Potensi Lokal ke Panggung Global Tema Workshop Taman Budaya NTB

  • 13 Mei 2026 15:47 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Taman Budaya Nusa Tenggara Barat, Dinas Kebudayaan NTB menggelar Workshop Seni Pertunjukan bertema Mengangkat Potensi Lokal ke Panggung Global. Workshop dibuka Kepala Taman Budaya NTB Lalu Suryadi Mulawarman, S.Sn., MM., Rabu 13 Mei 2026 di Taman Budaya NTB.

Suryadi Mulawarman mengatakan, peserta workshop bisa bertanya lebih spesifik ketika di kelas workshop kepada dua orang pemateri. Praktik akan berlangsung dengan baik ketika diimbangi keberanian peserta untuk melakukan praktik.

“Ketakutan perserta itu wajar karena perlu 5-6 tahun belajar di perguruan tinggi untuk bisa punya kemampuan seperti kedua orang pemateri workshop. Namun, intinya, lewat 3 atau 4 hari ini, peserta sudah punya keberuntungan mendapat materi berdasar pengalaman dari pemateri. Untuk itu pula, Taman Budaya menghadirkan Pak Ary, dan Pak Alfiyanto ke Mataram,” katanya.

Pemateri workshop, antara lain, I Wayan Ary Wijaya, S.Sn., Founder Palawara Music Company (Seni Musik), dan Dr. Alfiyanto, M.Sn., Seniman Tari Kontemporer dari ISBI Bandung (Seni Tari). Sementara, peserta workshop diantaranya, koreografer, penata musik serta perwakilan pemilik atau pengelola sanggar tari di NTB. Workshop berlangsung 13-15 Mei 2026, diteruskan Pentas Tari dan Musik (16 Mei 2026).

“Video kisah sebagai Kepala Taman Budaya pun bisa menjadi materi menghadirkan musik. Kisah itu bisa menggunakan metafora atau bayangan. Musiknya memiliki gaya, tempo, dan motif,” kata Ary di tengah pemaparannya.

Ari mengatakan, pentingnya pengalaman ketika akan mengeksekusi musik di dalam video. Pengalaman juga menjadi filter menargetkan kemampuan meyinkronkan musik dengan gerak. Dalam konteks ini, penata musik tidak boleh egois supaya tetap memiliki tujuan musik ikut menyampaikan pesan kepada audiens.

Ari mengatakan, tempo sama dengan napas. Mengukur ketukan menggunakan desibel karena tari adalah ekspresi, dan gerak. Lantas, musik mengiringi hentakan kaki, gerakan tangan, dan tubuh penari. Musik kemudian menghadirkan suasana melalui alunan musik modern, tradisi, atau kolaborasi antara musik tradisi dan modern.

“Scoring seperti gambar lautan, musik yang digunakan bisa koor (Paduan suara). Pemilihannya bukan karena rekaan, tapi hasil menafsirkan. Tempo, dinamika, melodi milik komposer dan player,” kata Ary.

Untuk memulai, kata Ary, mahasiswa menghadirkan musik modern sebagai bukti pencapaian sekaligus memenuhi panggilan industri. Dimulai dari nuansa yang asyik. Pun menghadirkan gending, gendang beleq, gong untuk mendapatkan vibrasi. Tujuannya, menghasilkan sesuatu yang baru.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....