Wajah Baru Masjid Kuno Bayan Beleq: Pagar Kokoh dan Tradisi yang Lestari
- 04 Jun 2026 13:37 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Masjid Kuno Bayan Beleq tampil menawan dengan pagar baru pasca-pemugaran. Simak aturan berkunjung, sejarah abad ke-16, dan kewajiban kain adat Sasak di sini.
RRI.CO.ID, Mataram - Pesona wisata sejarah dan religi di paku bumi Pulau Lombok, Masjid Kuno Bayan Beleq, kini tampil semakin menawan. Setelah merampungkan proses pemugaran beberapa bulan lalu, situs yang secara administratif berada di Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara ini resmi menyapa wisatawan dengan wajah baru yang lebih tertata rapi.
Perubahan yang paling mencolok terlihat pada area pembatas luar. Kompleks rumah ibadah bersejarah ini sekarang dikelilingi oleh pagar baru yang kokoh, namun tetap mempertahankan estetika tradisional yang menyatu dengan alam sekitar.
Langkah pembenahan ini diambil demi menjaga kelestarian area cagar budaya yang dilindungi oleh Undang-Undang RI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, sebagaimana tertera pada papan penyambung situs di lokasi.
Menelusuri Jejak Islam Pertama di "Gumi Nina"
Berdasarkan dokumentasi sejarah di area kompleks, masyarakat lokal lebih akrab menyebut tempat ini dengan nama Mesigit Beleq. Situs ikonik yang berdiri di atas perbukitan kecil ini merupakan bukti sejarah penting dari penyebaran Agama Islam pertama di Bumi Lombok (Gumi Nina) pada abad ke-16.

Ajaran suci tersebut diyakini dibawa oleh Sunan Prapen, putra dari Sunan Giri, yang mendarat melalui Labuan Carik saat mengemban tugas menyebarkan Islam di kawasan timur Indonesia. Di sekeliling bangunan utama masjid, terdapat makam-makam para leluhur masyarakat Bayan yang dulunya merupakan pemeluk dan penerus awal ajaran tersebut.
Keunikan arsitektur Mesigit Beleq ini juga sangat memikat mata. Bangunan utamanya berukuran 9 x 9 meter dengan menggunakan bahan lokal terbuat dari bambu. Keunikan struktur dalamnya ditopang oleh 4 pilar atau tiang utama sebagai penyangga, dikelilingi dinding berukuran 1 meter, serta hanya memiliki satu pintu masuk yang menghadap ke sebelah timur.
Hingga saat ini, masjid kuno masih aktif menjadi pusat acara keagamaan adat seperti ritual Lebaran dan Maulid. Menariknya, proses perbaikan atau renovasi fisik bangunan masjid terikat oleh hukum adat yang ketat, yakni hanya dilakukan dalam kurun waktu 8 tahun sekali mengikuti siklus tahun adat dan dilaksanakan pada tahun pertama, yaitu tahun Alif.
Aturan Ketat Demi Menjaga Sakralnya Situs
Sebagai kawasan yang sakral, pihak pengelola menerapkan sejumlah regulasi bagi setiap pelancong yang datang berkunjung. Sesuai dengan papan maklumat aturan pengunjung yang terpasang di area masuk, berikut adalah tata tertib yang wajib dipatuhi:
- Wajib Menggunakan Pakaian Adat/Kain: Setiap pengunjung diwajibkan mengenakan kain adat Sasak sebelum melangkahkan kaki ke dalam kompleks utama masjid. Bagi Anda yang tidak membawa kain pribadi, pengelola menyediakan jasa sewa kain adat di lokasi dengan tarif yang sangat terjangkau, yakni Rp10.000 per kain.
- Larangan bagi Perempuan Haid: Demi menjaga kesucian tempat ibadah, perempuan yang sedang dalam masa menstruasi dilarang keras untuk memasuki area dalam kompleks masjid.
- Wajib Izin dan Mengisi Buku Tamu: Sebelum mengeksplorasi area, pengunjung diharuskan meminta izin kepada petugas yang berjaga serta mengisi buku tamu secara tertib.
- Menjaga Kebersihan Lingkungan: Wisatawan berkomitmen penuh untuk tidak mengotori atau membuang sampah sembarangan di seluruh penjuru situs sejarah ini.
- Larangan Membawa Makanan/Minuman: Pengunjung dilarang keras membawa makanan ataupun minuman ke dalam area inti situs untuk menghindari potensi sampah dan menjaga kekhidmatan tempat.

Selain biaya sewa kain, pengunjung juga diimbau untuk memberikan donasi seikhlasnya di kotak dana yang tersedia. Tidak ada nominal minimal yang dipatok, karena sumbangan sukarela ini sepenuhnya akan dialokasikan untuk pemeliharaan rutin, kebersihan, serta biaya perawatan jangka panjang kompleks cagar budaya berharga ini.
Menikmati senja di area Masjid Kuno Bayan Beleq yang kini berpagar rapi tak sekadar memberikan kepuasan visual, melainkan juga menghantarkan refleksi spiritual yang mendalam atas warisan leluhur yang tetap teguh melintasi zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....