Songket Lombok, Simpan Bukti Hubungan Internasional Hampir 200 Tahun Lalu

  • 29 Jul 2026 16:28 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Tenun NTB
  • Buku Two Islands One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collection
  • NTB Mendunia
  • SEJARAH TENUN NTB

RRI.CO.ID, Mataram - Selembar kain songket ternyata mampu menyimpan kisah perjalanan sejarah yang melintasi batas negara. Temuan tersebut menjadi salah satu pembahasan menarik dalam Program Berugak Kita Pro 4 RRI Mataram yang, menghadirkan Kurator Seni Asia Tenggara asal Australia Dr. James Bennett dan Kepala Museum Negeri Nusa Tenggara Barat Dr. Ahmad Nur Alam.

Melalui penelitian yang berlangsung selama tiga tahun, keduanya mengungkap bahwa motif pada salah satu koleksi songket Lombok menjadi bukti adanya hubungan budaya dan perdagangan internasional sejak hampir dua abad silam.

Dr. James Bennett menjelaskan bahwa penelitian terhadap koleksi kain di Museum Negeri NTB membuka banyak fakta baru yang sebelumnya belum pernah terungkap. Salah satunya adalah ditemukannya motif burung kecapi (Lyrebird), burung endemik Australia, pada kain songket yang diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19. Temuan tersebut menunjukkan bahwa para penenun Lombok pada masa itu telah mengenal bentuk burung yang bahkan tidak hidup di Pulau Lombok maupun wilayah Nusantara.

"Pertanyaannya, bagaimana burung itu bisa menjadi motif tenun di Lombok Timur? Berarti ada seseorang yang membawa gambar atau ilustrasi burung tersebut kepada para penenun," ujar Bennett.

Menurutnya, kemungkinan besar gambar itu dibawa oleh pelaut, pedagang, atau orang-orang yang singgah di Pelabuhan Ampenan yang pada masa itu menjadi salah satu pelabuhan penting di kawasan timur Nusantara.

Bennett menjelaskan bahwa pada abad ke-19, kapal-kapal dari Inggris yang berlayar menuju Australia kerap singgah di berbagai pelabuhan di Indonesia untuk mengisi perbekalan, termasuk di Ampenan, Lombok. Jalur pelayaran tersebut bukan hanya membawa barang dagangan, tetapi juga mempertemukan berbagai kebudayaan.

"Pada abad ke-19 Ampenan merupakan pelabuhan yang sangat ramai. Kapal-kapal yang menuju Australia sering singgah di sana. Dari situlah kemungkinan terjadi pertukaran pengetahuan, termasuk gambar-gambar yang kemudian menginspirasi para penenun," jelasnya.

Kepala Museum Negeri NTB, Dr. Ahmad Nur Alam, menilai temuan itu menjadi bukti bahwa masyarakat Lombok sejak dahulu bukanlah komunitas yang terisolasi. Sebaliknya, para pengrajin tenun telah berinteraksi dengan pengaruh budaya dari berbagai belahan dunia dan mengolahnya menjadi bagian dari karya seni lokal.

"Ini menunjukkan bahwa masyarakat Lombok sudah memiliki koneksi dengan dunia internasional sekitar 200 tahun yang lalu. Pengrajin kita menerima inspirasi dari luar, tetapi kemudian mengolahnya menjadi motif khas dalam songket Lombok," katanya.

Menurut Ahmad Nur Alam, penemuan tersebut juga mengubah cara pandang terhadap koleksi museum. Kain tradisional tidak lagi dipahami hanya sebagai benda budaya, tetapi juga sebagai dokumen sejarah yang merekam perjalanan perdagangan, pertukaran pengetahuan, hingga hubungan antarbangsa. Setiap motif yang ditenun menyimpan cerita yang dapat mengungkap kehidupan masyarakat pada zamannya apabila diteliti secara mendalam.

Melalui penelitian yang dituangkan dalam buku Two Islands One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collection, kisah-kisah yang selama ini hanya tersimpan dalam koleksi museum kini dapat diketahui masyarakat luas. Temuan mengenai motif burung kecapi menjadi pengingat bahwa selembar kain bukan sekadar hasil karya seni, melainkan juga saksi perjalanan panjang hubungan budaya antara Lombok dan dunia internasional yang telah terjalin sejak ratusan tahun lalu.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....