Workshop Taman Budaya NTB, Musik Sebagai Kekuatan Seni Pertunjukan
- 13 Mei 2026 12:37 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Ide menghadirkan musik di seni pertunjukan, bisa berangkat dari keinginan seniman atau didorong pula oleh pesanan klien. Meski demikian, proses penciptaan musik tetap mengedepankan rasa.
Selain tentang ide yang murni atau pesanan, pengertian ide menghadirkan permainan alat musik di seni pertunjukan, mengarah kepada upaya menirukan suasana alam, mengungkapkan rasa keindahan, maupun menggambarkan kejiawaan seseorang. Sehingga, bagi penata musik dan musisi, perlu lebih dulu melihat benda (misalnya, artefak), membaca deskripsi sejarah yang semua itu bisa menjadi modal dan membantu pengungkapan sesuatu lewat musik dari penata dan musisi. Misalnya, ungkapan rasa keindahan dari sebuah tarian.
Pendapat itu dikemukakan, I Wayan Ary Wijaya, Founder Palawara Music Company (Seni Musik), di Workshop Seni Pertunjukan Swara Loka Karsa bertema Mengangkat Potensi Lokal ke Panggung Global. Workshop berlangsung Rabu, 13 Mei 2026 di Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Video kisah sebagai Kepala Taman Budaya bisa menjadi materi menghadirkan musik. Kisah itu bisa menggunakan metafora atau bayangan. Musiknya memiliki gaya, tempo, dan motif,” kata Ary.
Ary menjadi pemateri workshop yang dilaksanakan Taman Budaya NTB, Dinas Kebudayaan NTB. Selain Ary, pemateri lainnya Dr. Alfiyanto, Seniman Tari Kontemporer dari ISBI Bandung (Seni Tari). Peserta workshop terdiri dari, koreografer, penata musik serta perwakilan pemilik atau pengelola sanggar tari di NTB. Workshop berlangsung 13-15 Mei 2026, diteruskan Pentas Tari dan Musik (16 Mei 2026).
Di dalam pemaparannya, Ari mengatakan, pentingnya pengalaman ketika akan mengeksekusi musik di dalam video. Pengalaman juga menjadi filter menargetkan kemampuan meyinkronkan musik dengan gerak. Dalam konteks ini, penata musik tidak boleh egois supaya tetap memiliki tujuan musik ikut menyampaikan pesan kepada audiens.
Ari mengatakan, tempo sama dengan napas. Mengukur ketukan menggunakan desibel karena tari adalah ekspresi, dan gerak. Lantas, musik mengiringi hentakan kaki, gerakan tangan, dan tubuh penari. Musik kemudian menghadirkan suasana melalui alunan musik modern, tradisi, atau kolaborasi antara musik tradisi dan modern.
“Scoring seperti gambar lautan, musik yang digunakan bisa koor (Paduan suara). Pemilihannya bukan karena rekaan, tapi hasil menafsirkan. Tempo, dinamika, melodi milik komposer dan player,” kata Ary.
Untuk memulai, kata Ary, mahasiswa menghadirkan musik modern sebagai bukti pencapaian sekaligus memenuhi panggilan industri. Dimulai dari nuansa yang asyik menghadirkan gending, gendang beleq, gong untuk mendapatkan vibrasi. Tujuannya, menghasilkan sesuatu yang baru.
Suryadi Mulawarman, Kepala Taman Budaya NTB mengatakan, peserta workshop bisa bertanya lebih spesifik ketika di kelas workshop kepada dua orang pemateri. Praktik akan berlangsung dengan baik ketika diimbangi keberanian peserta untuk melakukan praktik.
“Ketakutan itu wajar karena perlu 5-6 tahun di perguruan tinggi untuk bisa memiliki kemampuan seperti kedua orang pemateri workshop. Namun, pada intinya, lewat 3 atau 4 hari ini peserta sudah punya keberuntungan mendapat materi pengalaman dari narasumber. Untuk itu pula, Taman Budaya menghadirkan Pak Ary, dan Pak Alfiyanto ke Mataram,” kata Suryadi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....