Tiga Tahun Menyusun Jejak Wastra Lombok untuk Dunia

  • 29 Jul 2026 16:37 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Tenun NTB
  • Buku Two Islands One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collection
  • NTB Mendunia

RRI.CO.ID, Mataram - Kekayaan wastra Lombok kembali mendapat perhatian dunia melalui peluncuran buku Two Islands One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collection. Kisah di balik penyusunan buku tersebut terungkap dalam program Berugak Kita Pro 4 RRI Mataram. Dalam perbincangan tersebut, Kurator Seni Asia Tenggara asal Australia, Dr. James Bennett, bersama Kepala Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, Dr. Ahmad Nur Alam, berbagi cerita mengenai proses panjang penyusunan buku yang menjadi salah satu referensi internasional tentang kain tradisional Lombok.

Dr. James Bennett mengungkapkan bahwa penyusunan buku tersebut memerlukan waktu sekitar tiga tahun. Selama proses itu, ia bersama tim peneliti bekerja sama erat dengan Museum Negeri NTB serta sejumlah penulis lokal yang memiliki pemahaman mendalam mengenai sejarah dan perkembangan wastra Lombok.

"Kita mulai tiga tahun yang lalu dengan dukungan teman-teman di Lombok. Kami bekerja sama dengan Museum Negeri NTB, dan beberapa staf museum juga ikut menulis dalam buku ini," ungkapnya.

Ketika pertama kali diminta menyusun buku mengenai koleksi kain Lombok milik kolektor Michael Abbott, Bennett justru berpandangan bahwa sudah saatnya masyarakat Indonesia menjadi penulis utama sejarah budayanya sendiri.

"Kalau zaman dulu orang asing menulis tentang kain Indonesia mungkin sudah biasa. Tetapi sekarang, seharusnya ada orang Indonesia yang ikut menulis tentang kain Indonesia," katanya.

Prinsip tersebut kemudian diwujudkan dengan melibatkan akademisi, peneliti, hingga pemerhati budaya dari Lombok sebagai kontributor utama.

Kolaborasi itu disambut antusias oleh Museum Negeri NTB. Kepala Museum Negeri NTB, Dr. Ahmad Nur Alam, mengatakan pihaknya langsung menyatakan kesiapan untuk mendukung penuh penelitian tersebut.

"Kami all out membantu karena salah satu persoalan besar di Nusa Tenggara Barat adalah masih minimnya literasi kebudayaan, terutama yang dapat diakses oleh masyarakat internasional," ujarnya dalam dialog Berugak Kita.

Menurut Ahmad Nur Alam, keberadaan buku ini menjadi tonggak penting karena selama ini belum banyak literatur internasional yang secara khusus mengulas kain tradisional Lombok. Publikasi tersebut diharapkan menjadi referensi bagi akademisi, museum, peneliti, hingga masyarakat dunia yang ingin memahami sejarah dan filosofi tenun masyarakat Sasak.

"Setahu kami, belum ada literatur internasional yang secara khusus membahas kain Lombok seperti buku ini," katanya.

Selain menghasilkan sebuah karya ilmiah, proyek ini juga menjadi simbol eratnya hubungan budaya Indonesia dan Australia. Para penulis berasal dari Indonesia, Australia, Jepang, Inggris, hingga Amerika Serikat. Meski demikian, Bennett menegaskan bahwa narasi utama tetap berasal dari penulis lokal agar cerita yang tersaji benar-benar lahir dari pengalaman masyarakat Lombok sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....