dr. Ahmad Nur Alam, mengatakan temuan tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Lombok telah lama berinteraksi dengan dunia luar. Menurutnya, hubungan tersebut tidak selalu berbentuk perdagangan barang, tetapi juga pertukaran ide dan inspirasi yang kemudian diwujudkan dalam karya budaya masyarakat.
"Ini menunjukkan bahwa para pengrajin Lombok sudah memiliki koneksi dengan dunia internasional sejak hampir 200 tahun lalu. Pengaruh itu kemudian diterjemahkan menjadi motif-motif yang memperkaya khasanah tenun Lombok," katanya.
Nur Alam menambahkan, penelitian seperti ini mengubah cara pandang terhadap koleksi museum. Kain tradisional tidak lagi dipahami hanya sebagai benda warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber informasi sejarah yang mampu menjelaskan perjalanan masyarakat pada masa lampau. Setiap motif memiliki cerita, setiap ornamen menyimpan jejak peradaban, dan setiap helai kain dapat menjadi petunjuk tentang hubungan Lombok dengan berbagai bangsa di dunia.
Melalui buku Two Islands One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collection, kisah-kisah yang selama ini tersimpan di balik koleksi museum kini terdokumentasikan secara ilmiah. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa Pelabuhan Ampenan bukan sekadar pusat perdagangan pada masanya, tetapi juga menjadi gerbang pertukaran budaya yang turut membentuk identitas wastra Lombok. Temuan ini sekaligus memperkaya pemahaman bahwa sejarah Lombok tidak dapat dipisahkan dari dinamika hubungan internasional yang telah berlangsung sejak berabad-abad lalu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....